More
    Home Blog

    Belajar Mencintai Tuhan

    0
    belajar mencintai tuhan

    Materi mengenai belajar mencintai Tuhan ini dibahas oleh seorang Raja yang saleh dan suci yaitu Prahlada Maharaja. Prahlada Maharaja memberikan pernyataan lebih lanjut tentang rumitnya kehidupan material. Ia membandingkan ulat sutera dengan orang yang berumah tangga yang larut dalam keterikatan. Ulat sutera membungkus dirinya di dalam sebuah kepompong yang terbuat dari ludahnya sendiri, sampai ia berada dalam sebuah penjara yang membuat dirinya tidak bisa lolos.

    belajar mencintai tuhan

    Dengan cara yang sama, ikatan orang yang materialistik demikian eratnya hingga ia tidak bisa keluar dari kepompong berupa ikatan material. Kendati ada banyak sekali penderitaan dalam kehidupan amterialistik itu, ia tidak mau melepaskan diri. Mengapa demikian? Karena kurangnya pengetahuannya tentang hidup setelah mati dan akibat dari setiap perbuatannya, ia mengira bahwa kenikmatan material adalah hal yang paling penting dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, walau ada begitu banyak penderitaan, ia tidak dapat meninggalkannya.

    Dengan cara demikian, bila seseorang terlalu larut dalam kehidupan yang materialistik, ia tidak dapat memikirkan kepentingan sejatinya – meloloskan diri dari penderitaan material. Walaupun ia selalu diganggu oleh tiga jenis penderitaan kehidupan yang materialistik, tetap saja, disebabkan oleh rasa keterikatan yang palsu, ia tidak bisa keluar. Ia tidak tahu dirinya sedang menyia-nyiakan hidup yang dimaksud untuk menginsafi identitas dirinya yang kekal, jati diri dan kehidupannya yang sejati.

    “Oleh karena itu,” Prahlada berkata kepada teman-temannya kaum asura, “Teman-teman, cobalah bergaul dengan orang-orang yang sudah menjalani kesadaran rohani dan insaf akan diri yang sejati.” Itulah nasihat Prahlada. Ia mengatakan kepada teman-temannya bahwa kesadaran Tuhan mudah dicapai. Mengapa? Sebenarnya kita sangat mencintai Tuhan, tapi kita telah melupakan-Nya. Oleh karena itu, orang yang menjalani kesadaran rohani ini semakin merasakan manfaatnya dan melupakan kesadaran materialnya yang bersifat sementara dan sekejap saja.

    Setiap orang memiliki hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah dilupakannya sejak berjuta-juta kelahiran terdahulu. Tapi seiring dengan kemajuan kesadaran rohani kita, perlahan-lahan kesadaran lama kita mengenai hubungan kita dengan Tuhan dibangkitkan. Ketika kesdaran kita benar-benar berada pada tataran yang jernih, kita dapat mengerti hubungan khusus kita dengan Tuhan Sri Krishna. 

    Orang barangkali memiliki hubungan dengan Tuhan sebagai putra atau abdi, atau sebagai kawan, sebagai orang tua, atau sebagai istri atau kekasih tercinta. Semua hubungan ini tercermin secara terputar-balik dalam kehidupan di dunia material. Akan tetapi, begitu kita sampai pada tataran kesdaran rohani, hubungan lama kita dengan Tuhan dibangkitkan.

    Kita cenderung mencintai – semua orang demikian. Pertama-tama saya mencintai badan saya sebab diri saya berada dalam badan ini. Jadi, sebenarnya saya mencintai diri saya lebih dari mencintai badan saya. Namun, diri saya itu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan sebab atma adalah bagian tak terpisahkan dari-Nya. Oleh karena itu saya sesungguhnya mencintai Tuhan lebih dari segalanya. Oleh karena Tuhan memiliki sifat mahameluas atau berada di mana-mana, saya juga mencintai segala sesuatu. Inilah konsep dasar belajar mencintai Tuhan.

    Tapi sayangnya, kita lupa bahwa Tuhan berada di mana-mana. Ingatan ini harus dibangkitkan. Begitu kita membangkitkan kembali kesadaran rohani kita, kita dapat melihat segala sesuatu dalam hubungan dengan Tuhan, maka kita pasti mencintai segala sesuatu.

    Contohnya, saya mencintai Anda dan Anda mencintai saya. Tapi, cinta tersebut berada pada tataran badan yang bersifat sementara ini. Apabila cinta saya kepada Tuhan berkembang, saya akan mencintai bukan hanya Anda melainkan juga semua makhluk hidup sebab julukan luar ini, badan, akan terlupakan. Ketika seseorang menjadi sadar akan Tuhan sepenuhnya, ia tidak berpikir seperti ini, “Ini manusia, ini binatang, ini kucing, ini anjing, ini cacing.” Ia melihat semuanya sebagai bagian tak terpisahkan dari Tuhan.  Hal ini dijelaskan dalam Veda Bhagavad-gita: “Orang yang sudah benar-benar terpelajar dalam kesadaran rohani menjadi orang yang mencintai semua makhluk hidup di alam semesta ini.” Sebelum orang mantap dalam tataran kesadaran rohani tidak ada soal persaudaraan universal. 

    Jika kita benar-benar ingin belajar mencintai Tuhan dan menerapkan pemikiran tentang persaudaraan universal, maka kita harus sampai pada tataran kesadaran rohani, bukan kesadaran yang bersifat material. Selama kita berada dalam kesadaran material, obyek-obyek cinta kita akan terbatas. Akan tetapi, apabila kita benar-benar dalam kesadaran rohani, obyek-obyek cinta kita akan bersifat universal.

    Hal ini dinyatakan oleh Prahlada Maharaja: “Mulai dari tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa berpindah tempat sampai makhluk hidup tertinggi, Brahma, Tuhan hadir di dalam segala sesuatu melalui perbanyakan-Nya sebagai Paramatma, aspek Tuhan yang bersemayam di hati setiap makhluk. Begitu kita sadar akan Tuhan, perbanyakan-Nya yang disebut Paramatma, mendorong kita untuk mencapai setiap obyek dalam hubungan dengan diri-Nya.”

    Karunia yang Sempurna

    Prahlada Maharaja kemudian menyampaikan keseimpulannya mengenai bagaimana cara kita belajar mencintai Tuhan, “Teman-temanku yang baik, oleh karena Tuhan ada di mana-mana dan karena kita merupakan bagian tak terpisahkan dari Tuhan, tugas kita adalah berkarunia kepada semua makhluk hidup.”

    Apabila seseorang yang berkedudukan di bawah kita, kita wajib membantu orang itu. Sebagai contoh, oleh karena keadaan seorang anak kecil tidak berdaya, ia bergantung pada kasih sayang orang tuanya: “Ibu, saya ingin ini.” “Ya , anaku sayang.” Kita hendaknya bermurah hati dan berkarunia kepada semua makhluk.

    Bagiamana cara kita dapat berkarunia kepada semua orang? Ada jutaan orang miskin, jadi bagaimana cara kita berkarunia kepada mereka semua? Mampukah kita menyediakan paaian dan makanan bagi semua orang yang kekurangan di dunia ini? Itu tidak mungkin. Lalu, bagaimana cara kita dapat berkarunia kepada semua makhluk hidup? Dengan memberi mereka kesadaran rohani.

    Itulah cara Prahlada Maharaja memberikan karunia sejati kepada teman-teman sekelasnya. Semua temannya itu bodoh, tidak tahu tentang kesadaran rohani, dan oleh karena itu Prahlada Maharaja memperlihatkan kepada mereka bagaimana agar menjadi sadar secara rohani. Ini adalah karunia tertinggi. Jika Anda benar-benar ingin berkarunia kepada semua makhluk hidup, maka beri mereka pencerahan dalam kesadaran rohani, seperti yang dilakukan Prahlada Maharaja. Jika tidak demikian, secara material adalah di luar kemampuan Anda untuk berbelas kasih kepada semua makhluk hidup.

    “Teman-temanku yang baik,” Prahlada berkata, “tinggalkan kehidupan jahat ini. Tinggalkanlah semua hal yang bukan-bukan ini.” Prahlada Maharaja meminta teman-temannya untuk meninggalkan aspek jahat yakni kepercayaan bahwa tuhan itu tidak ada dan mulai belajar mencintai Tuhan. Oleh karena mereka lahir dalam keluarga para raksasa dan diajari oleh guru raksasa, teman-teman Prahlada berpikir, “Siapa itu Tuhan? Tuhan itu tidak ada.” Kita menemukan dalam Veda Bahgavad-gita bahwa orang yang memiliki mentalitas seperti ini disebut orang jahat, sebab mereka selalu berusaha berbuat jahat. Demikian pula, orang yang materialistik bekerja sangat keras hanya demi kepuasan indria yang remeh. Oleh karena itu, mereka dibandingkan dengan keledai yang bekerja sepanjang hari mengangkut beban ini hanya demi seikat rumput.

    Prahlada Maharaja meminta kepada teman-temannya kaum asura agar mereka mulai belajar mencintai Tuhan dan meninggalkan pemikiran bahwa Tuhan tidak ada. Jika kita meninggalkan pemikiran yang bukan-bukan ini, maka Tuhan Yang Maha Esa, yang berada melampaui persepsi kita, akan puas dan berkarunia kepada kita.

    Bumi, Tempat Kebahagiaan Sementara di Mrtyu Loka

    0
    bumi

    Planet bumi tempat dimana manusia dan segenap mahluk hidup yang lain tinggal bersama berdampingan menyediakan fasilitas yang cukup untuk menunjang hidup dan kehidupan, tersedia beragam keindahan, kesejukan, kehangatan, kemakmuran, kesejahteraan dan seterusnya yang bermuara kepada kebahagiaan material yang dapat dirasakan oleh seluruh penghuninya walau itu bersifat non-permanen.

    Dengan tersedianya kebutuhan yang cukup seperti diatas manusia kadang-kadang dipaksa untuk merenung tentang betapa menakjubkannya kebesaran dan kemahakuasaan sang pencipta, mestinya demikianlah yang dirasakan sepanjang masa oleh semua mahluk. Sebenarnya manusia diwajibkan hanya untuk menciptakan keharmonisan dan menjaga kelestariannya saja demi kelangsungan hidup generasi berikutnya tanpa harus susah-susah memodifikasi alam agar nampak lebih indah menurut selera manusia itu sendiri apalagi mengexploitasinya  secara berlebihan demi keuntungan sesaat. Namun karena ego dan keserakahan manusia itu kadang-kadang tanpa kendali tidak puas sampai disitu, manusia masih terus menciptakan kreasi-kreasi baru membangun sarana-prasarana atas nama ekonomi dan kesejahteraan,  bumi, hutan, gunung-gunung dan lain-lain dibongkar untuk industri yang tidak jarang mengabaikan persyaratan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

    bumi

    Industri hiburan modern dibangun dengan dukungan fasilitas teknologi dan biaya tinggi dengan tujuan bisnis dan kebahagiaan semu menurut versi badaniah. Jika manusia mengalami masalah akibat tuntutan hidup yang semakin tinggi, tekanan pekerjaan, tekanan sosial ekonomi dan sebagainya mereka cendrung mencari tempat-tempat hiburan itu dengan harapan menemukan kedamaian dan kebahagiaan disana.

    Mungkin saja kebahagiaan sesaat dia dapatkan namun begitu mereka kembali pulang semua yang dia dambakan hilang berlalu bersama angin dan akhirnya stress kembali muncul meguasai dirinya, begitulah terus-menerus menyelimuti kehidupan manusia modern sepanjang masa.

    Ternyata dibalik kebahagiaan yang bersifat temporer itu ada penderitaan yang setara dengan kebahagiaan itu bahkan lebih dasyat, nah dari sini sebenarnya sudah dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki tidaklah ada di dunia material ini.

    Kitab Suci Agama Hindu, Veda Srimad Bhagavatam dengan tegas menjelaskan bahwa dari planet Satya Loka (kediaman Dewa Brahma) sampai dengan planet yang paling bawah merupakan dunia kematian atau kegelapan (Mrtyu Loka).  Didalam Mrtyu Loka pasti tidak ada yang namanya kebahagiaan kekal apalagi rezim yang sedang berkuasa (penguasa yuga) saat ini adalah kepribadian Kali dengan segala keperkasaannya, ciri-cirinya dan tempramen asuriknya yang selalu menjerat manusia dengan kekuatan mayanya maka sempurnalah penderitaan itu. Ini adalah penjelasan Veda yang tidak pernah keliru dan relevan sepanjang zaman.

    Bumi dalam Mrtyu Loka

    Mrtyu Loka identik dengan penderitaan, fakta menunjukkan hampir di semua belahan dunia ini mengalami disharmonisasi, degradasi di segala lini, bencana alam dan bencana kemanusiaan terjadi dimana-mana silih berganti dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, badai, kebakaran hutan, kekeringan, kelaparan, kekacauan, peperangan, pengungsian atau exodus manusia besar-besaran, dan seterusnya dengan korban nyawa serta harta benda tidak sedikit tiada hentinya menerpa planet bumi ini, di belahan dunia yang lain kita disuguhi kisah tragedi kemanusiaan dimana rakyat termasuk anak-anak, orang tua dan wanita yang semestinya terjamin perlindungannya oleh negara terpaksa harus menangis menjerit ketakutan yang luar biasa membuat kita menangis merasakan kegetiran hidup mereka,  mereka tercerai berai lari tunggang langgang mengungsi meninggalkan negaranya dengan bawaan seadanya tanpa makanan yang cukup, menyelamatkan diri ke negara tetangga bahkan ada juga yang menyebrangi lautan menggunakan prahu seadanya dan tidak sedikit yang tenggelam dalam pelayaran.

