Desir Hindu di Cakrawala Mesir Kuno (Bag. 2)

0
734
egypt god

Negeri Maharaja Sagara

Daerah Timur Tengah dan Afrika bagian Utara disebut Kusadvipa pada zaman Veda. Secara umum, ilmu Geografi Veda menguraikan bahwa ada tujuh wilayah di muka bumi yang pembagian wilayahnya hampir mirip dengan benua-benua masa kini. Wilayah Kusadvipa disebutkan sebagai salah satu di antara tujuh wilayah bumi.

Wilayah Mesir (yang kini sebagian tertutupi Gurun Sahara) dikisahkan dalam Kitab Veda bagian Purana dan Itihasa. Meskipun dalam Rigveda terdapt data-data mengenai nama-nama lokasi penting di dunia, uraian tentang peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan kaitannya dengan peristiwa lain.

Pada zaman Satyayuga hingga Dvaparayuga, bumi diperintah oleh dua dinasti kerajan besar yang raja-rajanya berasal dari keturunan Dewa Surya dan Candra. Karena itu kedua dinasti ini disebut Surya-vamsa dan Candra-vamsa. Dinasti Surya berasal dari Dewa Surya lalu kepada Manu Vaivasvata. Salah satu raja pada awal trah Dinasti Surya adalah Bahuka. Bahuka dikalahkah oleh musuhnya sehingga meninggalkan kerajaan bersama isrinya yang sedang mengandung.

Ketika sampai di hutan dan tinggal beberapa lama, Bahuka meninggal dunia. Istri Bahuka yang sedang mengandng brniat menceburkan diri ke dalam api pembakaran suaminya, namu Rsi Aurva melarangnya karena bayi dalam kandungannya juga akan eninggal. Beberapa waktu kemudian, isri-istri muda Bahuka yang belum memperoleh keturunan mencampurkan racun pada makanan sang istri pertama sehingga racun itu hampir membunuh janinnya.

Atas kekuatan mistik Rsi Aurva, efek racun itu diredam agar tidak sampai membunuh sang janin. Janin itu akhirnya dilahirkan bersamaan dengan keluarnya racun dari dalam kandungan ibunya. Anak ini diberi nama Sagara, yang berarti ‘lahir bersama racun’.

Dikisahkan beberapa yuga setelah itu, Dewa Indra melakukan perbuatan berdosa dengan membunuh seorang brahmana. Ketika memenggal kepala brahmana bernama Visvarupa, Dewa Indra memikul dosa berat yang disebut brahmahatya, – membunuh seorang brahmana. Dewa Indra memberikan seperempat reaksi dosanya kepada bumi, sehingga beberapa persen permukaan bumi berubah menjadi gurun yang tandus.

Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam, Skanda Keenam menjelaskan bahwa karena gurun merupakan efek reaksi dosa Dewa Indra, maka tidak ada upacara yadya apa pun yang bisa di lakukan di daerah gurun pasir. Wilayah kekuasaan Maharaja Sagar ayang dahulunya adalah hutan lebat akhirnya menjadi gurun pasir debgab sebutan yang sama, yaitu Sagara (Sahara). Penyimpangan kata ini juga terjadi pada istilah gopi dalam Bahasa Sanskerta yang menjadi hopi dalam bahasa Navajo, Indian Amerika Utara dengan arti yang sama, yaitu ‘para gadis muda’.

Tahun 2008 lalu, sekelompok arkeolog dari Universitas Portsmouth, Inggris yang meneliti Gurun Sahara membuktikan bahwa pada era Mesozoikum, Sahara adalah sebuah hutan belantara. Beberapa temuan fosil berupa tulang dinosaurus pemakan tumbuhan dan bongkahan kayu raksasa di wilayah Maroko membuktikan bahwa Sahara pada seitar 100 juta tahun yang lalu adalah zona layak huni bagi vegetasi hutan tropis. Uniknya, menurut perhitungan sala waktu Veda, Maharaja Sagara memerintah setelah zaman itu, dan Sahara diperikarakan berubah menjadi gurun pasir sekitar 90 juta tahun yang lalu, pada masa-masa awal zaman Manvantara Vaivasvata (100 juta tahun lalu – sekarang).

Maharaja Sagara adalah keturunan jauh dari Vaivasvata Manu, dan era kekuasaannya hampir sezaman dengan peristiwa pembunuhan Brahmana Visvarupa oleh Indra. Akan tetapi, karena peristiwa pembunuhan itu terjadi di planet surga yang memiliki renang waktu jauh lebih lama daripada di bumi, efek reaksi dosa Dewa Indra berupa gurun pasir bisa jadi terasa di bumi bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam, Skanda 9, Bab 8 dinyatakan bahwa Maharaja Sagara menurunkan bangsa-bangsa Yavana, Saka, Haihaya, dan Barbara, yagn semuanya tergolong bangsa Mleccha yang juga adalah bagian dari keturunan raja-raja zaman dahulu. Kemudian, berangsur-angsur beberapa rumpun bangsa Mleccha ini meninggalkan kesucian, pertapaan, cinta kasih, dan kejujuran akibat pengaruh zaman Kaliyuga.