Naga, Benarkah atau Hanya Mitos?

0
1760
naga
naga

Dalam kebudayaan kuno yang berkembang di Cina, India, Eropa bahkan Asia Tenggara, figure naga hampir selalu menjadi fokus. Dalam kisah-kisah Purana (sejarah) India, beberapa nama naga seperti Anantasesa, Vasuki dan Taksaka tercatat dalam relung-relung sejarah bersama-sama tokoh lain seperti para Manu, dewa-dewa, resi dan bahkan Tuhan sendiri. Dalam Kitab Suci Veda, banyak uraian tentang kerajaan surge yang dipimpin oleh Dewa Indra dengan banyak makhluk ajaib yang menghuninya, dan salah satunya adalah para uraga (naga atau ular) yang memiliki kekuatan mistik. Dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavata Purana, disebutkan bahwa Naga Taksaka adalah naga yang terbang dan memiliki sayap. Naga inilah yang menggigit Maharaja Pariksit dengan bisanya yang berupa tetasan api hingga badan Maharaja hangus menjadi abu. Kitab Mahabharata juga menyebut sejarah ini terjadi sekitar 50 abad silam ketika Zaman Kaliyuga dimulai. Kebudayaan-kebudayaan lain juga menyebut ada berbagai jenis naga. Di Cina misalnya, ada naga air, naga api, naga udara, dan sebagainya. Di Tanah Eropa, naga yang dominan dikisahkan dalam legenda para ksatriya adalah naga yang mengeluarkan api dan memiliki sayap. Dalam kisah Yunani, naga dikatakan menghuni bumi dan angkasa, sementara di Inggris, pendiri kerajaan Inggris adalah seorang ksatriya yang berhasil membunuh seekor naga dengan pedangnya.

Hingga kini, kita masih dapat melihat naga-naga yang menunjukkan keperkasaan dan peran penting mereka dalam sejarah manusia zaman dahulu. Dalam berbagai kitab suci, legenda-legenda atau peninggalan prasasti dan hasil kebudayaan lain naga tetap menjadi figure yang tidak bisa disembunyikan dan mengundang pertanyaan: apakah mereka memang makhluk yang benar-benar ada pada zaman dahulu? Lalu mengapa kini mereka lenyap? Jika mereka lenyap, apa yagn menyebabkan dan kemana mereka pergi? Hingga kini, kita masih dapat melihat naga-naga yang menunjukkan keperkasaan dan peran penting mereka dalam sejarah manusia zaman dahulu. Dalam berbagai kitab suci, legenda-legenda atau peninggalan prasasti dan hasil kebudayaan lain naga tetap menjadi figure yang tidak bisa disembunyikan dan mengundang pertanyaan: apakah mereka memang makhluk yang benar-benar ada pada zaman dahulu? Lalu mengapa kini mereka lenyap? Jika mereka lenyap, apa yang menyebabkan dan kemana mereka pergi?

naga

Pada tahun 1996, sekelompok arkeolog di Desa Guan Ling, Cina, menemukan fosil makhluk aneh yang diduga adalah naga. Ini membuka kembali tabir misteri tentang kebeadaan naga. Dalam bidang sains, makhluk yang disebut naga adalah makhluk reptile raksasa yang hidup pada periode Mesozoikum, sekitar 250 – 65 juta tahun lalu. Pada zaman ini, berdasarkan bukti-bukti fosil, bumi konon dihuni para naga yang disebut dinosaurus. Akan tetapi, fosil yang ditemukan oleh arkeolog di Desa Guan ling ini lebih menyerupai wujud naga dalam legenda. Fosil ini relative mudah diidentifikasi dengan Panjang 7,6 meter, Panjang kepala 76 cm dan lingkar leher 54 cm. Badannya memiliki Panjang 2,7 m dan lebarnya 68 cm. Bagian ekor memiliki panjang 3,7 m. Ajaibnya, kepala naga ini bebentuk segitiga dengan lebar mulut 43 cm. Naga ini bertanduk menjulang dengan panjang 27 cm. Tanduknya melengkung ke samping. Menurut sumber, fosil naga ini mirip figure naga-naga yang dinyatakan dalam legenda.

Fosil aneh itu dipamerkan pada tahun 2007 silam di Xinwei Ancient Life Fossils Museum di Anshun, Guizhou, China. Penemuan langka, unik dan ajaib ini kontan membuat sejumlah peneliti yang penasaran melakukan penelitian lebih lanjut di wilayah sekitar sana untuk menemukan bukti-bukti lebih lanjut dan memverifikasi fosil naga yang pertama sehingga dugaan kepalsuan bisa dielakkan. Pada tahun 2007, sebuah temuan lain didapatkan di Fuyuan, Cina barat daya. Kali itu, temuan penduduk berupa fosil naga kecil yang menempel di bebatuan dalam sebuah gua di lereng bukit. Penduduk yang menemukan fosil ini menyatakan mereka sangat antusias tentang penemuan tahun 1996 silam dan beusaha menemukan sisa-sisa kehidupan naga yang sangat erat dengan kepercayaan mereka. Mereka pun mencari penghasilan dengan cara menjual fosil-fosil kepada para ilmuwan.