    Mencari tempat yang dirasakan lebih aman dengan segala resikonya dengan satu harapan jiwanya bisa terselamatkan, tangisan pilu anak-anak mewarnai hidup mereka. Ironisnya kekacauan semacam ini terjadi justru disebabkan oleh sifat otoriter dan egoistis para pemimpinnya.

    Kepingan-Kepingan Neraka

    Dengan fakta seperti ini seakan-akan kepingan-kepingan planet neraka sedang diturunkan ke bumi dan sang kepribadian Kali bahagia berpestapora menyaksikannya. Memang Veda menjelaskan bahwa kepribadian Kali menjadikan dunia ini tidak pernah luput dari kekacauan, ketakutan dan kecemasan karena kekuatan kebajikan sudah melemah hingga level 20% dan terus menurun.

    Keterangan Veda bukanlah menakut-nakuti, apapun permasalahan dunia ini manusianyalah yang menjadi aktor utama penyebabnya.

    Weda tentu menyediakan solusi terbaik buat manusia zaman kali agar mampu mengarungi lautan kehidupan ini dengan selamat mencapai tujuan hidup tertinggi.

    Lalu solusi apa yang ditawarkan Veda agar manusia terbebaskan dari segala rasa takut cemas dan penderitaan? Veda dengan tegas sekali menjelaskan kepada umat manusia ucapkan nama suci Krishna, hanya itu dan tidak ada lagi yang lain.

    Artinya manusia tidak punya otoritas dan qualifikasi untuk menafsirkan atau menjustifikasi ayat-ayat suci menurut pemahamannya apalagi mengikuti seleranyanya.

    kaler dosa-nidhe rajann
    asti hy eko mahan gunah
    kirtanad eva krsnasya
    mukta-sangah param vrajet

    Wahai Raja, walaupun kehidupan pada Kali-yuga ibarat lautan yang penuh dengan dosa, masih terkandung satu sifat baik di dalamnya yaitu: Cukup dengan mengucapkan maha-mantra Hare Krsna, seseorang dapat melepaskan dirinya dari jebakan ikatan material yang menyengsarakan dan naik ke tingkatan kehidupan spiritual. (Srimad-Bhagavatam 12.3.51).

    bumi

    Siapa saja dan dari kalangan mana saja dia tidaklah penting, yang paling penting adalah kerendahan hati manusia untuk menerima sebuah kebenaran dari kitab sucinya tanpa perlu harus mempertanyakan apalagi mengkajinya kembali, cukup dilakukan saja.

    Tidak ada syarat yang ketat untuk mengucapkan nama suci Krishna, mau kapan dan dimana saja silakan, apalagi ada guru kerohanian yang menuntunnya tentu akan terjadi daya dorong yang kuat bagaikan impeller pada sebuah kapal layar yang mempunyai daya kuat untuk mendorong ke depan kapal berlayar di samudra luas menembus angin dan gelombang.

    Disamping itu perlu ada upaya-upaya serius untuk bergaul dengan orang-orang suci (para sadhu) atau para penyembah Tuhan sehingga konsep sastra, guru dan sadhu itu berjalan sebagaimana mestinya, itulah saktinya. Jika manusia sudah mampu menundukkan hatinya mengikuti sastra, guru dan sadu sudah ada jaminan bahwa kepingan-kepingan planet neraka yang sepertinya diturunkan ke planet bumi ini bisa dirubah menjadi kepingingan-kepingan planet surga bahkan planet rohani  yang sedang diturunkan ke muka bumi ini sehingga bumi ini lebih sejuk, nyaman, tentram untuk ditempati. Inilah tawaran konsep sederhana yang ditawarkan Veda kepada umat manusia.

    Kerajaan Tuhan

    0
    kerajaan

    Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika membayangkan sebuah kerajaan? Yang pertama adalah sebuah istana yang megah dengan ornamen hall atau tempat pertemuan yang serba gemerlapan. Yang kedua pasti ada sosok pribadi dengan kewibawaannya duduk di atas singgasana keemasan didampingi oleh para menteri, punggawa, penasihat dan petinggi kerajaan lainnya. Yang ketiga adalah bala tentara tangguh serta terlatih dan siap melaksanakan perintah raja. Mereka bertugas di setiap sudut istana untuk menjaga kemanan raja. Yang keempat adalah bentangan wilayah dimana terdapat kota dan desa dengan hirup pikuk aktivitas penduduknya yang hidup di bawah aturan kerajaan.

    kerajaan

    Sejak di sekolah dasar kita diperkenalkan dengan beberapa kerajaan yang pernah ada khususnya yang ada di Nusantara. Seperti kerajaan Kutai, Singasari, Kendiri, Majapahit, dan sebagainya. Kita tahu semua kerajaan yang pernah kita dengar itu adalah sebuah sejarang yang pernah ada dan sekarang hanya menyisakan puing-puing bisu yang pernah menjadi saksi perbadaban masa lalu.

    Jika kita sedikit cerdas dan kritis, mengapa kita begitu sibuk dan banyak membuang waktu untuk mempelajari sejarah kerjaan terdahulu. Adakan jaminan manfaat secara rohani dimana dengan khusuk mempelajari kerajaan-kerajaan itu kita bisa selamat dan bebas dari dosa? Tak ada satu pun literatur yang menjelaskan tentang itu.

    Tentu dari sudut pandang kesejarahan dan kearkeologian mungkin ada manfaatnya. Namun tentu juga kita tidak boleh melupakan sejarah karena sejarah bisa dipakai pijakan untuk masa depan. Di sisi lain, entah karena apa kita tidak pernah diperkenalkan bahwa ada sebuah kerajaan maha abadi yang diperintah oleh sosok pribadi yang maha cerdas dan memiliki segala kehebatan dan hanya dnengan mendengar dan mengingatnya kita bisa terbebas dari segala dosa dan bisa mencapainya.

    Mungkin ini terlalu awam bagi masyarakat umum tetapi bagi praktisi kerohanian khususnya bagi yang menerima Tuhan adalah kepribadian, maka kerajaan Tuhan itu tidaklah asing baginya dan bahkan kerajaan itu selalu hidup, hadir dan menghiasi pikiran dan hatinya dalam setiap saat.

    Kerajaan itu juga tidak mungkin bisa dimengerti oleh kaum impersonalis (paham yang tidak meyakini Tuhan berwujud). Berbeda dengan kerajaan-kerajaan biasa seperti yang telah disebutkan di atas. Dengan mengerti dan memahami kerajaan Tuhan maka ada jaminan seseorang akan mencapai tempat atau kerajaan itu. Tetapi dengan mempelajari sifat kerajaan Majapahit apakah kita akan mencapai kerajaan Majapahit?

    Tidak mungkin karena kerajaan itu sudah lenyap ditelah masa. Tetapi dengan mengetahui sifat dan keberadaan kerajaan Tuhan, maka kita bisa mencapai tempat itu. Itulah bedanya.

    Tuhan bersabda dalam Kitab Suci Veda Bhagavad-gita 4.9:

    janma karma ca me divyam
    evaṁ yo vetti tattvataḥ
    tyaktvā dehaṁ punar janma
    naiti mām eti so ’rjuna

    Orang yang mengenal sifat roani kelahiran dan kegiatan-Ku, tidak dilahirkan lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan mencapai tempat tinggal-Ku yang kekal wahai Arjuna.

    Lalu apa, siapa, bagaimana, dan dimana kerajaan Tuhan itu? Sebelum lebih lanjut membicarakan kerajaan Tuhan, yang terpendint terlebih dahulu harus memahami siapakah Tuhan itu. Karena Dia-lah yang selanjutnya akan kita bicarakan sebagai raja itu.

    Kita tidak keluar dari konsep ketuhanan dalam Veda, karena yang menjadi referensi utama dalam hal ini adalah Kitab Suci Veda. Khususnya apa yang sudah disimpulkan sendiri oleh penulisnya yaitu oleh Srila Vyasadeva. Tuhan yangdimaksud adalah Sri Krishna. Mengapa Sri Krishna? Boleh ditelusuri bukti-bukti, adakah kepribadian lain di alam semesta ini yang lebih hebat dari Sri Krishna? Tentu tidak ada. Jangankan lebih hebat, sejajar pun tidak ada.

    Arjuna pernah berkata: Anda adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, tempat tinggal tertinggi, yang Maha Suci, Kebenaran Mutlak. Anda adalah Yang Maha Abadi, yang rohani yang melapaui dunia ini, kepribadian yang asli dan tidak dilahirkan dan Yang Maha Besar. Semua Rsi yang mulia seperti Rsi Narada, Rsi Asita, Rsi Devala dan juga Rsi Vyasa membenarkan keyataan ini tentang Anda dan sekarnag Anda sendiri meyatakan demikian pada hamba.

    Merupakan sebuah kemalangan apabila kita tidak bisa mengerti Sri Krishna yang keagungan-Nya dipuji bahkan oleh dewa tertinggi sekali pun seperti Dewa Brahma. Dewa Brahma mengatakan ada banyak kepribadian yang memiliki sifat bhagavan, namun Tuhan Sri Krishna adalah yang paling tinggi, karena tidak satupun yang dapat melampaui Beliau. Sri Krishna adalah kepribadian yang paling utama, dan badan Sri Krishna kekal, penuh pengetahuan dan penuh kebahagiaan. Sri Krishna adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Govinda, sebab dari segala sebab. (Dikutip dari Veda Brahma Samhita 5.1)

    Lalu, apa itu kerajaan Tuhan? Kerajaan Tuhan adalah kerajaan yang Maha Abadi yang wialyahnya meliputi seluh alam semesta, baik alam materialmaupun alam rohani. Dijelaskan di salah satu sudut alam rohani bertebaran alam semesta—alam semesta material. Di setap satu alam semesta itu terdapat jutaan galaksi. Lalu, dalam satu galaksi terdapat jutaan tata surya. Ini berarti alam material pun tak terjangkau luasnya. Acarya Srila Bhaktivedanta Svami Prabhupada menjelaskan secara garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu

    1. Urdhva Loka, susunan planet-planet material di alam semesta yang lebih tinggi dimana Satya-loka tempat kediaman Dewa Brahma adalah puncaknya.
    2. Madhyama Loka, yang mana planet bumi ada di dalamnya.
    3. Adho Loka, yaitu tujuh susunan planet yang terdiri dari Atala, Vitala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala, dan Patala. Planet neraka ada di bagian Patala Loka.

    Itu semua baru dalam satu wilayah kekuasaan satu Dewa Brahma dan di semesta ini ada Brahma-Brahma yang tak terhitung jumlahnya. Sekarng bisa kitai bayangkan betapa luasnya alam rohani. Sebab dari keseluruhan alam material dengan miliaran planetnya, itu hanyalah sepertiga bagian dari alam rohani.

    Di alam rohani yang luasnya tak terbatas bertebaran planet-planet Vaikunta cemerlang yang abadi. Planet-planet itu sangat mengagumkan dimana Tuhan Sri Narayana menjadi Raja-diraja dalam berbagai lila-Nya. Pusat dari sistem planet-planet Vaikuntha itu adalah Goloka Vrindavan yang bentuknya menyerupai bunga padma. Iniilah pusat dari seluruh alam semesta baik rohani maupun material. Di sinilah Tuhan Sri Krishna beserta rekan-rekannya, yang kekal bertempat tinggal sebagaimana dijelaskan dalam Veda Brahma Samhita 5.2.

    Sekarang kita akan fokus pada kerajana Tuhan Sri Krishna. Kerajaan ini adalah maha ajaib dimana semua penduduknya bebas tanpa batas dan bisa bergerak kemana pun sesuai dengan kehendaknya. Hidup kekal tanpa dibatasi usia dan selalu muda. Disinilah wilayah dimana waktu tidak berpengaruh. Tidak ada kematian dan usia tua, mereka dipenuhidengan pengetahuan dan kebahagiaan. Cinta mereka kepada Tuhan Sri Krishna berkembang tanpa batas.

    Mereka hidup tidak di bawah aturan, tidak ada reaksi dosa apa pun disana. Di kerajaan Goloka ini terdapat phon dan sapi Surabhi yang dapat memenuhi segala keinginan. Terdapat pelayan-pelayan yang jumlahnya jutaan yang disebut Laksmi atau Gopi. Mereka melakukan pelayanan kepada Tuhan Sri Krishna dengan penuh cinta kasih.

    cintāmaṇi-prakara-sadmasu kalpa-vṛkṣa-
    lakṣāvṛteṣu surabhīr abhipālayantam
    lakṣmī-sahasra-śata-sambhrama-sevyamānaṁ
    govindam ādi-puruṣaṁ tam ahaṁ bhajāmi

    Disini Tuhan Sri Krishna ang merupakan sumber dari segalanya terserap dalam permaina serulig-Nya, yang mata-Nya lebar seperti bunga Padma, yang kepalanya dihiasi dengan bulu merak dan badan-Nya yang khas berwarna biru tuas seperti awan di musim hujan. Yang ketampanan-Nya melebihi ribuan dewa asmara. Tuhan Sri Krishna menerima pelayanan dari rekan-rekan-Nya dalam berbagai cara.

    Sungguh dunia yang aneh bin ajaib, di mana pelayan bisa lebih berbahagia dari tuannya. Itulah sebabnya Tuhan sri Krishna juga ingin menjadi pelayan dari pelayan-Nya. Tuhan ingin dengan berbagai cara untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penyembah-Nya. Di kerajaan ini lah tidak berlaku pelanggaran moral. Semakin amoral menurut aturan di dunia ini akan menjadi semakin manis dan semakin tinggi di kerajaan Goloka Vrindavan.

