Fakta Hindu – Menegakkan Kesucian Tempat Suci

0
pura ulundanu
pura ulundanu

Secara umum siapa pun tahu bahwa tempat suci umat Hindu adalah pura. Selain pura, ada pula merajan (sanggah), ashram, mandir dan sebagainya. Tempat-tempat suci tersebut ditujukan untuk memuja Tuhan dan membina kerohanian umat. Karena itu, menjaga kesucian tempat suci sangatlah penting. Bersembahyang ke tempat suci bertujuan untuk menetralkan pengaruh-pengaruh sifat-sifat kebodohan dan kegelapan, sehingga jika tempat suci tidak dijaga kesuciannya, vibrasi rohani tidak akan terpancar.

pura ulundanu
Pura Ulundanu oleh Anggara Giri Photography

Kesucian Tempat Suci Menurut Veda

Hal pertama untuk menjaga kesucian tempat suci adalah bahwa tempat secara fisik dan rohani harus dijaga. Penjaga tempat suci haruslah orang suci yang menegakkan empat printsip dharma yaitu kesucian, pengendalian diri, cinta kasih dan kejujuran, serta menekuni Kitab Suci Veda. Penjaga tempat suci, siapa pun mereka, – apakah disebut pendeta, guru kerohanian, acarya, pujari, pemangku, dan sebagainya – hendaknya tidak merokok, tidak minum kopi dan teh. Penjaga tempat suci hendaknya juga tidak berjudi, tidak mabuk-mabukan, dan tidak makan daging, ikan dan telur. Hendaknya ia juga senantiasa berpuasa dan menyampaikan ajaran kitab suci setiap hari kepada umat yang dengan tulus datang untuk mendengarkan ajaran Kitab Suci Veda. Penjaga tempat suci juga harus menekuni Kitab Suci Veda di bawah bimbingan garis perguruan yang benar.

Kedua, di tempat suci pemujaan dilakukan setiap hari oleh penjaga tempat suci sehingga umat kapan pun dapat datang ke tempat suci untuk bersembahyang. Ada banyak kasus yang terjadi akibat tempat suci yang tidak dijaga, misalnya pencurian pratima, pencurian kotak dana punia atau pengrusakan tempat suci. Karena itu, jika pemujaan terus dilakukan di tempat suci, maka tempat suci akan menjadi aktif dan umat akan datang untuk bersembahyang. Dalam setiap persembahyangan, siapa pun yang datang ke tempat suci hendaknya diberikan prasadam atau makanan suci yang telah dipersembahkan kepada Tuhan (di Bali disebut lungsuran), karena prasadam akan menyucikan hati dan pikiran dari kontaminasi material. Para acarya, pendeta, guru kerohanian dan pemangku haruslah memberikan contoh terdepan dengan senantiasa makan prasadam, atau makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan (lungsuran).

Kemudian, Kitab Suci Veda juga harus dibacakan setiap hari di tempat suci. Kita bisa melihat dan mengambil contoh yang baik dari saudara-saudara kita umat beragama lain. Tempat ibadah mereka selalu penuh dengan suara ayat-ayat suci setiap hari. Kita bisa memanfaatkan tempat suci setiap hari sebagai tempat belajar Veda sehingga umat yang datang ke tempat suci, siapa pun dia, akan mendapatkan pengetahuan rohani setiap kali bersembahyang. Masyarakat pun secara otomatis dan secara alami sudah terdidik untuk belajar dan mengetahui ajaran Kitab Suci Veda serta penerapannya dalam kehidupan mereka. Tentu itu adalah hal yang sulit secara sempurna, namun minimal masyarakat secara umum akan terdidik, bukan sebaliknya menjadi orang yang awam akan agamanya. Agama yang seharusnya memperkenalkan siapa Tuhan, orang suci, kitab suci dan sebagainya.

pura lempuyang
Pura Lempuyang oleh Anggara Giri Photography

Tempat Suci dan Pariwisata

Apa pun alasannya, tempat suci tidak boleh dikomersilkan. Siapa pun dia, dari golongan mana pun, harus mengikuti aturan tempat suci. Saat ini, orang-orang asing yang masuk ke tempat suci tidak mendapatkan vibrasi kesucian daritempat suci karena mereka tidak mengikuti aturan dan peraturannya.

Jika mereka datang ke tempat suci, pihak pengelola tempat suci bisa mengajak mereka mendengarkan Kitab Suci Vda dan memberi mereka makanan rohani, yang disebut prasadam atau lungsuran. Dengan memakan prasadam, siapa pun dia, pasti akan disucikan dari reaksi-reaksi dosa dan perlahan-lahan bisa mengerti tentang keagungan Tuhan. Selama ini, tempat suci hanya menjadi tontohnan wisata bagi turis-turis asing maupun domestik.

Namun jika kegiatan rohani seperti pembacaan kitab suci dilaksanakan di tempat suci secara teratur, sehingga kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan Kitab Suci Veda kepada orang-orang yang datang akan semakin bertambah, dan kewibawaan Hindu dan Veda akan semakin terang. Orang-orang yang datang ke tempat suci sedikit tidaknya harus mendapatkan wejangan rohani dari orang suci yang menjaga tempat suci, mendapatkan air suci dan makan makanan yang suci, walaupun hanya sepotong kue kecil yang sudah dipersembahkan kepada Tuhan.

Menurut Veda, ada empat hal yang dilarang di Zaman Kaliyuga, salah satunya adalah mempersembahkan daging kepada Tuhan, dewa dan leluhur, sehingga dalam hal ini, prasadam atau lungsuran adalah bersifat sattvika. Orang-orang yang datang hendaknya diberikan kesempatan berdana punia, dan buka diwajibkan membayar. Dengan itu, semua pihak akan mendapatkan karunia berupa kesadaran rohani yang semakin berkembang sehingga kesempatan untuk moksa, pulang kembali kepada Tuhan, akan semakin terbuka. Agama dan kegiatan keagamaan buka nbarang tontonan, tetapi sesuatu yang harus diimani dan diikuti.  Ajaran Hindu yang berdasarkan Kitab Suci Veda adalah ajaran rohani yang kekal, yang layak dan patut diikuti oleh semua orang. Bahkan para dewa pun menerapkannya di surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here