Desir Hindu di Cakrawala Mesir Kuno (Bag. 2)

0
734
Peradaban Veda yang hilang

Pengaruh peradaban Veda selama beribu-ribu tahun pada kehidupan dunia tentu saja tidak begitu saja udah dilupakan dan ditingalkan. Kita bisa melihat buktinya dalam sejarah modern, tatkala istilah-istilah dan budaya warisan Belanda masih mewarnai kehidupan Indonesia modern yang kini telah berusia hampir seabad. Begitu pula, kebudayaan dan sistem kepercayaan bangsa Mesir Kuno memiliki hubungan yang sanat erat dengan peradaban Veda (Hindu) karena hampir seluruh bangsa di dunia dahulunya adalah para penganut Veda.

Selama gencarnya penelitian tentang Mesir pada abad ke-19, para arkeolog (terutama yang berkebangsaan Inggris) menemukan gambaran tata cara ritual keagamaan bangsa Mesir melalui relief-relief di kuil-kuil. Ritual keagamaan mereka dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu pemujan harian di kuil dan perayaan-perayaan pada hari-hari terentu yang berulang setiap tahun. Uniknya, tata cara persembahyangan mereka mirip dengan tradisi Veda.

Sebelum memasuki kuil dan melakukan pemujaan, pendeta Mesir Kuno harus mandi dan memakai kain linen putih yang tidak dijahit. Mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian yang kotor dan pakaian yang terbuat dari bulu binatang. Dalam Veda, tata cara seperti ini masih berlaku di mandir-mandir Hindu di seluruh dunia. Lebih lanjut lagi, setiap orang yang melihat arca dewa-dewa Mesir di kuil harus bersujud dengan ‘mencium tanah’ dan setelah itu berdiri dengan mengangkat-tinggi kedua tangan sambil memanjatkan doa-doa pujian. Ini mirip dengan sloka yang terdapat dalam Veda Bhavisya Purana, yang menyatakan:

“Barangsiapa yang bersujud di hadapan arca-Ku dan menyayikan lagu-lagu pujian di hadapan arca-Ku akan terbebas dari reaksi perbuatan berdosa.” Kitab Suci Veda memang menganjurkan umat untuk bersujud di hadapan arca dan menyanyikan lagu-lagu pujian.

Orang-orang Mesir Kuno pun memuja arca seperti umat Hindu. Pada zaman Dinasti Pertama (2950 tahun sebelum Masehi), arca dewa-dewa dan Tuhan diganti dengan style Mesir atas petunuk raja Menes. Pada saat itu, Mesir memulai sejarah barunya sebagai negeri berdikari setelah melewati sejenis ‘masa lalu yang suram’ yang tidak bisa dijelaskan oleh arkeolog maupun sejarawan karena terbatasnya bukti sejarah. Akan tetapi, simbol-simbol yang dipakai dalam arca dewa-dewa versi merka masih menandakan bahwa nun jauh sebelum itu, bangsa Mesir adalah pemuja dewa-dewa seperti Aditya (Surya), Candra, Sarasvati dan Laksmi.

Setiap subuh, para pendeta Mesir Kuno masuk ke dalam kuil lalu menyalakan dupa dan bunga untuk memuja arca mereka. Kemudian, arca diandikan dengan air yang didapat dari Sungai Nil atau dari sumur dekat kuil. Sementara arca dimandikan, makanan yang terdiri dari buah-buahan, kurma, madu, dan kue dipersembahkan. Pendeta Mesir Kuno tidak diizinkan mengkonsumsi daging. Tata car apemujaan arca ini mirip dengan yang ada dalam Kitab Suci Veda yang disebut arati, dengan mempersembahkan makanan, bunga, buah serta memandikan arca yang disebut upacara abhiseka.

Tujuan terakhir sistem kepercayaan Mesir adalah pergi kea lam di mana leluhur meeka tinggal. Sejalan dengan Kitab Suci Veda, teks-teks di kuil-kuil Mesir menyatakan bahwa roh berada di dalam jantung. Roh ini akan meninggalkan badan dengan dibungkus oleh beberapa lapisan halus, yang dalam Veda disebut sebagai suksma-sarira. Setelah sang roh mencapai tempat leluhur di alam Aaru, yang berada di underworld atau alam di bawah bumi.