    Ini sulit dimengerti oleh orang-orang yang tidak menjadi penyembah-Nya. Kegiatan Tuhan bersama rekan-rekannya di Goloka Vrindavan seperti itu pernah diwujudkan di dunia ini atas kehendak-Nya dan dibawa kembali atas kehendak-Nya pula. Jika Anda pernah menonton episode Little Krishna, ada adegan dimana ibu-ibu pemilik yogurt sangat meninginkan supaya yogurtnya dicuri lagi oleh Tuhan Sri Krishna dan kawan-kawannya. Itulah dia kegiatan yang menakjubkan. Dewa Brahma memuja-Nya sebagai berikut:

    “Walaupun Beliau tiada duanya, tidak pernah gagal, tidak berawal, memiliki bentuk-bentuk yang tak terbatas dan yang paling tua diantara semuanya, walaupun begitu Dia adalah seorang yang maha tampan dan abadi, dan selamanya tetap muda. Walaupun Beliau tidak dapat dimengerti dengan cara mempelajari Veda, Beliau bisa dengan mudah dicapai oleh jiwa-jiwa melalui bhakti. Hamba memuja kepribadian yang asli itu yang bernama Sri Govinda.” (Brahma-samhita 5.33)

    Berbeda dengan kerajaan Tuhan di Vaikuntha. Penguasa kerajaan ini adalah ekspansi dari Tuhan Sri Krishna dalam berbagai wujud. Di kerajaan ini Tuhan disembah dengan penuh penghormatan dan penuh rasa takzim oleh penduduknya. Sifat dan juga karakternya sedikit berbeda dengan di Goloka Vrindavan.

    Di Goloka Vrindavan yang walaupun Tuhan Sri Krishna adalah Raja-diraja tetapi Beliau mengambil peran seperti hidup dalam sebuah keluarga, dalam persahabatan dan hubungan cinta. Tidak ada formalitasa. Kadang-kadang Tuhan diperlakukan sebagai bawahan dan Tuhan sangat menikmatinya. Tetapi di kerajaan Vaikuntha, Tuhan dipuja dalam aisvarya atau kemewahan dan kemegahan.

    Di Goloka Vrindavan, semua penduduknya berkarakter mulia dan mereka bisa hidup dengan saling mengenal semuanya. Hidup dalam gelimang kemewahan karena apapun yang mereka kehendaki tersedia dengan sendirinya. Rumah tempat tinggal semuanya serba mewah seperti istana dan tersedia kendaraan-kendaraan rohani yang terbang dengan kecepatan super melebihi kecepatan pikiran. Tidak ada yang berwatak jahat dan ingin bersaing dengan Tuhan. Semuanya mengabdi dengan cinta yang sempurna.

    Tempat inilah yang diidamkan oleh para yogi yang rela mengekang indrianya hingga bertahun-tahun. Di tempat ini tidak ada musuh yang dapat menjangkaunya. Oleh karena salah satu kecenderungan Tuhan adalah juga bertempur (wira rasa)maka dari itu Beliau wujudkan di dunia material ini. Akan tetapi siapakah yang bisa menandingi kehebatan Beliau? Untuk itu, Tuhan menciptakan suatu situasi agar penyembah-Nya turun ke bumi untuk menjadi musuh-Nya. Contohnya yaitu Ravana dan Kumbakarna. Sesungguhnya mereka adalah para penjaga gerbang Vaikuntha yang bernama Jaya dan Vijaya.

    Kerajaan Goloka Vrindavan ini sedikit dijelaskan dalam Veda Bhagavad-gita Bab 8.20 dan 8.21 sebagai berikut:

    paras tasmāt tu bhāvo ’nyo
    ’vyakto ’vyaktāt sanātanaḥ
    yaḥ sa sarveṣu bhūteṣu
    naśyatsu na vinaśyati

    (Veda Bhagavad-gita 8.20)

    “Namun ada alam lain yang tidak terwujud, kekal dan melampaui alam ini yang terwujud dan tidak terwujud. Alam itu bersifat utama dan tidak pernah dibinasakan. Bila seluruh dunia ini lebur, bagian itu tetap dalam kedudukannya.”

    avyakto ’kṣara ity uktas
    tam āhuḥ paramāṁ gatim
    yaṁ prāpya na nivartante
    tad dhāma paramaṁ mama

    (Veda Bhagavad-gita 8.21)

    Yang diuraikan sebagai yang tidak terwujud dan tidak pernah gagal oleh para ahli Vedanta, yang dikenal sebagai tujuan tertinggi dan sesudah mencapai itu, seseorang tidak kembali lagi, itulah tempat tinggal-Ku yang paling utama (Beda Bahgavad-gita 8.21).

    Veda Bhagavad-gita hanya mengenalkan sedikit saja tentang dunia itu, tetapi lebih banyak dijelaskan dalam Brahma Samhita. Jadi dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa Goloka Vrindavana adalah seperti rumah-Nya sendiri dan di Vaikuntha adalah seperti kantor-Nya.

    Dimana kira-kira kerajaan Tuhan Sri Krishna itu? Berikut ada penjelasan dari beberapa literatur Veda.

    1. 3.800.000 yojana di atas matahari adalah Dhruvaloka yang merupakan planet kutub.
    2. Di atas Dhruvaloka ada Maharloka yang berjarak 10.000.000 yojana.
    3. Di atas Maharloka adalah Janaloka yang berjarak 20.000.000 yojana.
    4. 80.000.000 yojana diatas Janaloka adalah Tapaloka.
    5. Satyaloka yang merupakan kediaman Brahma berada di 120.000.000 yojana di atas Tapaloka.

    Dengan perhitungan seperti itu berarti tempat kediaman Dewa Brahma adalah 233.800.000 yojana di atas planet matahari atau sekitar 1.870.00.000 mil. Kerajaan Vaikuntha berlokasi 26.200.000 yojana atau 2.008.000.000 mil perjalanan dari matahari. Jarak dari matahari ke bumi adalah 100.000 yojana atau 150.000.000 km. Jadi sungguh sangat ilmiah bahwa kediaman Tuhan Yang Maha Agung itu bisa dijelaskan dengan gamblang oleh Kitab Suci Veda.

    Bagian alam material ini pun sesungguhnya adalah wilayah dari erajaan Tuhan seperti halnya dalam sebuah kerajaan ada tempat bagi para penjahat yang disebut penjara. Alam material ini adalah penjara bagi makhluk hidup yang lupa hubungannya dengan Tuhan. Mereka ditempatan di dunia material ini dalam kelahiran dan kematian yang terus-menerus.

    Alam material yang merupakan tempat jiwa-jiwa berkelana diurus oleh para dewa dengan kekuasaan yang diberikan oleh Tuhan Sri Krishna. Karena itu para dewa yang jumlahnya 33 juta itu adalah mengemban tugas dari Tuhan Sri Krishna untuk urusan alam semesta beserta isinya. Mereka tidak bebas tetapi bertindak atas karunia dari Sri Krishna. Sebagaimana dijelaskan dalam Veda Bhagavad-gita 9.10:

    Alam material ini, salah satu di antar tenaga-tenaga-Ku, bekerja dibawah perintah-Ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun tidak bergerak, wahai putera Kunti. Di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi ini diciptakan dan dilebur berulang kali.

    Jadi dapat disimpulkan kerajaan Tuhan adalah nyata dan sesungguhnya menyebar dalam setiap pelosok dan sudut kehidupan dan bahkan juga dalam hati setiap makhluk hidup. Tiada tempat yang lepas dari wilayah-Nya. Tetap ada di masa lampau, kini, dan masa yang akan datang.

    Bhakti kepada Tuhan, Objek Cinta Tertinggi

    0
    bhakti

    Bhakti berarti “pelayanan suci”. Setiap jenis pelayanan atau pengabdian mempunyai ciri menarik yang mendorong pelaku untuk melanjutkan pelayanannya. Di dunia ini kita semua senantiasa sibuk dalam sejenis pelayanan. Yang mendorong kita untuk mengabdikan diri seperti itu adalah kesenangan yang kita peroleh dari pelayanan itu. Orang yang hidup berkeluarga bekerja kerang siang-malam karena didorong oleh rasa kasih sayang terhadap istri dan anak-anaknya.

    Seorang yang dermawan bekerja dengan cara yang sama demi kasih sayang terhadap keluarga yang lebih besar, dan orang yang yangionalis bekerja bahu-membahu demi kepentingan bangsa dan negaranya. Kekuatan yang mendorong orang yang nasionalis tersebut disebut rasa, atau sejenis rasa (hubungan) yang manis sekali.

    Bhakti-rasa adalah rasa manis yang lain daripada rasa biasa yang dinikmati oleh orang-orang yang bekerja secara duniawi itu.

    Orang duniawi bekerja keras siang dan malam untuk menikmati sejenis rasa tertentu yang dipahami sebagai kepuasan indera-indera. Kenikmatan atau rasa yang dialami dari rasa yang bersifat duniawi itu bersifat sementara dan tidak kekal. Karena itu, orang yang bekerja secara duniawi selalu cenderung mengubah standar kenikmatannya.

    Seorang pengusaha tidak puas bekerja sepanjang minggu. Ia menginginkan perubahan pada akhir pekan. Karena itu ia pergi ke suatu tepat untuk berusaha melupakan aktivitas bisnisnya. Kemudian, sesudah melupakan aktivitas bisnisnya selama berakhir pekan, kembali dia mengubah kedudukannya dan memulai lagi kegiatan bisnisnya seperti biasa.

    Kesibukkan material berarti menerima status tertentu selama beberapa waktu, dan kemudian mengubah kedudukan itu. Mengganti-ganti kedudukan seperti itu disebut dengan istila bhoga-tyaga, yang berarti kedudukan yang silih berganti antara kenikmatan indera-indera dan pelepasan ikatan. Makhluk hidup tidak bisa tetap mantap dalam kenikmatan material ataupun dalam pelepasan ikatan. Perubahan senantiasa terjadi, dan kita tida dapat berbahagia dalam kedua keadaan tersebut disebabkan oleh kedudukan dasar kita yang kekal yakni sebagai bagian yang sangat kecil dari Tuhan Yang Mahakuasa.

    Kepuasan indera-indera tidaklah tahan lama. Karena itu, kepuasan indera disebut capala-sukha, atau kebahagiaan yang berkedip-kedip. Misalnya, kepala keluarga biasa yang bekerja keras siang dan mala berhasil menyenangkan hati para anggota keluarganya dan dengan demikian ia menikmati sejenis rasa. Akan tetapi, seluruh kemajuan kebahagiaan materialnya segera berakhir ketika badannya berarkhir pada saat dia tutup usia. Karena itu, kematian adalah utusan Tuhan bagi golongan manusia yang tidak meyakini Tuhan Yang Maha Esa.

    Penyembah Tuhan menginsafi adanya Tuhan melalui pelayanan bhakti, sedangkan orang ateis pada akhirnya akan menginsafi bahwa Tuhan itu ada dalam bentuk maut. Pada saat seseorang meninggal dunia, segala sesuatu berakhir dan dia harus memulai babak kehidupan baru dalam keadaan baru yang mungkin lebih tinggi atau mungkin lebih rendah dibandingkan kehidupan sebelumnya. Di setiap bidang kegiatan yang bersifat politik, sosial, nasional maupun internasional—hasil kegiatan kita akan berakhir pada kematian. Itu sudah pasti.

    bhakti

    Akan tetapi, bhakti-rasa, rasa manis yang dinikmati dalam pelayanan cinta kasih rohani kepada Tuhan, tidak berakhir pada waktu kehidupan ini berakhir. Bhakti-rasa berjalan terus untuk selamanya. Karena itu, bhakti-rasa disebut amrta, yang berarti sesuatu yang tak pernah mati, melainkan hidup selamanya. Kenyataan ini dibenarkan dalam semua literatur Veda.

    Dalam Veda Bhagavad-gita dinyatakan bahwa kemajuan sedikit saja dalam bhakti-rasa akan menyelamatkan seseorang dari bahaya yang paling besar—yaitu bahaya kehilangan kesempatan untuk dilahirkan sebagai manusia. Berabagai rasa yang kita peroleh dari perasaan kita dalam kehidupan sosial, kehidupan keluarga atau kehidupan keluarga yang lebih besar dalam masyarakat, kedermawanan, perikemanusiaan, sosialisme, nasionalisme, dan sebagainya tidak menjamin keita akan dilahirkan sebagai manusia dalam penjelmaan berikutnya.

    Kita menyiapkan penjelmaan kita yang berikutnya melalui kegiatan nyata kita dalam kehidupan saat ini. Makhluk hidup diberikan jenis badan tertentu sebagai hasil perbuatannya selama ia berada di dalambadan yang dimilikinya sekarang.

    Prinsip dasar keadaan hidup ialah bahwa pada umumnya kita cenderung mencintai seseorang. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa mencintai orang lain. Setiap makhluk hidup memiliki kecenderungan seperti ini. Binatang seperti harimau pun memilik kecenderungan mencintai sesuatu, setidak-tidaknya pada tingkatan terpendam, dan manusia jelas berkecenderungan mencintai sesuatu. Akan tetapi, kenyataan yang belum ditemukan adalah di mana kita harus meletakkan cinta kasih kita supaya semua orang berbahagia.

    Saat ini masyarakat manusia mengajarkan supaya kita mencintai bangsa, keluarga atau diri kita sendiri, tetapi belum ada keterangan tentang di mana kecenderungan mencintai sesuatu seharusnya diarahkan supaya semua orang berbahagia. Kenyataan yang belum ditemukan itu adalah Tuhan Sri Krishna, dan proses bhakti mengajarkan bagaimana cara menghidupkan kembali cinta kasih kita yang asli terhadap Tuhan Sri Krishna dan bagaimana cara menjadi mantap pada kedudukan yang memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan yang bahagia.

    Pada tingkat dasar, seorang anak mencintai orang tuanya, kemudian para saudaranya. Setiap hari ia bertumbuh semakin dewasa dan mulai mencintai keluarganya, para tetangga, masyarakat, lingkungan, bangsanya, ataupun seluruh masyarakat manusia. Tetapi kecenderungan mencintai sesuatu tersebut belum terpuaskan, bahkan dengan mencintai seluruh masyarakat manusia sekalipun.

