Desir Hindu di Cakrawala Mesir Kuno (Bag. 1)

0
1248
egypt god

Kali ini perjalanan sejarah tidak akan kita belokkan ke salah satu jalur itu, namun kita mengambil jalan tengah dan merangkul keduanya: antara bukti arkeologi dan peristiwa sejarah. Untuk itu, kita memerlukan sumber pembanding, dan sumber itu kita dapatkan dalam catatan sejarah yang berasal dari zaman yang hampir bersamaan. Dalam hal ini kita mengutip Kitab Suci Mahabharata karena Mahabharata adalah salah satu catatan sejarah tertua yang dimiliki umat manusia. Para ilmuwan meneliti sejarah bangsa Aztec dan Maya di Amerika Tengah, Mesir di Afrika dan Viking di Eropa namun jarang yang mencoba mengulah sejarah dalam Mahabharata. Padahal, usia Mahabharata lebih dari 50 abad, – jauh lebih tua daripada peradaban mana pun yang dikenal manusia modern. Bangsa-bangsa lain mungkin meninggalkan bukti-bukti peradaban yang berusia hampir setua Mahabharata, namun uraian tentang peristiwa apa saja yang terjadi pada masa itu cenderung kabur dan tidak selengkap Mahabharata.

Mengapa Mahabharata tetap ‘awet muda’ sementara buki-bukti peradaban lain menghablur bak ditelan waktu?

Fakta membuktikan, Mahabharata, beserta Kitab-Kitab Suci Veda lainnya dipelihara dalam parampara, atau garis perguruan rohani yangtidak terputus. Garis parampara ini berawal sejah Dewa Brahma menciptakan alam semesta ini, dan berlanjut dari waktu ke waktu hingga kini. Dalam Kitab Veda Bhagavad-gita 4.2 dinyatakan, manakala pengetahuan Veda ini hampir musnah dari masyarakat manusia, maka Tuhan mengutus orang-orang suci atau diri-Nya sndiri turun kebumi untuk meremajakan kembali ajaran Veda tersebut. Nyatanya, Mahabharata serta kisah-kisah Itihasa dan Purana serupa hingga kini masih tetap menarik hati bagi umat manusia. Selain karena Kitab Mahabharata dan Kitab-Kitab Veda lainnya memang dipelihara dalam rangkaian garis perguruan rohani, Mahabharata sendiri adalah kisah nyata yang melibatkan unsur ketuhanan sehingga secara alami jiwa-jiwa yang merindukan Tuhan juga akan tertarik untuk menyelam dalam lautan kisah sejarah Veda ini. Rsi Valmiki, saksi mata dan penulis epos sejarah Ramayana pun menyatakan bahwa selama Sungai Gangga masih mengalir di muka bumi dan gunung-gunung tegak berdiri, selama itu pula Ramayana akan dikenal oleh umat manusia.

Jadi dalam bahasan ini kita akan mencoba masuk di jalan tengah antara arkeologi dan sejarah, di mana kita akan menjadikan Kitab Suci Veda Mahabharata sebagai acuan, dan tentu saja, kita juga akan melirik temuan para sejarawan dan arkeolog sebagai verifikasi.

Dapat kita bayangkan, lima ribu tahun yang lalu, seluruh bangsa berperadaban tinggi di seluruh muka bumi bertemu di Padang Kuruksetra, India Utara, untuk saling tusuk dan tebas. Negeri-negeri dari barat Bharata-varsa seperti Gandhara (kini Kandahar, Afghanistan), Yavana (kini Yunani dan Romawi), Tuskara (kemunginan bangsa Mediterania), dan Andhra (bangsa-bangsa Afrika), termasuk bangsa China (Cina), Kirata (bangsa Asia Timur), dan bangsa-bangsa dari Uttara-Kuru (kini Rusia) iku ambil alih dalam peperangan mahabesar tersebut. Berdasarkan besarnya jumlah bangsa yang turut serta di dalamnya, perang Mahabharata bisa kita sebut sebagai perang dunia yang mengawali sejarah manusia modern karena sebelum perang Mahabharata, – 5.000 tahun lampau, sedikit fakta dan rangkaian peristiwa yang berhasil diteliti oleh para ilmuwan. Beberapa peradaban besar yang hampir sezaman dengan Mahabharata antara lain peradaban Dinasti Qin di Cina, Bailonia (Mesopotamia), Mesir, serta Aztec dan Maya di Amerika Tengah. Dalam Kitab Veda Mahabharata, bagian Vana Parva, Rsi Vyasa menguraikan raja-raja dunia yang hadir pada upacara Rajasuya milik Maharaja Yudhistira:

“Kekayaan yang dimiliki oleh Maharaja Yudhistira, putra Kunti, di Kerajaan Indraprastha tidak akan pernah bisa didapatkan oleh raja-raja lain di muka bumi. Aku melihat semua itu ketika menghadiri upacara Rajasuya. Di samping itu, aku melihat semua raja, bahkan dari bangsa Vanga, Anga, Paundra, Odra, Chola, Dravida, dan Andhaka, serta pemimpin keulauan dan negeri-negeri seberang lautan (mungkin kepulauan Indonesia) dan negeri-negeri tetangga termasuk Simhala (Sri Lanka), negeri-negeri para Mleccha (di daratan-daratan di mana orang-orang tidak mengikuti prinsip agama dengan baik), penduduk asli Lanka, dan semua raja-raja dunia barat yang jumlahnya ratusan, dan semua pemimpin kota-kota tempi pantai, raja-raja bangsa Pahlava, Darada, suku-suku Kirata (Asia Timur) dan Yavana (Yunani), Sakra, Haranuna, Cina, Tukhara, Sindhava (Punjab), Jaguda, Ramatha, Munda, para penduduk negeri wanita dan Tangana, Kekaya, Malava, para penduduk Kasmira (Kashmir), semua tunduk dan takluk karena kekuatan persenjataan Anda, wahai Raja. Mereka semua tunduk hadir memenuhi undanganmu dengan membawa lambing-lambang kerajaan masing-masing.”