Fakta Hindu – Kalki Avatara Tidak Akan Segera Turun

0
1351

Keajaiban bukan hal yang bisa dilihat setiap hari. Ada manusia yang ajaib, ada binatang ajaib, dan sebagainya. Hal-hal mistik dan di luar nalar manusia sering dikaitkan dengan Tuhan, sehingga umat manusia tertarik kepada kekuatan supranatural tersebut dan menganggap itu adalah mukjizat Tuhan. Mirip halnya dengan kedatangan Kalki-avatara. Banyak kalangan yang menganggap bahwa Kalki-avatara telah turun. Tidak sedikit pula yang mengakui diri sebagai Kalki-avatara yang akan menyelamatkan dunia. Sebenarnya, siapa Kalki-avatara dan kapan Dia turun? Apa saja kegiatan-kegiata-Nya? Kitab Suci Veda menguraikan semua itu dan kita akan melihat ringkasannya dalam artikel ini.

Mungkin pernah kita membaca atau mendengar, ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa Nabi besar Muhammad adalah Kalki-avatara. avatara terakhir di Zaman Kaliyuga. Akan tetapi benar atau salahnya anggapan itu harus diteliti sesuai dengan petunjuk yang ada dalam Kitab Suci. Jika kita menganggap si A adalah si B dan si sama dengan si A lantaran ada kemiripan nama, ciri atau pakaian, maka itu tidak akan membawa kita pada suatu kebenaran. Sebaliknya, baik si A maupun si B akan merasa tidak berkenan. Karena itu, baik si A maupun si B harus kita kenal berdasarkan ciri-ciri dan uraian yang lengkap. Begitu pula, menganggap seseorang sebagai utusan Tuhan tidak berdasarkan uraian kitab suci tidak akan mengantarkan umat manusia menuju pencerahan.

Ada banyak kalangan yang mengagungkan orang lain sebagai Kalki-avatara dan tidak sedikit pula yang mengklaim bahwa Kalki-avatara telah turun. Akan tetapi, kebenaran tentang hal itu harus kita lihat berdasarkan apa yang disampaikan oleh Kitab Suci Veda. Jika kita mencoba mengenal Tuhan atau avatara-Nya secara membabi-buta, maka hal tersebut tidak hanya menciptakan kebingungan umat yang sedang tekun dalam jalannya masing-masing, namun juga membuat kesalahan terhadap Tuhan dan utusan-Nya. Ada banyak inkarnasi atau avatara Tuhan. Inkarnasi Tuhan ini, menurut Kitab Suci Veda, berbeda dengan utusan Tuhan. Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam 1.3.26 menyatakan:

avatārā hy asaṅkhyeyā hareḥ sattva-nidher dvijāḥ
yathāvidāsinaḥ kulyāḥ sarasaḥ syuḥ sahasraśaḥ

“Wahai para Brahmana, inkarnasi Tuhan Sri Hari (Krishna) tidak terhitung banyaknya, seperti jumlah air yang mengalir di mata air.” Semua wujud inkarnasi itu kekal dan selamanya bersemayam di dunia rohani. Akan tetapi, di antara semua wujud rohani Tuhan.”

kalki avatara
Kalki Avatara

Kitab Veda Srimad Bhagavatam 1.3.28 secara tegas dan khusus menyebutkan: krsnas tu bhagavan svayam: Tuhan Sri Krishna adalah wujud Kepribadian Tuhan yang asli. Semua wujud-Nya yang lain adalah ekspansi penuh diri-Nya sendiri (disebut ekspansi svamsa), atau ekspansi sebagian dari diri-Nya yang memiliki potensi atau kemahakuasaan sebagian dari diri-Nya (ini disebut ekspansi vibhinannamsa). Semua ekspansi tersebut kadang turun ke dunia material ini untuk melaksanakan tugas tertentu. Tuhan Sri Krishna menurunkan ekspansi-Nya sendiri, yang tidak berbeda dengan diri-Nya sendiri khususnya jika pelaksanaan prinsip-prinsip dharma (keagamaan) mengalami kemerosotan di setiap planet dan jika para ateis dan orang-orang jahat merajalela. Jadi, Tuhan tidak hanya berinkarnasi di bumi, namun di seluruh planet di alam semesta. Pada Zaman Kaliyuga, selama beratus-ratus tahun bumi dipenuhi oleh kekacauan dan ketimpangan dalam masyarakat. Kitab Suci Veda memprediksi bahwa pada akhir Zaman Kaliyuga yang berlangsung selama 432.000 tahun manusia. 

Kemunculan Kalki-avatara

Tuhan sendiri akan turun dalam wujud Kalki untuk menegakkan kembali tatanan masyarakat yang rohani (varnasrama dharma). Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam 1.3.25 menyatakan:

athāsau yuga-sandhyāyāṁ dasyu-prāyeṣu rājasu
janitā viṣṇu-yaśaso nāmnā kalkir jagat-patiḥ

“Setelah itu, menjelang peralihan Zaman Kaliyuga ke Zaman Satyayuga berikutnya, Tuhan Penguasa Semesta akan muncul di muka bumi dengan nama Kalki dan menjadi putra Visnuyasa. Pada saat itu, mental para penguasa dunia telah merosot menjadi perampok.”