    Kecenderungan mencintai sesuatu dipuaskan dengan cara yang tetap kurang sempurna sampai kita dapat mengetahui siapa kekasih yang paling utama. Cinta kita hanya dapat dipuaskan sepenuhnya kalau diletakkan pada Tuhan. Inilah inti dan hakikat dari ilmu pengetahuan rohani Veda, yang mengajarkan bagaimana cara kita dapat mencintai Tuhan dalam lima rasa yang bersifat rohani.

    Kecenderungan kita untuk mencintai sesuatu meluas seperti getaran sinar atau udara, tetapi kita tidak mengetahui batasnya. Bhakti-yoga mengajarkan bagaimana cara mencintai semua makhluk hidup secara sempurna melalui cara yang mudah, yaitu dengan cara mencintai Tuhan Sri Krishna. Hingga saat ini kita belum berhasil mewujudkan kedamaian dan keadaan selaras dalam masyarakat manusia, bahkan melalui upaya-upaya mulia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa sekalipun, karena kita belum mengetahui metode yang benar. Metodenya sederhana sekali, tetapi harus dipahami dengan kepala dingin.

    Lautan Amrta Rasa Bhakti mengajarkan kepada semua orang bagaimana cara melaksnakan metode yang sederhana dan wajar, yaitu mencintai Tuhan Sri Krishna, Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita mengerti bagiamana cara mencintai Tuhan, maka mudah sekali kita segera mencintai semua makhluk hidup secara bersamaan. Hal ini seperti menyiramkan air pada akar sebatang pohon atau memberi makan kepada perut.

    Metode menyiramkan air pada akar sebatang pohon adalah cara yang praktis dan ilmiah di mana-mana, dan kita semua pernah mengelami kenyataan ini. Semua orang mengetahui bahwa kalau kita makan sesuatu, atau dengan kata lain, kalau kita memasukkan makanan ke dalam perut, maka energi yang dihasilkan dari perbuatan itu segera disebarkan ke seluruh badan. Begitu pula, apabila kita menyiramkan air pada akar tanaman, energi yang dihasilkan segera disalurkan ke setiap cabang tumbuhan itu, bahkan kepada cabang-cabang pohon yang paling besar sekalipun. Tidak mungkin kita menyirami setiap bagian pohon itu daun demi daun, dan juga tidak mungkin kita memberi makan kepada setiap anggota badan secara tersendiri.

    Lautan Amrta Rasa Bhakti akan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara menghidupkan saklar tunggal yang akan menyebabkan segala sesuatu menjadi terang di mana-mana. Orang yang belum mengetahui metode inin belum menangkap tujuan hidup yang sejati.

    Sejauh menyangkit kebutuhan material, saat ini peradaban manusia sudah maju sekali dalam kehidupan yang nyaman, tapi kita masih belum berbahagia karena kita belum menemukan tujuan sebenarnya. Kesenangan hidup duniawi semata tidak cukup untuk membahagiakan diri kita. Banyak negara kaya di dunia memiliki segala fasilitas kesenangan material tetapi masih menghasilkan golongan manusia yang bingung dan frustrasi sepenuhnya dalam kehidupannya.

    Dengan ini saya mohon kepada orang yang bingung seperti itu supaya memelajari seni melakukan pelayanan bhakti sebagaimana diatur dalam Lautan Amrta Rasa Bhakti, dan saya yakin bahwa api kehidupan material yang sedang berkobar di dalam hatinya akan segera dipadamkan oleh cinta kepada tuhan.

    Akar penyebab rasa kurang puas di hati kita ialah bahwa kecenderungan mencintai sesuatu yang terpendam di hati kita belum terpuaskan, walaupun kita sudah maju sekali dalam cara-cara hidup yang duniawi. Ilmu pengetahuan spiritual ini akan memberikan isyarat-isyarat praktis tentang bagaimana cara kita dapat hidup di dunia material ini sambil menekuni bhakti secara sempurna, dan dengan demikian, segala keingingan kita akan terpenuhi dalam kehidupan ini dan dalam penjelmaan berikutnya.

    Pengetahuan ini disajikan bukan untuk mengutuk cara hidup yang duniawi, melainkan diusahakan untuk memberikan keterangan kepada para rohaniwan, filsuf dan rakyat umum tentang bagaimana cara mencintai Tuhan. Seseorang bisa saja hidup tanpa kesulitan material, tetapi pada saat yang sama dia hendaknya mempelajari seni mencintai Tuhan.

    Saat ini kita sedang membuat begitu banyak cara untuk menggunakan kecenderungan kita mencintai sesuatu, tetapi kita masih belum menemukan tujuan yang sejati, yaitu Tuhan Sri Krishna. Kita sedang menyirami semua bagian pohon tetapi lupa menyirami akarnya. Kita sedang berusha memelihara kesehatan dan kekuatan badan dengan segala upaya, tetapi kita lupa memberikan makanan kepada perut.

    Melupakan Tuhan Sri Krishna juga berarti melupakan diri kita sendiri. Keinsafan diri yang sejati dan keinsafan terhadap Tuhan Sri Krishna berjalan berdampingan secara bersamaan. Misalnya kalau kita melihat diri kita pagi-pagi, itu berarti kita juga melihat matahari terbit. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat dirinya sendiri tanpa melihat matahari terbit. Seperti itu pula, keinsafan diri mustahil tercapai kalau seseorang belum mengsafi Tuhan.

    Sri Caitanya Mahaprabhu, yang adalah Tuhan Sri Krishna sendiri muncul 5 abad silam di Benggala dan memberi kita proses untuk dapat mencapai cinta kasih yang murni kepada tuhan pada zaman ini. Hanya dengan terus-menerus mengucapkan dan mendenarkan getaran suara rohani Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare, kita dapat mencapai tujuan hidup yang kita inginkan.

    NEW! Supernova 1006 & Kiamat Kerajaan Medang

    0
    supernova

    Para astronom menamainya SN 1006, sebuah nama eksotis bernuansa futuristik yang ilmiah. Dalam kenyataannya, benda ini bukan buatan manusia dan tidak juga ada di masa kini. Dia adalah sebuah supernova,—bintang sekarat yang bersiap musnah dalam sebuah ledakan mahabesar yang menghancurkan dirinya sendiri.

    Ledakan ini begitu terang sehingga kecerahannya menandingi cahaya bulan purnama. Siapa sangka, bintang terang yang pecah menjadi debu ribuan tahun cahaya dari Bumi ini menjadi biang keladi pertumpahan darah sadis di Tanah Jawa, seribu tahun lalu.

    supernova
    Supernova adalah bintang yag mengalami fase akhir kehidupannya. Sebuah bintang menjelang mati pertama-tama akan mengambang menjadi bola helium merah raksasa, yang ukurannya jauh lebih besar. Kemudian dalam waktu kurang dari satu detik, bola cahaya merah itu menyusut menjadi sangat padat. Karena tekanan yang tinggi, bintang itu pun meledak menjadi sebuah supernova. Cahaya supernova sangat terang di langit malam. Para ilmuwan dengan mudah melacak keberadaan supernova di angkasa dari intensitas cahayanya.

    Dalam Kitab Suci Veda pun dinyatakan bahwa tatkala alam semesta ini dilebur, matahari (yang adalah salah satu bintang) akan membesar menjadi bola merah raksasa dan menghancurkan semua kehidupan. Dalam hal ini, apha yang dinyatakan dalam Kitab Suci Veda sama dengan perkiraan para astronom. Untungnya, matahari masih memiliki waktu hidup 150 milyar tahun lagi.

    Apa itu Supernova 1006?

    SN (singkatan dari Supernova) paling terang yang tercatat dalam secarah adalah SN 1006, sebuah bintang yang meledak di rasi Lupus. Rasi ini terletak di antara Scorpio dan Centaurus. Pada 30 April 1006, salah satu bintang di Rasi Lupus meledak dan menjadi sebuah supernova yang terangnya nyaris seterang bulan purnama. Dengan kata lain, pada malam hari tanggal 30 April sampai 1 Mei 1006 Masehi, langit malam menjadi terang seperti bulan purnama.

    Pertanyaannya adalah, mengapa ilmuwan sampai mengetahui bahwa Supernova itu meledak tanggal 30 April hingga 1 Mei 1006 Masehi? Bukankah di tahun jadul itu belum ada teleskop dan satelit? Jawabannya ada pada radiasi. Ilmuwan mengukur radiasi bintang yang jatuh ke Bumi dan menemukan bahwa beberapa jenis partikel memiliki kandungan radiasi tinggi. Setelah dianalisis, keteahuanlah bahwa radiasi ini berasal dari sebuah bekas ledakan supernova di Rasi Lupus. Dengan perhitungan akurat, ditemukan bahwa radiasi ini berasal dari tahun 1006.

    Ilmuwan dari Universitas Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa Supernova 1006 terjadi karena dua bintang kembar bertabrakan dan massanya membentuk sebuah ledakan besar. Hasil penelitian mereka dipublikasikan pada jurnal Nature.

    Kemudian, para ilmuwan mencocokkan data satelit dengan naskah-naskah kuno dari berbagai bangsa. Ternyata bangsa-bangsa seperti Tiongkok, Arab, Jepang, Irak, Mesir dan Eropa memiliki catatan seragam mengenai ‘sebuah cahaya terang di langit malam tanggal 30 April 1006’.

    Di Tiongkok, catatan mengenai penampakan Supernova ini ada dalam catatan sejarah Song Shi (ditulis ulang tahun 1343), yan adalah catatan sejarah Dinasti Song (960-1279). Catatan kronikel ini adalah sejenis catatan babad milik bangsa Tionghoa. Menurut naskah Song Shi, cahaya Supernova itu berada di langit malam bagian selatan dan menyala terang di malam 30 April hingga 1 Mei 1006.

    Astrolog Tionghoa Zhou Keming, yang hidup pada zaman Dinasti Song, mencatat cahaya Supernova ini dan menyatakan kepada kaisar Song bahwa ini adalah pertanda baik bagi neegeri. Entang karena kebetulan atau bagaimana, setelah Supernova ini muncul, Dinasti ini menjadi salah satu dinasti penting di Tionghoa.

    Di Mesir, Supernova ini dicatat oleh Ali Ibnu Ridwan pada malam 30 April 1006. Dia menyatakan, “benda itu bercahaya terang sekali, jauh lebih terang daripada cahaya Venus Cahaya itu lebih terang daripada seperempat bulan purnama.” Beberapa astrolong Mesir kala itu menyatakan bahwa cahaya itu adalah pertanda buruk. Benar saja, tak lama setelah Supernva itu muncul, Mesir yang kala itu beradda di bawah kekuasaan Dinastis Fatimid mengalami kekeringan dan kelaparan.

    Catatan serupa juga ditemukan di tanah Persia, dibuat oleh Ibnu Sina yang terkenal. Dia mencatat penampakan cahaya terang di langit selatan pada malam 30 April 1006, persis seperti catatan-catatan di belahan lain dunia. Sementara itu, catatan tahunan Gereja Katolik Santa Gall di Swiss meuat peristiwa yang sama di tanggal yang sama.

    Ini menyimpulkan bahwa penampakan Supernova tahun 1006 ini menjadi peristiwa global yang disaksikan oleh jutaan pasang mata manusia di berbagai negeri di zaman itu.

    yan no bhayaṁ grahebhyo ’bhūt
    ketubhyo nṛbhya eva ca
    sarīsṛpebhyo daṁṣṭribhyo
    bhūtebhyo ’ṁhobhya eva ca

    Semoga Mahamantra nama suci Tuhan Sri Krishna melindungi kita dari pengaruh buruk planet-planet dan zodiak, meteor, bintang kemukus, manusia yang iri hati, ular, kalajengking, serta binatang-binatang buas seperti singa dan serigala.

    Mantra tersebut diambil dari Bab Narayana-kavaca Stotra. Dari maknanya dapat disimpulkan bahwa terdapat planet-planet dan bintang yang membawa pertanda buruk bagi manusia. Tak hanya di bagian Purana, dalam Caturveda Samhita pun dijelaskan bahwa bintang berasap yang muncul di langit senantiasa membawa pertanda buruk bagi kehidupan manusia di Bumi. Keterangan dari Veda ini diadopsi dalam ilmu-ilmu primbon yang menyatakan bahwa bintang yang berasap memiliki pengaruh buruk.

    Ini bukanlah ilmu klenik yang bersifat magis, namun sebuah sains elementer yang halus. Karena setiap bintang dan planet memancarkan gelombang radiasi yang berbeda, posisinya terhadap Bumi menentukan situasi manusia secara umum.

    Sebagai contoh, penelitian ilmuwan NASA selama Perang Dunia II menyatakan bahwa posisi bintik hitam di permukaan matahari memengaruhi situasi Perang Dunia. Pada tahun 1939, binting hitam pada matahari meluas. Percaya tidak percaya, ini berbarengan dengan dimulainya Perang Dunia II. Bintang di permukaan matahari itu akhirnya menghilang tahun 1945, bertepatan dengan hari V-day, hari kemenangan Sekutu di Eropa, yang sekaligus mengakhiri Perang di front Eropa.

    Munculnya Supernova 1006 juga dicatat dalam sejarah Nusantara. Catatannya ada dalam babad-babad tua yang mengisahkan sejarah Jwa dari abad kesepuluh sampai abad keempat belas. Supernova ini disebutkan sebagai salah satu bintang kemukus (yang mengeluarkan cahaya seperti asap terang) di langit selatan Jawa. Menurut catatan babad, munculnya Supernova pada malam 30 April 1006 ini menjadi pertanda peristiwa berdarah yang dikenal sebagai ‘mahapralaya ing tanah medang’ yang artinya ‘kiamat besar di Kerajaan Medang’.

