Empat Jenis Kelemahan Manusia

0
1009
siluet orang

Karena empat jenis kelemahan inilah manusia tidak dapat menjangkau Tuhan melalui indera-indera dan pikirannya yang terbatas. Jalan satu-satunya adalah bahwa Tuhan memperkenalkan diri Beliau sendiri melalui tiga otoritas pengetahuan, yaitu Kitab Suci Veda, garis perguruan rohani di mana Veda itu turun dan diteruskan, serta para acarya atau guru kerohanian yang melanjutkan misi Kitab Suci Veda ini.

Kitab Suci Veda mengemukakan tiga jalan mencari pengetahuan, yaitu dengan oberservasi indriya, menarik kesimpulan berdasarkan gejala-gejala dan hubungan antivariabel, dan dengan bertanya kepada otoritas pengetahuan. Sejauh mana ketiga jalan tersebut dapat mengungkapkan kebenaran dijelaskan oleh Yang Suci Rohani Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Maharaja (Dr. T.D. Singh, Ph.D) dengan lugas berdasarkan fakta dan rujukan abash dari Kitab Suci Veda.

  1. Pratyaksa (Persepsi Langsung)

Menurut Vedanta pengetahuan yang diperoleh secara langsung melalui bantuan indria-indria disebut pratyaksa. Indria-indria kasar meliputi: mata (pengelihatan), telinga (suara), hidung (bau), kulit (sentuhan) dan lidah (rasa). Selanjutnya, pikiran dianggap sebagai indria yang lebih halus atau indria ke enam dan melalui pikiran, seseorang dapat memperoleh pengetahuan. Menurut pendekatan Vedanta, peranan Pratyaksa sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Namun akibat keterbatasan fisik indria-indria, pengetahuan yang didapat melalui pratyaksa mungin tidak sempurna. Sebagai contoh: orang buta atau orang gila mempunyai keterbatasan dalam memperoleh pengetahuan melalui mata dan pikiran mereka. Akan tetapi bagi orang normal yang seluruh indrianya dalam keadaan baik dapat memperoleh pengetahuan melalui semua indrianya dan akan memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada orang buta atau orang gila tersebut. Dalam kondisi normal, pengetahuan yang diperoleh melalui Pratyaksa memiliki empat keterbatasan. Karena itu pendekatan bottom-up tidak mampu memberikan pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan. Namun dalam tradisi Vdanta, seorang praktisi spiritual dilatih untuk menyempurnakan indria-indrianya dengan menjalani disiplin spiritual yang ketat sehingga indria dan pikirannya dapat disucikan sepenuhnya. Pada tingkatan tersebut, indria-indria material sepenuhnya diubah menjadi rohani sehingga seseorang secara langsng dapat menerima pengetahuan tentang Realitas Tertinggi melalui Pratyaksa. Karena itu, seorang rohaniwan yang maji dapat menerima pengetahuan melalui cara ini.

Dalam Kitab Suci Veda Bhagavad-gita (9.2), Tuhan Sri Krishna menjelaskan kepada teman sekaligus murid-Nya, Arjuna :

rāja-vidyā rāja-guhyaṁ
pavitram idam uttamam
pratyakṣāvagamaṁ dharmyaṁ
su-sukhaṁ kartum avyayam

“Pengetahuan ini adalah raja pendidikan yang paling rahasia dari segala rahasia. Inilah pengetahuan yang paling suci dan karena ia memberikan persepsi langsung tentang sang diri melalui keinsafan, inilah kesempurnaan agama. Pengetahuan ini bersifat kekal dan dilaksanakan dengan riang.”

Dalam sloka ini, Tuhan Sri Krishna mengajarkan kepada Arjuna bahwa pengetahuan tentang pelayanan bhakti kepada Tuhan adalah yang paling rahasia, suci dan tertinggi. Pengetahuan ini diterima secara langsung (pratyaksa) oleh pelayan Tuhan yang tulus dan berkualifikasi karena ia telah mencapai tingkatan penycian yang sempurna serta seluruh indria termasuk pikirannya telah disuikan sepenuhnya melalui latihan disiplin spiritual yang lama dan serius. Agar menjadi berkualifikasi untuk menerima pengetahuan dengan cara ini, seseorang memerlukan kualifikasi spiritual dan penyucian indria-indria secar akhusus melalui prinsip-prinsip yang mengatur.

 

  1. Anumana (menarik kesimpulan)

Walaupun kemampuan indria-indria manusia terbatas, pencarian pengetahuan dalam tradisi Vedanta adalah mengetahui kebenaran mutlak yang melampaui batas indria-indria material. Anumana berarti penyimpulan terhadap suatu objek yang tidak diketahui berdasarkan hubungan obyek tersebut dengan obyek lain yang dapat diamati melalui indria. Sebaga contoh: aliran partikel-partikel alfa yang bermuatan listrik akan meninggalkan jejak ion ketika ia melintasi gas dalam ruang awan (Cloud Chamber). Ketika uap air mengembun di atas ion-ion tersebut, lintasan partikel alfa tampak seperti garis tetesan air. Jadi, walaupun ketika tidak dapat melihat partikel-partikel alfa, kita dapat menyimpulkan keberadaannya melalui lintasan tetesan air yang mengembun di atas ion-ion. Begitu pula lintasan electron dapat diperkirakan ketika Sinar X melewati ruang awan. Terbentuknya kerangka acuan seperti ini melibatkan logika. Mislanya menyimpulkan keberadaan partikel-partikel fundamental yang bermuatan listrik dari lintasan titik-titik air akan melibatkan argument-argumen logis yang berdasarkan atas beberapa fakta empiris. Dengan kata lain, anumana melibatkan logika.