śambhala-grāma-mukhyasya brāhmaṇasya mahātmanaḥ
bhavane viṣṇuyaśasaḥ kalkiḥ prādurbhaviṣyati
||
12.2.8 ||

“Tuhan Kalkideva akan muncul di kediaman berhmana terkemuka dari Desa Sambhala bernama Visnuyasa.”

yarhy ālayeṣv api satāṁ na hareḥ kathāḥ syuḥ
pāṣaṇḍino dvija-janā vṛṣalā nṛdevāḥ
svāhā svadhā vaṣaḍ iti sma giro na yatra
śāstā bhaviṣyati kaler bhagavān yugānte
|| 2.7.38 ||

“Pada akhir Zaman Kali, ketika tidak ada lagi pembicaraan tentang Tuhan, bahkan di kediaman orang-orang yang namanya saja orang suci dan orang-orang terhormat dari tiga varna yang lebih tinggi, dan ketika kekuasan pemerintah jatuh ke tangan menteri-menteri yang dipilih dari golongan sudra yang berkelahiran rendah (tidak beradab) atau orang-orang barbar yang lebih rendah lagi  dan ketika manusia melupakan tentang cara pelaksanaan korban suci kepada Tuhan bahkan dengan kata-kata, saat itulah Tuhan muncul sebagai penghukum tertinggi.”

kalki avatara god
Kalki Avatara

Kalki Bukanlah Utusan Melainkan Tuhan Sendiri

Kata bhagavan berarti Tuhan, bukan dewa, leluhur, nabi atau manusia. Tuhan berbeda dengan dewa, nabi atau manusia. Hanya Tuhan yang diberi gelar bhagavan dalam Kitab suci Veda. Jadi Kalki adalah Tuhan yang muncul di dunia ini, buka utusan Tuhan atau dewa. Dalam ayat 1.3.25, kata namna berarti ‘menyandang nama’ atau ‘memakai nama.’ Dengan jelas dapat kita simpulkan bahwa nama inkarnasi Tuhan adalah Kalki, sehingga Kalki bukanlah nama samaran atau nama rujukan pada satu kepribadian. Kitab Suci Veda Bhaktirasamrta Sindhu yang disusun oleh Srila Rupa Gosvami menyatakan bahwa nama, bentuk, sifat dan kegiatan Tuhan berada dalam tataran mutlak dan kekal. Jadi, nama Kalki juga adalah kekal. Jika Kitab Suci Veda menyebutkan nama Tuhan, maka seperti itulah adanya. Sebagai contoh, Srimad Bhagavatam yang sama menyebutkan dua puluh inkarnasi utama Tuhan Sri Krishna dari awal Kalpa hingga kini, dan semua nama inkarnasi tersebut bukanlah nama samara, rujukan, istilah atau sebutan, melainkan nama sesungguhnya, misalnya Narasmiha, Rama, Varaha, Kurma, Dattatreya, Vyasa, Parasurama, dan sebagainya. 

Kitab Suci Veda tidak pernah menyebutkan bahwa Rama Avatara adalah sosok pribadi dengan nama yang lain, misalnya Pak X atau Y. Singkatnya, nama yang disebutkan dalam setiap ayat Veda adlah nama yang sesungguhnya, demikian pula nama tempat dan peristiwa. Inilah bukti bahwa Kitab Purana adalah kitab yang memuat peristiwa-peristiwa sejarah di masa lampau yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan Tuhan di muka bumi, di planet lain, atau di kediaman-Nya di dunia rohani, Vaikuntha.

Apakah Kitab Suci Veda tidak perlu ditafsirkan?

Pertama, Kitab Suci Veda turun dari dunia rohani, yang adalah nimesardhakhyu va brajati na hi yatrapi samayah, yang tidak diliputi oleh masa lalu, masa kini dan masa depan. Segala sesuatu telah ada di dunia rohani, dan Kitab Suci Veda memuat hanya sepercik kemuliaan tentang Tuhan dan dunia rohani. Karena Kitab Suci Veda tidak dapat ditafsirkan secara duniawi dan kebenaran yang tertuang di dalamnya tidak bisa dijangkau oleh alam pikiran duniawi. Karena itu, Kitab Suci Veda Mahabharata menyatakan:

acintyāḥ khalu ye bhāvā na tāṃs tarkeṇa yojayet
|| Mahabharata, Bhisma-parva 5.22 ||

“Hendaknya engkau jangan mencoba untuk mengerti Tuhan dengan angan-angan, tafsiran dan spekulasimu sendiri.”

Kedua, karena Kitab Suci Veda bersifat rohani, mutlak dan di luar jangkauan pikiran manusia, bagaimana mungkin orang-orang duniawi yang belum menginsafi Tuhan dapat memberikan tafsiran yang benar? Jika para penganut Veda yang awam saja cenderung keliru dan perlu bimbingan rohani yang tepa dalam mempelajari Veda, bagaimana kita bisa berpikir bahwa tafsiran orang-orang yang menentang Veda bisa jadi lebih akuran dan benar? Ketiga, jika kita berbicara tentang tokoh dan peristiwa sejarah, kita tidak berbicara tentang perumpamaan. Sejarah adalah fakta, dan tokohnya juga adalah fakta. Karena Kitab Sejarah Purana bersifat mutlak dan diturunkan dari dunia rohani, baik masa lalu, masa kini dan masa depan semua berada dalam jangkauan sejarah.