    Awal Mula Kiamat Besar Kerajaan Medang

    Kejadiannya berawal seabad sebelumnya. Terjadi perselisihan antara Dinasti Isana dengan orang-orang Sriwijaya yang berpusat di Sumatera. Perselisihan ini sebabnya tidak jelas. Beberapa sejarawan berasumsi bahwa telah terjadi perebutan tahta antara keturunan-keturunan Isana dan Syailendra. Kedua kerajaan ini akhirnya memilih jalan masing-masing, mewariskan dendam kesumat dalam darah keturunan-keturunannya.

    Kemudian, pada kuartal tengah di  abad kesepuluh (tahun 900-an Masehi), Mpu Sindok mewarisi kerajaan Mataram Hindu yang berpusat di Jawa Tengah, di dekat Magelang. Kerajaan Mataram Hindu ini adalah pewaris resmi Dinasti Isana. Sebagai pucuk pimpinan Dinasti Isana, Mpu Sindok bertanggung jawab melindungi kerajaan dan mewarisi tahta.

    Suatu ketika Gunung Merapi meletus, memaksa Mpu Sindok bergerak cepat menyelamatkan rakyatnya. Rakyat Mataram mengungsi ke arah itmur, melintasi sirkum pegunungan Jawa Tengah-Timur, dan tiba di sebuah tanah landai nan subur di kaki Gunung Arjuna. Kemudian, dia membangun kerajaan baru yang dinamai Medang Kamuan. Kisah ini termuat dalm dua prasasti, yakni Prasasti Keting dan Prasasti Pucangan yang bertarikh 1041 Masehi.

    Mpu Sindok,—yang nama istrinya tidak diketahui—memiliki putra bernama Dyah Lokapala. Sebutan ‘dyah’ adalah gelar ksatria laki-laki, walaupun kata itu terdengar agak feminim. Pada zaman Majapahit, ada sebutan ‘bhre’ atau ‘wre’ sebagai gelar kehormatan ksatria. Jadi, ada nama Bhre Kahuripan, Bhre DAha, dan sebagainya yang mirip dengan sebutan Duke of Oxford atau Duchess of Cambridge dalam dinasti Kerajaan Inggris.

    Lokapala menikah dengan Isana Tunggawiaya, seorang Vaisnava dari garis perguruan Laksmi Sampradaya. Mereka memiliki putra yang bernama Makutawangsawardhana atau Dyah Makuta. Dyah Makuta memiliki dua anak. Anak pertama laki-laki bernama Dharmawijayamrta (dikenal sebagai Dharmawangsa Teguh). Anak keduanya bernama Gunapriya Dharmapatni, seorang gadis Vaisnava yang taat. Gadis ini memiliki nama kecil Mahendradatta, menikah dengan Raja Udayana dari Bali.

    Adalah tradisi Veda bahwa anak-anak gadis pada zaman Veda memuja Bhatari Durga agar mendapat suami yang religius dan mapan, sehingga Gunapriya Dharmapatni lebih dikenal sebagai pemuja Bhatari Durga di Bali, walaupun trah keluarganya berasal dari kalangan Vaisnava yang terhormat.

    Dari perkawinan Gunaprida Dharmapatni dan Raja Udayana, tiga ksatria laki-laki lahir. Airlangga adalah anak pertama. Nama lengkapnya Airlangga dharmodayana Warmadewa. Nama airlangga berarti ‘air yang melompat’. Adik Airlangga bernama Marakata, diambil dari nama permata intang. Anak paling bungsu memiliki nama sederhana, Hanak Wungsu (anak paling bungsu). Setelah Raja Udayana meninggal dan diupacarai sesuai dengan tradisi Veda di Sungai Weka (kini Gunung Kawi, Tampak Siring, Gianyar), Marakata menggantikannya sebagai raja Bali, dilanjutkan oleh adik bungsunya.

    Penyerangan Oleh Bala Pasukan Wurawari

    Pada saat Airlangga menginjak usia enam belas tahun, Dharmawijayamrta, pamannya, mengundangnya ke Medang Kamulan untuk dijodohkan. Airlangga yang kala itu masih berstatus yuvaraja ‘raja muda’ memenuhi panggilan pamannya. Karena Dharmawijayamrta tidak memiliki anak laki-laki, dia berencana menyerahkan kedaulatan Kerajaan Medang Kamulan pada Airlangga, sebab antara dinasti Medang Kamulan dan Udayana masih memiliki hubungan keluarga yang sangat erat.

    Demikianlah pesta penyambutan diadakan pada malam 30 April tahun 928 Saka (1006 Masehi), di bawah cahaya rembulan. Kala itu langit lebih terang daripada biasanya. Ada bintang terang di langit selatan yang memancarkancahaya sampai separuh bulan purnama.

    Namun tiba-tiba, tanpa terduga, pesta yang meriah itu digempur mendadak oleh bala pasukan Wurawari, seorang raja dari Lwaram. Wurawari memiliki dendam pda Dharmawijayamrta karena masalah tahta. Dendam itu tersulut malam itu, di bawah cahaya Supernova 1006. Wurawari tidak terima Airlangga menjadi pewaris tahta, dan oleh sebab itu Airlangga yang masih remaja menjadi target utama untuk dibunuh.

    Berkat bantuan cahaya terang di malam hari, sangat mudah bagi pasukan Wurawari yang dibantu laskar pasukan Sriwijaya untuk menusukkan belatinya di badan Dharmawijayamrta hingga tewas di tempat. Sejarah pembantaian besar ini dikenal dalam prasasti maupun kisah babad Jawa Kuno sebagai ‘mahapralaya inig medang’.

    Sial bagi Wurawari, Airlangga berhasil lolos dari maut. Target utamanya berhasil selamat. Airlangga muda, yang baru kali pertamanya menyaksikan pertumpahan darah di depan matanya sendiri, dilarikan ke Wanagiri, Jombang oleh guru kerohaniannya, Mpu Narottama, yang adalah seorang pendeta Hindu Vaisnava termashyur kala itu.

    Garis perguruannya berasal dari garis perguruan Veda Laksmi Sampradaya, sehingga garis perguruan raja-raja dalam trah dinasti Airlangga dan Udayana adalah para pemuja Sri Vishnu dari Laksmi Sampradaya. Ini dibuktikan dengan ditemukannya arca-arca Bhu-devi dan Sri-devi pada zaman itu. Pemujaan kepada Sri-devi dan Bhu-devi adalah ciri khas Laksmi Sampradaya. Dari peradaban Veda inilah muncul cerita rakyat Dewi Sri yang populer di tanah Jawa sampai berabad-abad setelahnya.

    Walaupun kisah babad menyatakan bahwa Airlangga lolos ke Wanagiri yang hanya beberapa puluh kilometer ke timur laut Medang Kamulan, sejarawan masih meragukan hal ini. Mustahil Airlangga hanya melarikan diri sampai Wanagiri. Jika memang demikian, pasukan dan telik sandi Wurawari pasti dengan mudah menemukannya.

    Maka dari itu, beberapa kalangan sejarawan menyimpulkan bahwa Airlangga dilarikan kembali ke Bali. Di Bali, Airlangga menyusun kekuatan dan bala pasukan untuk merebut kembali kerajaan. Setelah tiga tahun berlatih dan mempersiapkan diri, Airlangga yang kala itu nyaris berusia dua puluh tahun berhasil menyerang istana Wurawari dan membalaskan kematian pamannya.

    Setelah diangkat menjadi raja di usia 20 tahun, Airlangga kemudian mendirikan kerajaan baru di Kediri, dinamai Kahuripan. Pada zaman Majapahit (yang adalah keturunan separuh dari trah Airlangga), Kahuripan dikenal sebagai Jiwana. Ibu kotanya dikenal dengan nama Watan Mas.

    Kemashyuran Kahirupan tersebar lintas tempat dan waktu, sampai di daratan Sunda, Palembang dan Bali. Apabila nenek atau kakek Anda senang mendongeng semasa Anda kanak-kanak, pasti ada nama ‘Kahuripan’ dalam salah satu cerita. Kisah Calonarang adalah salah satu kisah yang terjadi pada masa kejayaan Kahuripan.

    Bulan Jatuh di Pejeng

    Ada satu kisah unik lagi yang terkait dengan kemunculan Supernova 1006. Kisah ini menjadi cerita rakyat di Bali dan terkenal dari generasi ke generasi. Hanya di generasi milenial ini saja cerita rakyat ini seakan-akan lenyap, digantikan oleh ponsel pintar dengan game online yang buruk bagi perkembangan karakter anak-anak. Sungguh disayangkan.

    Pada era 80-90an, kisah legenda bulan ulung ning pejeng—bulan jatuh di Pejeng—menjadi ikon jargon bagi Desa Pejeng, sebuah desa tua di utara Bedahulu, Gianyar. Di desa itu, tepatnya di Pura Panataran Asih atau Panataran Wulan, tersimpan sebuah nekara superbesar dari zmaan Kebudayaan Dongson.

    Sebuah nekara tidak jelas fungsinya, namun bentuknya menyerupai sebuah tambur atau alat musik kendang dari perunggu. Sejak UNESCO menetapkannya sebagai nekara terbesar di dunia dari zaman perunggu akhir, Desa Pejeng jadi terkenal di kalangan cendekiawan sejarah dunia.

    Namun demikian, Desa Pejeng sebenarnya sudah populer sejak abad-abad sebelumnya. Masyarakat Bali mengenal cerita rakyat tentang bulan yang jatuh di Pejeng. ‘Bulan’ yang dimaksud adalah nekara raksasa itu sendiri, yang permukaannya bundar besar seperti rupa bulan.

    Orang-orang Bali tradisional sejak zaman pra-Majapahit memiliki kiblat politik dan budaya ke Bedahulu, sehingga Pejeng menjadi sentra religi, militer, dan politik kala itu. Wajar saja berita mengenai adanya nekara raksasa itu menyebar ke seluruh pulau, dibumbui denga berbagai rona mistis, religi dan asumsi lokal.

    Yang aneh adalah, tidak ada siapa pun yang tahu dari mana nekara raksasa itu berasal dan siapa pembuatnya. Dr. Goris, arkeolog kondang dari Universitas Udayana, meneliti nekara ini bersama ilmuwan dari Belanda pada era 90-an. Hasilnya masih berupa simpulan-simpulan umum.

    Fungsi nekara itu tidak diketahui dan zaman pembuatannya juga masih misterius. Hingga kini, status asal nekara ini tidak pernah dikenal. Dia hanya tetap dikenal sebagai ‘bulan yang jatuh di Pejeng’.

    Folklore ‘Bulan Jatuh di Pejeng’

    Ada beberapa versi cerita rakyat mengenai ‘bulan jatuh di Pejeng’ ini. Menurut cerita rakyat versi pertama, konon pada zaman dahulu terdapat dua bulan di angkasa. Bulan yang satunya berukuran lebih kecil. Suatu malam, bulan yang lebih kecil terjaduh dari angkasa dan tersangkut di pohon beringin di Desa Pejeng. Versi kedua, memilik alur yang sedikit bebeda.

    Dinyatakan bahwa bulan yang bergerak di angkasa memiliki kereta dan ditarik oleh tujuh ekor kuda putih. Versi kedua ini cocok dengan uraian dalam Kitab Suci Veda, bahwa Bhatara Soma, atau Candra (penguasa bulan) menaiki kereta surgawi dari perak murni dan ditarik tujuh kuda cahaya berwarna putih. Suatu ketika saat dewa bulan melintasi Desa Pejeng, roda keretanya terlepas dan terjatuh ke Bumi, tersangkut di pohon pule.

    Karena bulan yang terjatuh dan tersangkut ini bercayaha terang, desa Pejeng menjadi terang benderang pada malam hari. Orang-orang tidak perlu lagi menyalakan lampu minyak. Suasana terang semcam ini sangat dibenci oleh para maling. Mereka tidak bisa beraksi. Karena itu, salah satu maling nekad menaiki pohon tempat ‘bulan’ itu tersangkut.

    ‘Bulan’ yang bercahaya itu dikencingi agar cahayanya padam. Nahas, bundaran ‘bulan’ itu meledak dan menewaskan si maling. Keesokan harinya, para warga desa menemukan nekara raksasa itu tergeletak di bawah pohon besar. Nekara itu kemudian ditempatkan di pura, disebut sebagai ‘bulan jatuh di Pejeng’. Cerita ini sangat populer di berbagai kalangan masyarakat Bali, dan menjadikan Pejeng sebagai desa ikonik dengan jargo ‘bulan ulung ning pejeng’.

    Agaknya, cerita rakyat mengenai bulan jatuh ini berasal dari kisaran tahun 1006 Masehi, saat Supernova itu, langit malam memang benar-benar terang. Kebetulan saja, peristiwa lenyapnya supernova ini pada tangal 1 April 1006 dibarengi dengan temuan nekara kuno yang terkubur di bawah pohon di Desa Pejeng. Orang awam bisa dengan mudah mengaitkan kedua peristiwa nyata tersebut dan membuat alur cerita sederhana mengenai bulan yang jatuh.

    Demikian ulasan Hindu Times mengenai peristiwa sejarah ‘mahapralaya’ di Jawa Kuno dan cerita rakyat dari Pejeng dalam kaitannya dengan kemunculan Supernova 1006. Di seantero Nusantara terdapat banyak sekali cerita rakyat dan mitos-mitos itu hendaknya tidak dianggap sebagai takhayul belaka.

    Semua cerita memiliki latar belakang sejarah. Karena masyarakat pada zaman dahulu cenderung menyampaikan sesuatu secara sederhana, maka dibuatlah cerita-cerita rakyat sebagai media transfer ajaran agama, moral dan etika. Jadi, apabila suatu hari orang tua Anda menyebutkan tentang cerita rakya tau legenda, Anda jangan apriori dulu. Yang harus Anda lakukan adalah menelaah dan mengambil maknanya. Siapa tahu, cerita yang sederhana itu adalah kunci sejarah yang nyata namun dilupakan selama berabad-abad.

