Dharma di Tiap-Tiap Zaman

0

catur yugānte kālena
grastāň chruti-gaņan yathā |
tapasā ṛṣayo ‘paśyan
yato dharmaḥ sanātanaḥ ||

“Pada akhir setiap empat zaman, orang-orang suci nan agung, menyaksikan bahwa tugas dan kewajiban sejati umat manusia telah melenceng, dan mereka dating untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip keagamaan (dharma) (Veda Śrīmad Bhagavatam 8.14.4)

Ayat tersebut menyatakan bahwa pada akhir setiap zaman, orang-orang suci nan agung, ketika melihat dharma umat manusia disalahgunakan, mereka menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang kekal. Para sādhu, atau orang-orang suci, dan śāstra, Kitab Suci Veda, telah menyinggung semua hal ini. Śrīla Prabhupāda telah menjelaskan di sini bahwa dari Zaman Kali prinsip-prinsip keagamaan dan hal-hal yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban umat manusia (dharma) merosot secara perlahan.

Pada Zaman Satya, prinsip-prinsip keagamaan dilaksanakan dengan sepenuhnya tanpa penyimpangan. Dinyatakan bahwa dharma memiliki empat pilar yaitu tapasya, śauca dayā dan satya: pertapaan, kesucian, cinta kasih, dan kejujuran. Pada Zaman Satya, keempat pilar ini utuh, sedangkan pada Zaman Kali tiga pilar yaitu pertapaan, kesucian dan cinta kasih telah runtuh. Hanya kejujuran, satya, yang masih utuh.

Nama suci Tuhan Sri Krishna adalah kebenaran mutlak, nama suci ini menjaga pilar dharma yang terakhir, yaitu kejujuran (satya), sehingga dharma pada Zaman Kaliyuga ini adalah pengucapan nama-nama suci Tuhan Sri Krishna (Harināma Saṅkirtana).

Apakah yang menyebabkan ketiga pilar ini rusak? Penyebabnya adalah rasa bangga, seks bebas dan mabuk-mabukan. Ketiga pilar ini rusak karena tiga hal tersebut. Oleh karena rasa bangga, tapasya atau pertapaan menjadi hilang. Karena seks di luar nikah atau pemenuhan nafsu, śauca, atau kesucian menjadi hilang. Kemudian, akibat mabuk-mabukan, dayā, atau cinta kasih menjadi hilang dan sang jiwa menjadi kejam dan tidak memiliki belas kasihan.

Pertapaan, kesucian dam cinta kasih mempertahankan kemuliaan kejujuran, satya, pada zaman tersebut. Maka dari itu, nama zaman tersebut adalah Satyayuga dan dharma pada zaman tersebut adalah dhyāna, atau meditasi.

Meditasi bisa dilakukan pada Zaman Satya, namun pada Zaman Kali, dhyāna atau meditasi tidak bisa dilakukan lagi dengan tepat untuk mencapai Tuhan.

Pada Zaman Tretāyuga, pilar tapasya atau pertapaan, runtuh. Ketika pertapaan hilang, ada tiga pilar yang masih tersisa yaitu śauca, dayā dan satya: kesucian, cinta kasih dan kejujuran. Oleh karena itu, apada Zaman Tretā, dharma yang dilakukan untuk mencapai Tuhan adalah yajňa atau korban suci: tretāyāṁ yajato makhaiḥ (Śrīmad Bhagavatam 12.3.52), makhaiḥ artinya yajňa atau korban suci.

Di Zaman Dvapara, dua pilar yaitu tapasya dan śauca: pertapaan dan kesucian menjadi hilang. Kedua tiang ini hilang karena rasa bangga dan seks di luar aturan. Dharma untuk Zaman Dvapara adalah pemujaan arca secara mewah.

Pada Zaman Kali, ketiga pilar hilang karena pengaruh seks di luar aturan, mabuk-mabukan dan rasa bangga. Hanya kejujuran saja yang masih tersisa. Untuk menjaga pilar yang terakhir yaitu kejujuran, dharma pada Zaman Kali adalah hari-saṅkīrtana, pengucapan nama suci Tuhan Śrī Krishna.

Dalam Kitab Suci Veda Śrīmad Bhagavatam dibahas mengenai bagaimana Mahārāja Parīkṣit memberikan izin kepada kepribadian Kali untuk tinggal di tempat di mana terdapat perjudian, minum-minuman keras, pelacuran, dan tempat dilakukannya pembantaian binatang.

Wacana oleh Srila Gour Govinda Svami Maharaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here