    Unique! Ayurveda, Obat Herbal Tradisional Veda

    0
    ayurveda

    Ayurveda dikenal sebagai sistem pengobatan menyeluruh di India sejak 3000 tahun lalu dan dianggap sebagai salah satu teknik pengobatan tertua di dunia. Dalam Ayurveda, dipercaya bahwa terdapat hubungan antara manusia, kesehatan manusia, alam semesta, susunan tubuh (prakriti), dan energi (dosha).

    Kata Ayurveda berasal dari bahasa Sanskerta ‘ayur’ yang berarti hidup dan ‘veda’ yang berarti pengetahuan atau ilmu. Konsep Ayurveda adalah mengajak manusia untuk hidup sehat melalui praktik khusus, pola makan, dan obat-obatan herbal.

    Pelaku Ayurveda percaya bahwa kesehatan manusia bersumber dari keseimbangan di antara ketiga faktor tersebut dengan alam semesta. Oleh karenanya, gangguan keseimbangan ini akan menimbulkan kebalikan dari efek kesehatan, yaitu serangan penyakit. Pengobatan Ayurveda ini lebih berfokus terhadap bagaimana cara menjalani kehidupan yang sehat.

    Tiga Jenis Energi

    Menurut pandangan Ayurveda, manusia memerlukan lima elemen untuk dapat hidup, yaitu tahan, air, udara, api, dan ruang. Tiap dosha atau energi tersebut mengontrol fungsi tubuh yang berbeda. Kombinasi dari kelima elemen keidupan kemudian membentuk tiga pasangan energi atau dosha. Meski seseorang memiliki campuran unik dari ketiga dosha, namun akan ada satu dosha yang mendominasi diri tiap orang secara berbeda-beda.

    Ketidakseimbangan pada ketiga dosha dipercaya akan memicu kemunculan penyakit. Ketiga dosha tersebut terdiri dari unsur-unsur berikut:

    • Pittha dosha

    Pittha dosha (api dan air), mengelola beberapa hormon yang berhubungan dengan nafsu makan, pencernaan, serta metabolisme tubuh. Kelelahan, terlalu lama di bawah sinawr matahari, mengonsumsi makanan pedas atau pun asam, dipercaya dapat mengganggu keseimbangan pitta dosha. Seseorang dengan kecenderungan dominasi pitta dosha lebih mungkin untuk mengidap penyakit Crohn, hipertensi, penyakit jantung, tekanan emosi, dan infeksi.

    • Vata dosha

    Vata dosha (ruang dan udara), mengatur jalur pernapasan, aliran darah, fungsi jantung, pikiran, serta kemampuan tubuh mengeluarkan racun dari usus. Begadang, ketakutan, dan mengonsumsi seporsi makanan lain terlalu cepat setelah makanan utama dapat mengganggu keseimbangan elemen ini. Jika dosha Anda lebih dominan kepada Vata dosha, maka risiko penyakit yang menimpa Anda adalah penyakit jantung, asma, kecemasan, gangguan sistem saraf, penyakit kulit, dan rheumatoid arthritis.

    • Kapha dosha

    Kapha dosha (bumi dan air), mengatur berat badan, pertumbuhan otot, sistem kekebalan tubuh, serta kekuatan dan stabilitas tubuh. Makan setelah perut kenyang, mengonsumsi terlalu banyak makanan manis dan asin dapat menyebabkan gangguan pada dosha ini. Menurut sudut pandang Ayurveda, jika kapha dosa adalah energi dominan Anda, maka penyakit yang berpotensi diderita antara lain kanker, diabetes, mual setelah makan, asma, atau obesitas.

    Praktik Ayurveda umumnya bisa dijalani dengan beberapa metode, seperti meditasi, yoga, mengatur pola makan, perawatan tubuh, pijat, aromaterapi, latihan pernapasan, diet vitamin dan mineral, perenggangan, dan berbagai metode lain. Perawatan ini bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan dan menyeimbangkan ketiga dosha di atas.

    Sebagai langkah awal, praktisi Ayurveda akan memeriksa riwayat kesehatan pasien hingga pemeriksaan fisik. Ayurveda memiliki delapan cara mendiagnosis suatu penyakit, misalnya dari denyut nadi, urine, tinja, suara, penglihatan, penampilan, suarasentuhan dan lidah. Peserta Ayurveda juga perlu menginformasikan pola makan, kebiasaan tidur, gaya hidup, dan riwayat penyakit yang baru diderita belakangan ini.

    ayurveda

    Lalu Apakah pengobatan Ayurveda in aman dan seberapakah efektifnya?

    Pengobatan Ayurveda ini menggunakan berbagai produk dan berbagai macam praktik. Beberapa produk mungkin mengandung herbal, mineral, ataupun logam, dan dapat berbahaya, terutama jika digunakan secara tidak benar atau tanpa arahan dari praktisi yang terlatih. Misalnya, beberapa herbal dapat menyebabkan efek samping atau berinteraksi dengan obat-obatan konvensional. Beberapa penelitian telah menguji manfaat pengobatan Ayurveda, tetapi sayangnya belum ada sistematika penelitian yang sesuai standar sehingga manfaat Ayurveda belum dapat dibuktikan secara medis. Umumnya, Ayurveda dijalani dengan menyertai berbagai variasi praktik dan produk yang berbeda-beda.

    Setelah Mati Lalu Apa?

    0
    mati

    Setelah manusia meninggal atau mati lalu apa yang terjadi, kemana perginya? Kita pasti ingin tahu jawaban atas pertanyaan itu, terutama waktu orang yang kita sayangi meninggal. Kita mungkin berpikir, dia ada dimana sekarang? Apakah dia masih bisa melihat kita? Apakah nanti kita bisa bertemu lagi dengan dia? Jawaban agama-agama berbeda. Beberapa mengatakan setelah meninggal rohnya berkumpul dengan leluhur.

    Ada juga yang mengatakan setelah meninggal rohnya masuk surga atau neraka. Selain itu ada mengatakan setelah meninggal rohnya segera kembali kepada Tuhan atau lahir ke dunia untuk mendpatkan adan yang baru. Umumnya agama Abrahamik menyatakan setelah kematian tidak ada lagi kelahiran kembali ke bumi ini.

    Apapun pendapat di atas, pada hakekatnya semuanya menyatakan bahwa setelah kematian masih ada perjalanan hidup yang merupakan kelanjutan dari kehidupan di bumi ini. Jadi kematian bukanlah totalitas akhir dari kehidupan. Di balik kehidupan bumi ini ada bentangan alam semesta tak bertepi dengna miliaran planet yang akan dituju. Bentangan alam semesta tersebut akan dijelaskan di bawah.

    Bagaimana pandangan Veda ketika manusia mengalami kematian?

    Semua pendapat tersebut sesungguhnya adalah benar karena semuanya bisa dicapai sesuai dengan kecenderungan yang diciptakan semasih berbadan fisik dan di bumi. Karena itu sebelumnya kita akan membahas sedikit tentang berbagai badan pembungkus sang roh. Ketika manusia meninggal tubuh fisiknya tergeletak dan berhenti untuk hidup. Namun sisa eksistensi kesadarannya masih terus berlanjut.

    mati

    Keberadaan orang tersebut hanya berkurang pada tubuh fisiknya saja dan sang roh masih terbungkus atau terbelenggu oleh tiga tubuh halus. Ketiga tubuh halus tersebut yaitu, tubuh mental (pikiran), tubuh kausal (kecerdasan), dan tubuh ahangkara (keegoan palsu). Tiga tubuh ini kemudian membawa pergi sang roh ke salah satu dari 14 tingkatan alam semesta selain bumi. Dia tidak bisa lagi eksis di bumi ini karena tubuh yang digunakan sudah berbeda. Seperti halnya ikan tidak bisa lagi tahan di daratan karena tubuhnya hanya cocok hidup di dalam air.

    Ada empat belas tingatan eksistensi alam semesta material yang akan dicapai oleh seseorang sebelum ia mencapai kesempurnaan. Secara garis besarnya keempat belas susunan alam semesta itu dapat dibagi menjadi tiga yaitu Bhur Loka, Bhvah Loka, dan Svah Loka. Bumi sendiri berada pada Bhvah Loka karena itu sering disebut Bhvana Loka. Bumi sesungguhnya adalah tempat yang palin strategis dalam pendakian untuk mencapai tujuan kehidupan. Hana di bumilah di mana orang-orang yang tinggal memiliki berbagai tingkatan kesadaran spiritual bergabung menjadi satu.

    Di Bumi ada berbagai level spiritual dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi yang melebihi level dewa. Hanya di bumi ada kesempatan untuk melakukan pendakian spiritual. Berbeda dengan kehidupan di surga atau duni atas lainnya, mereka hamper memiliki tingkat spiritual yang sama. Tetapi sayangnya, di sana mereka terperangkap dengan kebahagiaan yang sesungguhnya masih bersifat sementara dan material. Seseorang di sana lupa dengan tujuannya yang sejati. Tetapi sebaliknya, di alam bawah neraka, orang sangat menderita, tidak ada kesempatan untuk berpikir positif dan apalagi memikirkan Tuhan karena penderitaannya.

    Tujuh tingkatan ke atas adalah alam Svar Loga atau Svah Loka yang merupakan alam surgawi dengan berbagai tingkatan kebahagiaanya yang berbeda. Semakin ke atas tingkatannya, maka kuantitas dan kualitas kebahagiaannya semakin tinggi. Dijelaskan dalam Kitab Suci Veda Bhagavata Purana 5.17.12:

    eṣu puruṣāṇām ayuta-puruṣāyur-varṣāṇāṁ deva-kalpānāṁ nāgāyuta-prāṇānāṁ vajra-saṁhanana-bala-vayo-moda-pramudita-mahā-saurata-mithuna-vyavāyāpavarga-varṣa-dhṛtaika-garbha-kalatrāṇāṁ tatra tu tretā-yuga-samaḥ kālo vartate.

    Keberadaan alam ini penuh dengan bau harum, pertemanan yang sangat indah dengan danau-danaunya yang jernih, jalan-jalan yang lebar dan bersih. Semua penduduknya sangat kuat dan berwatak saleh. Menikmati hubungan dengan lawan jenis yang menyenangkan.

    Wanita-wanita dengan kecantikan yang sangat menawan, semua penghuninya hamper memiliki level spiritual yang sama. Masa hidup di sini sangat Panjang. Ini adalah alam surge yang dihuni para dewa yang hidup berbahagia. Segala keinginan dengan mudah bisa didapatkan tanpa melalui usaha yang keras. Kebahagiaan di alam surge ini dijelaskan seperti serratus kali kebahagiaan orang yang paling Bahagia di bumi.

    Karena itu badan fisik di bumi tidak sanggup menampung kebahagiaan surge. Ia harus mendapatkan badan yang cocok untuk dapat merasakan kebahagiaan seperti itu. SEbagai contoh orang yang tiba-tiba dapat rezeki besar kemudian menjadi pingsan. Itu artinya badannya tidak bisa menampung kebahagiaan. Sebenarnya ciri kehidupan di surga itu pernah terjadi di bumi ketika bumi masih dalam era Kerta yuga

    Orang-orang yang semasa hidupnya di bumi lebih banyak mengembangkan sifat kebaikan atau satwa-guna, suka menolong orang miskin, menolong orang sakit, berjiwa sosial, suka menyumbangkan harta kekayaannya, hidup jujur,berjiwa bersih dan sering melakukan korban suci, tidak pernah membuat kesulitan makhluk lain, maka ketika meninggalkan tubuhnya, ia  dengan mudah bisa memasuki alam surge ini. Mengapa demikian?

    Karena alam ini bersifat positif dan sesuai dengan kecenderungan yang dikembangkan oleh seseorang ketika dia berbadan fisik. Segala kecenderungan tersebut melekat dengan kuat pada tubuh mental, tubuh kecerdasan dan ahangkara. Alam surge inilah yang cocok dengan sifat seperti itu. Inilah yang disampaikan oleh Tuhan Sri Krishna dalam Veda Bhagavad-gita 8.6:

    yaṁ yaṁ vāpi smaran bhāvaṁ
    tyajaty ante kalevaram
    taṁ tam evaiti kaunteya
    sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ

    “Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akandicapainya, wahai putera Kunti.

    Dengan kata lain, di alam manapun tempat tinggal kita setelah kematian, sebetulnya bisa kita renanakan semasih kita hidup di bumi ini. Ini persis seperti seorang wisatawan yang merencanakan hotel untuk tempatnya menginap. Semakin banyak uang yang ia miliki maka semakin bagus pula kualitas dan pelayanan hotel yang akan ia dapatkan. Jadi, singkatnya mau kemana kita pergi? Ke alam atas yang penuh dengan kebahagiaan atau ke alam bawah yang penuh penderitaan? Mau ke alam para leluhur, alam para dewa atau bahkan ke alam rohani tempat Tinggal Tuhan. Tentu yang paling baik adalh alam tempat tinggal Tuhan sendiri di Vaikunta Loka.

    Alam rohani yang tiada bandingannya dengan alam mana pun di empat belas susunan alam semesta ini. Alam yang kekal yang penuh kebahagiaan. Jika seseorang mencapai tempat ini maka tidak ada lagi risiko lahir kembali ke bumi. Inilah sesungguhnya tujuan manusia tertinggi. Bukan alam leuhur, bukan alam surga apalagi neraka. Alam rohani ini khusus dicapai oleh orang yang selama hidupnya mengembangkan bhakti. Dalam Bhagavad-gita dijelaskan bahwa bhakti adalah akarma. Dia tidak membawa hasil baik atau pun buruk.

    Mungkin ada yang berpikir mencari untuk dari sloka Bhagavad-gita 8.6 di atas. Kalau begitu saat-saat menghembuskan nafas terakhir saja saya akan berpikir tentang surga atau alam Tuhan sehingga saya bisa masuk surga atau masuk Vaikuntha. Tetapi harap diingat bahwa saat-saat kritis meninggalkan badan, seseorang tidaklah semudah itu bisa berpikir tentang alam surga atau alam Tuhan. Untuk bisa mengingat itu di saat-saat terakhir, dalam hidupnya seseorang harus secara terus menerus dan mempraktekkan sehari-hari kondisi pikiran yang positif. Karena kelekatan pikiran terhadap hubungan dunia ini begitu kuat.

    Hubungan yang terbentuk selama hidup seperti halnya hubungan terhadap anak, istri, kekayaan, pangkat, kedudukan, dan sebagainya sangat kuat melekat dalam pikiran. Inilah yang sering kita amati ketika orang dalam keadaan sekarat dan saat-saat terakhir pasti yang dipanggil adalah sanak keluarga yang disayangi. Panggil anak, panggil istri, cucu, dan sebagainya, bahkan masih sempat mengingat hewan peliharaan. Keadaan seperti ini akan menarik sang roh kembali untuk terlahir dalam lingkaran reinkarnasi.

    Bagaimana jika seseorang mengembangkan sifat ketamakan, loba, iri ati, dengki, kasar, jahat, dan rakus tehadap benda material? Ketika dia meninggalkan badannya maka badan halusnya akan terlempar ke susunan alam semesta paling bahwah. Di alam ini ia akan tersiksa dan menderita dalam waktu yang sangat Panjang. Sekarang badannya bisa merasakan kesakitan yang beribu-ribu kali sakit yang dialami di bumi.

    Badan fisik bumi tidak tahan terhadap rasa sakit ini. Di alam neraka ini ia menjerit-jerit, berteriak-teriak meminta pertolongan. Kehausan, rasa lapar, kepanasan dan sebagainya. Singkatnya, sekarang ia hidup mengerikan tanpa pertolongan. Ini adalah konsekuensi dari kecenderungan hidup tamas atau kegelapansemasa hidupnya di bumi. Ia tidak pernah ada keinginan untuk hidup suci dan mempelajari ajarn kitab suci. Prinsip hidupnya hanya memikirkan isi perutnya sendiri tak ubahnya kehidupan binatang. Semakin gelap kehidupan seseorang di bumi ini maka semakin berat hukuman neraka yang ia jalani.

    Jika seseorang berpendapat bahwa hidup ini hanya satu kali, dan hidup ini harus dinikmati dengan kenikmatan duniawi, itu tidaklahbenar. Karena kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Tetapi setelah mati, roh yang individual akan berpindah-pindah dari badan satu ke badan yang lain, dan badan yang dimilikinya saat ini serta kegiatannya saat hidup ini adalah later belakang badan berikutnya. Setelah meninggalkan badan kasar, seseorang akan mendapat badan baru yang berbeda menurut karma-nya. Terkait dengan hal ini, Tuhan Sri Krishna bersabda:

    śarīraṁ yad avāpnoti
    yac cāpy utkrāmatīśvaraḥ
    gṛhītvaitāni saṁyāti
    vāyur gandhān ivāśayāt

    Makhluk hidup di dunia material membawa berbagai paham dari satu badan ke badan lain seperti udara membawa berbagai bau. Dengan cara demikian ia menerima jenis badan tertentu, lalu sekali lagi meninggalkan badan itu untuk menerima badan lain.

    śrotraṁ cakṣuḥ sparśanaṁ ca
    rasanaṁ ghrāṇam eva ca
    adhiṣṭhāya manaś cāyaṁ
    viṣayān upasevate

    Makhluk hidup, yang menerima badan kasar lain lagi dengan cara seperti itu, memperoleh jenis telinga, mata, lidah, hidung, dan peraba tertentu tersusun di sekitar pikiran. Dengan demikian, ia menikmati pasangan obyek-obyek indria tertentu.

    Dengan kata lain, kalua makhluk hidup meninginkan, ia dapat menggantikan badannya sampai tingkat lebih tinggi atau pun ia dapat pindah ke golongan yang lebih rendah. Penggantian badan makhluk hidup tergantung pada makhluk hidup itu sendiri. Dalam hal ini, seseorang yang telah meninggal belum tentu akan memperoleh badan manusia lagi. Ia bisa saja memperoleh badan kucing, anjing, babi, dewa atau salah satu di antara banyak bentuk lainnya, sebab ada 8.400.000 jenis kehidupan.

    Karena itu, cara terbaik untuk mencapai sukses dalam mengubah keadaan hidup adalah dengan hidup dalam sifat kebaikan dan senantiasa ingat dan mengucapkan nama suci Tuhan. Dengan demikian, kemungkinan seseorang dapat meningat Tuhan pada akhir riwayatnya. Kalau ia ingat kepada Tuhan pada akhir riwayatnya, itu akan membantu dirinya untuk dipindah ke alam rohani Tuhan yang kekal.

    Mengapa Sang Atma Jatuh ke Alam Material

    0
    atma

    Seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, dan anak kecil tumbuh remaja. Begitulah badan ini terus berubah dari waktu ke waktu. Anda bisa merasakannya sendiri. Badan Anda berubah, namun Anda tetap menyadarinya. Anda tetaplah Anda. Anda dulu berbadan seorang anak, dan Anda ingat hal itu. Kemudian, badan Anda tumbuh di usia remaja, Anda juga mengingatnya. Badan-badan Anda ketika bayi, anak-anak dan remaja tidak Iagi ada saat ini, namun Anda masih ada. Oleh karena itu,  kesimpulannya adalah ketika badan ini tidak lagi cocok untuk keberadaan kita, kita harus menerima badan Iain. Perpindahan dan pergantian badan ini disebut tatha dehantara praptih (Veda Bhagavad-gita 2.13) Badan kita harus berubah. Ini adalah hukum alam. Akan tetapi. sang jiwa bersifat kekal dan tidak pernah berubah.

    na jāyate mriyate vā kadācin
    nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ
    ajo nityaḥ śāśvato ’yaṁ purāṇo
    na hanyate hanyamāne śarīre

    Seorang roh, atma atau jiwa tidak pernah mati. Hanya badan yang mati. Inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan orang. Karena kegiatan-kegiatan yang berdosa, hati orang-orang menjadi sangat gelap sehingga tidak dapat mengerti kebenaran yang paling sederhana ini: karena Anda mendapatkan badan kasar dalam hidup ini, dalam kehidupan nanti pun Anda akan mendapatkan badan lain. Ini adalah kebenaran yang paling sederhana. Akan tetapi karena kemajuan peradaban yang bersifat duniawi dan materialistik, kita telah dibutakan sehingga tidak dapat memahami hal ini. Kitab Narada Pancarartra menyatakan:

    sarvopādhi-vinirmuktaṁ
    tat-paratvena nirmalam
    hṛṣīkeṇa hṛṣīkeśa-
    sevanaṁ bhaktir ucyate

    Jalan bhakti kepada Tuhan berarti kita harus membersihkan diri kita dari anggapan palsu. Apa itu anggapan palsu? Setiap orang berpikir, “Saya orang Amerika, saya orang India, saya orang Eropa, saya anjing, saya kucing, saya ini, saya itu,” dan sebagainya. Ini adalah paham badaniah (dilihat dari badan kasar). Kita harus memberseihkan konsep-konsep badaniah ini. “Saya bukanlah badan ini.” Aham brahmasmi – saya adalah sang jiwa. Anda harus menyadari hal ini. Dengan demikian tidak akan ada sekat pemisah dan kita memiliki pandangan yang sama kepada semua makhluk: panditah sama darsinah. Panditah berarti ‘terpelajar’, atau orang yang memahami sesuatu sebagaimana adanya.

    Bagi orang-orang seperti itu, vidya sampanne brahmane gavi-hastini, suni caiva svapake ca panditah sama darsinah || mereka sangat terpelajar dan sangat bijak. Vidya berarti terdidik, artinya mereka sangat bijak dan tabah. Mereka tidak licik dan kasar. Sifat-sifat ini adalah pencapaian suatu pendidikan. Seseorang harus menjadi terdidik, sabar dan tenang. Itu disebut bijaksana.

    Kehidupan sebagai manusia harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Seseorang tidak boleh hidup hanya untuk memuaskan indria sebagaimana yang dilakukan anjing dan kucing. Itu bukanlah kehidupan yang penuhtanggung jawab. Kehidupan yang bertanggung jawab berarti bahwa saya telah mendapatkan bentuk kehidupan sebagai manusia yang sangat maju dibandingkan dengan makhluk lain, dan saya memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan makhluk lain. Jika saya hanya menggunakan segala fasilitas hidup ini untuk empat kebutuhan badaniah yakni makan, tidur, berketurunan dan membela diri, maka kehidupan saya sesungguhnya tidak berarti.

    Keempat kebutuhan badaniah tersebut dibutuhkan oleh semua makhluk. Pertama, setiap makhluk makan. Kucing, anjing, manusia, presiden, hakim, siapa pun perlu makan. Setiap makhluk perlu tidur (dengan cara-cara berbeda). Tidak seperti manusia, anjing dan kucing bisa tidur tanpa rumah atau apartemen. Namun pada intinya semuanya untuk tidur. Ini adalah fakta. Kemudian, kehidupan seksual – ini juga fakta, – dan mempertahankan diri.

    Akan tetapi, keempat hal ini ada pada setiap makhluk, termasuk manusia. Jika manusia hanya berkonsentrasi pada pemenuhan keempat hal ini, apa hal spesial pada manusia yang membuatnya berbeda dari makhluk lain? Hal spesial pada manusia adalah bahwa manusia dapat menyadari bahwa “Saya kini telah mendaptkan badan yang bagus, lalu badanseperti apakah yang akan saya dapatkan nanti?” Inilah yang patut dicari dengan kecerdasan sebagai manusia. Binatang tidak bisa berpikir seperti ini.

    atma

    Karena itulah, kesibukan kita seharusnya berada dalam kesadaran ini. “Kini atas aturan alam, saya telah mendapatkan badan mansuia melalui proses evolusi kesadaran. Saya punya kecerdasan yang baik. Bagaimana saya menggunakannya?” Vedais ca sarvair aham eva vedyam (Veda Bhagavad-gita 15.15). Pengetahuan berarti mengerti tentang Tuhan . Itu adalah puncak segala pengetahuan. Dengan mendapatkan pengetahuan, Anda bisa maju dalam kehidupan Anda. Akan tetapi jika pada akhirnya Anda tidak sampai pada pengetahuan tentang siapakah Tuhan, pengetahuan Anda belumlah sempurna. Pengetahuan rohai tentang Tuhan ini dinamakan Vedanta. Ayatnya, athato brahma-jijnasa

    Sebenarnya, julukan apa pun tidak berarti bagi kita. Yang berarti adalah orangnya, bukan julukannya. Alam semesta ini adalah sebuah mesin. Apakah Anda menganggap mesin bisa bekerja tanpa operator? Adakah bukti bahwa mesin bisa berjalan sendiri tanpa ada perintah dari yang mengendalikan? Lihatlah contoh. Ada kamera yang sangat bagus. Kamera ini dapat beroperasi karena ada yang mengoperasikannya. Bisakah Anda memberikan contoh mesin yang bekerja tanpa pengendali? Tidak ada. Jadi alam semesta yang adalah mesin yang sangat besar bekerja atas perintah dan kendali Penguasa Tetinggi, yaitu tuhan. Bagimana Anda dapat menyangkal hal ini?

    Ada banyak bukti yang berbeda. Salah satunya adalah sebuah praduga. Praduganya adalah karena tidak ada mesin yang bekerja tanpa operator atau pengendali, maka kita bisa simpulkan bahwa bahka jika kita tidak mengerti apa itu Tuhan atau apa itu alam, kita bisa menyimpulkan bahwa alam ini bekerja di bawah kendali ‘sesuatu’ yang mahaperkasa, – dan itulah Tuhan. Saat in mungkin tidak begitu penting untuk membuktikan adanya sang pengendali itu namun setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa pasti ada pengendali di balik alam semesta ini.

    Jadi, bentuk kehidupan sebagai manusia ini dimaksudkan untuk mencari tahu siapakah yang mendalikan itu. Itulah kehidupan khas manusia. Jika uamt manusia tidak berusaha dalam jalan pengetahuan ini, kehidupannya tidak berbeda dengan binatang – hanya sibuk makan, tidur, menari-nari, dan sebagainya. Anda harus mencari tahu siapakah Tuhan yang mengendalikan semua ini: athato brahma jijnasa. Ini berarti, “Bentuk kehidupan sebagai manusia ini dimaksudkan untuk mencari tahu tentang Tuhan Pengendali Tertinggi.”

    Jawaban atas pertanyaan itu dinyatakan dan dibuktikan oleh Tuhan Sri Krishna dalam Veda Bhagavad-gita: maya-dhyaksena prakrtih suyate sa-caracaram (Veda Bhagavad-gita 9.10): “Inilah Aku. Di bawah kendali-Ku, prakrti, alam material ini bekerja.”

    Badan dan Roh/Atma

    Pesawat terbang di udara dan mendarat dengan baik karena adanya pilot. Pilot ini adalah jiwa dari pesawat itu. Pilot ini ditutupi oleh sesosok mesin. Keberadaan sang roh atau jiwa inilah yang terlupakan di zaman modern. Pertanyannya adalah: siapakah yang mengendalikan mesin badan ini? Itulah yang hilang, dan itulah kebodohan. Bhagavad-gita menyatakan:

    īśvaraḥ sarva-bhūtānāṁ
    hṛd-deśe ’rjuna tiṣṭhati
    bhrāmayan sarva-bhūtāni
    yantrārūḍhāni māyayā

    Kata yantra berarti mesin. Kita mengenal komputer yang canggih. Tanpa pengendali, komputer tidak bisa bekerja. Bagaimana bisa msin semesta yang besar ini bekerja tanpa adanya sentuhan rohani? Ini adalah sebuah kealpaan. Orang-orang mengatakan bahwa alam semesta ini bekerja dengan sendirinya. Ada ‘seseorang’ yang mengendalikan segala sesuatu ini. Ini patut kita pahami terlebih dahulu. Tentang bagaimana mesin itu bekerja ada di bab berikutnya. Jika seorang insinyur tidak mengerti bagaimana mesin bekerja, apa nilai pendidikannya? Pendidikan berarti pencerahan. Anda tidak tahu sebab tertinggi, asal mula tertinggi.

    Sebuah kesatuan mesin semesta yang sangat besar sedang bekerja: ada planet, bintang, dan sebagainya yang mengambang di angkasa. Siapakah yang membuat semua ini? Kita melihat semua ini setiap hari namun semuanya berspekulasi. Satu orang menyatakan ini, orang lain menyatakan itu: nasau munir yasya matam na bhinnam | Seorang ahli filsafat bukanlah ahli filsafat hebat jika dia tidak menantang Anda, Anda menantang saya, dan selesai. Akan tetapi, bagaimana kenyataan sesungguhnya?

    Sebagaimana halnya jemari ini adalah bagian dari badan saya, apa pun perintah saya, jemari saya akan segera mengambil sesuatu yang saya inginkan. Akan tetapi, jemari saya bukan makhluk hidup namun bertindak secara mekanis bagaikan mesin. Otak saya membawa perintah saya dan membuat jemari saya bergerak layaknya mesin yang diperintah.

    Badan ini layaknya mesin, namun sang atma, atau jiwa, bukanlah mesin. Jiwa adalah bagian rohani, yang mengendarai badan ini. Karean itu, saya sedang mengendalikan jemari saya karena jemari saya layaknya sebuah instrumen mesin. Akan tetapi, jika saya menyuruh orang lain, mungkin anak atau bawahan saya, saya bisa menyuruhnya melakukan sesuatu namun dia mungkin tidak melakukannya. Jadi ketika sang atma menyalahgunakan kebebasannya yang kecil, sang jiwa jatuh ke dalam kehidupan material. Itulah kehidupan material. Kehidupan material berarti menyalahgunakan kebebasan sang atma.

    Ini sama seperti sang anak. Tugas sang anak adalah mematuhi sang ayah. Mungkin sang anak suatu ketika tidak patuh, dan dia disebut alpa sehingga kedudukannya sebagai anak tidak benar. Begitu pula, ketika sang atma menyalahgunakan kebebasannya yang kecil, atma menjadi lupa dan dikirim ke alam amterial. Kebebasan berarti Anda bisa melakukan apa yang Anda mau.

    Jika kebebasan ini disalahgunakan, Anda bisa menjadi gila. Dalam Veda Bhagavad-gita disebutkan, setelah menyabdakan seluruh Bhagavad-gita kepada Arjuna, Tuhan Sri Krishna memberinya kebebasan. “Kini, semuanya terserah padamu.” Tuhan Sri Krishna tidak pernah memaksa Arjuna untuk menerima ajaran-Nya dalam Bhagavad-gita. Tuhan memberinya kebebasan. Akan tetapi, Arjuna memilih mengikuti Tuhan. “Baik, apa pun yang Engkau katakan akan hamba ikuti.”

    Jadi, jika Anda bertanya mengapa sang jiwa menjadi jatuh dan terperangkap di alam material ini, hal ini karena sang jiwa atau atma menyalahgunakan kebebasannya. Tuhan telah memberikan kebebasan bagi makhluk hidup, dan kita harus menggunakannya dengan kecerdasan kita.

    6 Tanda Suci Umat Hindu

    0

    Ada banyak tanda suci yang dipakai oleh umat Hindu. Walaupun berbeda-beda, tujuannya adalah menandai bahwa mereka adalah para pengikut setia Sanatana Dharma. Jadi, setiap kali Anda melihat seseorang memakai tanda-tanda suci itu di badan mereka, Anda bisa langsung berkata, itu saudara se-Hindu!

    Setiap agama dan keyakinan memiliki atribut suci yang dihormati oleh para pemeluknya. Hindu pun memiliki segudang tanda-tanda dan atribut suci yang dipakai oleh umat Hindu di seluruh dunia. Tanda-tanda suci ini, yang disebut dharmacihna lancana oleh para leluhur Hindu Nusantara, ada beragam dan unik sekali. Ada baiknya jika kawan-kawan Hindu mengenal tanda-tanda suci ini sehingga kita semua bisa saling menghormati. Dengan mengenal makna dan asal mula tanda-tanda suci ini, umat Hindu bisa saling mengerti saudaranya dari belahan lain dunia, dengan adat-istiadat berbeda, dan dengan tatacara pemujaan yang berbeda.

    Ada tanda-tanda suci khas yang dipakai di badan, utamanya di kening. Ada pula atribut suci yang dipakai sebagai perhiasan. Semua itu bertujuan untuk mengingatkan setiap orang bahwa badan ini harus senantiasa disucikan sebab badan ini adalah stana Tuhan. Dengan memakai tanda-tanda dan atribut suci, manusia Hindu diberikan mandat oleh Tuhan untuk senantiasa menjaga sikap, pikiran dan perkataan sebab Tuhan hadir di dalam hati setiap orang sebagai saksi segala perbuatan.

    Menggunakan tanda-tanda suci dan atribut suci bukan berarti untuk menangkal ilmu hitam atau sebagai jimat keselamatan. Banyak orang salah kaprah mengenai hal ini. Apabila seseorang melihat saudaranya memakai tanda-tanda suci, hendaknya dia berpikir bahwa di dalam badan saudaranya itu ada Tuhan sehingga dia harus saling menghormati.

    tanda suci

    Pemakaian tanda-tanda suci bukanlah pertanda bahwa tingkat spiritual seseorang tinggi, melainkan justru mengingatkannya bahwa dia mesti senantiasa rendah hati di hadapan Tuhan dan orang-orang yang patut dihormati. Apabila seseorang memakai tanda-tanda suci namun tidak menunjukkan perubahan pikiran, sikap dan perkataan, maka dia tidak berbeda dengan memakai perhiasan biasa. Perhiasan yang paling utama sesungguhnya adalah bibir yang senantiasa menyebut Nama Suci Tuhan, berkata-kata yang baik, keramah-tamahan, dan perbuatan yang terpuji. Hal-hal tersebut adalah perhiasan yang tidak ternilai harganya.

    1. Tilaka

    Yang paling kentara di antar asemua tanda suci yang dipakai umat Hindu adalah tilaka, atau tanda suci yang dipakai di dahi. Ini adalah ciri khas umat Hindu di seluruh dunia. Semua uma tHindu menulis nama suci Tuhan di dahi dalam wujud tilaka.

    Dalam kitab-kitab suci agama-agama besar di dunia dinyatakan bahwa pada hari kiamat nanti, orang-orang yang diselamatkan Tuhan adalah mereka yang di dahinya tertulis nama Tuhan. Dalam kenyataanya, hanya orang-orang Hindu yang setiap hari menulis nama Tuhan di dahi mereka dalam wujud tilaka.

    Para pemuja Dewa Siva membuat tilaka berwujud tiga garis melintang di dahi, dikenal dengan nama saivita-tilaka. Warnya putih atau merah. Sementara itu, para penyembah Tuhan Sri Krishna, Sri Wisnu atau perwujudan rohani-Nya memakai tanda tilaka berwujud huruf U, yang dikenal sebagai urdhva-pundra.

    Para pemuja Laksmi memakai tanda titik merah di dahi. Umat Hindu di Nusantara memakai bija dari beras putih atau kuning sehabis sembahyang, yang melambangkan bijaksara om kara, wujud Tuhan dalam bentuk suara awal om.

    Pemakaian tilaka ini adalah hal yang wajar bagi umat Hindu, walaupun bentuknya berbeda-beda. Inilah keunikan dan keberagaman Hindu yang harus dikenal dan dilestarikan, dijadikan sebuah kebanggaan sebagai identitas umat beragama.

    Kadang-kadang, tanda suci tilaka dikenal sebagai bhasma dalam literatur Jawa kuno. Para pandita di Bali memakai tanda bintik putih di dahi, dikenal sebagai bhasma. Kadang-kadang, ada campuran cendana dan air suci. Beberapa jenis bahan tilaka terbuat dari lumpur Sungai Gangga yang halus, atau dari gopi candana yang sangat harum.

    2. Sindhura

    Sindhura adalah bubuk merah yang dipakai oleh perempuan Hindu yang sudah menikah. Sindhura biasanya beraroma wangi, dan dipakai di daerah simanta (batas di mana rambut tumbuh di bagian dahi). Seorang perempuan yang memakai sindhura berarti dia telah menikah. Tradisi ini berasal dari Veda sendiri, dan termuat dalam kitab hukum Manava Dharmasastra.

    3. Sikha

    Sikha adalah sejumput rambut yang dibiarkan tumbuh di bagian belakang kepala seorang laki-laki. Beberapa kalangan umat Hindu dalam garis perguruan rohani Veda memakai sikha sebagai ungkapan rasa bhakti mereka kepada tuhan. Para pandita memakai sikha yang mengerucut di puncak kepala, melambangkan lingga, atau kemantapan hati dalam jalan rohani. Jadi, apabila Anda melihat seseorang dengan sedikit rambut panjang di belakang kepalanya, maka Anda kini tahu bahwa itu adalah salah satu atribut suci umat Hindu yang patut dihormati.

    4. Sutra

    Dalam bahasa Sanskerta, sutra berarti benang. Umat Hindu memakai jenis sutra berbeda-beda sesuai dengan fungsinya. Manggala-sutra adalah seuntai kalung (biasanya terbuat dari emas) khas yang dipakai wanita yang telah bersuami. Apabila seorang wanita telah memakai manggala-sutra, maka itu berarti dia telah menikah.

    Benang upavita adalah tanda bahwa seseorang sudah diberikan upacara dvijati dan berhak mengucapkan mantra-mantra Veda. Benang upavita melintang dari bahu kiri ke pinggang kanan seseorang. Dengan benang upavita itu seseorang mengucapkan Gayatri tiga kali sehari.

    Jadi, apabila Anda bertemu saudara Hindu di tempat pemandian umum, lalu Anda melihat benang putih melintang di bahu kiri ke pinggang kanannya, itu berarti bahwa dia telah di­-dvijati dan mengikuti aturan-aturan Veda. Umat Hindu yang telah di-dvijati hendaknya dihormati.

    Bandhana, secara umum bermakna ‘gelang’. Ada gelang tridhatu yang dipakai umum oleh umat Hindu. Para laki-laki hendaknya memakai gelang tridhatu di tangan kanan, dan perempuan di tangan kiri. Ada pula gelan bandhana yang berwarna delapan, mengikuti warna-warna mata angin semesta. Tatkala umat Hindu merayakan otonan, ada gelang bandhana berwarna putih yang diikatkan di pergelangan tangan kanan. Semua itu adalah atribut suci Hindu yang ada dalam Kitab Suci Veda.

    Gelak raksa­­-bandhana dipakai oleh saudara kandung. Benang ini biasanya berwarna merah atau kuning. Gelang raksa-bandhana dipakai oleh sesama saudara kandung agar mereka saling menyayangi dan mengasihi. Yang tua melindungi adiknya, dan adik menghormati kakaknya.

    5. Puspamala

    Pernahkan Anda menyadari bahwa tradisi mengalungkan bunga kepada tamu terhormat adalah tradisi Veda yang sakral? Pemberian kalung bunga (puspamala) adalah tradisi Veda yang luhur, yang ditujukan hanya kepada tamu-tamu terhormat. Apabila Anda berkunjung ke rumah seseorang dan si tuan rumah membawakan Anda kalung bunga yang harum, itu berarti bahwa Anda adalah tamu terhormat.

    Dalam Kitab Suci Veda Brahmanda Purana disebutkan bahwa apabila seseorang memakai kalung bunga prasadam, maka segala penyakit dan kesialan akan sirna dari orang itu. Jadi,  puspamala adalah atribut suci umat hindu. Jika suatu ketika Anda diberikan seuntai puspamala oleh tuan rumah, Anda harus bangga karena Anda adalah tamu yang terhormat.

    6. Danda

    Danda berarti tongkat. Danda dibawa oleh para pandita sebagai salah satu atribut seorang brahmana. Apabila brahmana itu bukan seorang guru kerohanian, atau acarya, maka dia hendaknya memakai tongkat setinggi dahi atau lebih. Seorang brahmana yang menjadi acarya atau guru kerohanian biasanya senantiasa membawa tongkat acarya­-nya, yang terbuat dari kayu-kayu mulia. Seorang pemimpin, dalam hal ini raja, hendaknya juga memiliki sebuah tongkat narapati yang pendek.

    Demikian beberapa atribut suci umat Hindu yang hingga saat ini masih bisa kita saksikan. Ada banyak lagi tanda suci umat Hindu yang unik dan sakral. Dengan mengetahui berbagai tanda suci ini, wawasan kita sebagai umat Hindu akan bertambah. Hendaknya kita tidaklagi saling berpraduga dan memandang sebelah mata ketika melihat saudara se-dharma memakai tanda-tanda suci yang berbeda.

    Bagaimana pun wujud tanda-tanda dan atribut suci itu, semua itu berada dalam payung Hindu yang besar, yang mengayomi berbagai karakter manusia, memangkunya bagaikan seorang ibu yang mencintai anak-anaknya yang berbeda watak.