Desir Hindu di Cakrawala Mesir Kuno (Bag. 2)

0
734
Di sana, roh pertama-tama akan diadili oleh Dewa Anubis dan roh yang saleh akan berhak betemu dengan Dewa Osiris di alam Aaru. Hal ini mirip dengan perjalanan jiwa kea lam Yama, dewa kematian, sebagaimana dijelaskan dalam Veda. Roh seseorang yang terikat oleh karma akan dilihat perbuaannya oleh Citragupta (yang lumrah disebut Sang Hyang Suratma) dan akan dibawa kehadapan Dewa Yamaraja. Jika sang roh terbukti saleh, dia akan dimasukkan ke kediaman Yamaraja di Pitraloka bersama leluhur-leluhur orang itu di masa lampau. Gambaran Dewa Osiris pun mirip dengan Dewa Yama, yaitu berupa seorang dewa yang membawa cambuk dan jerat (pasa).

Karena itu pula, raja-raja Mesir Kuno memuja bintang Sirius yang berdekatan dengan bintang Canopus karena menurut Veda, bintang Sirius dan Canopus adalah gerbang menuju Pitra-loka, kediaman Dewa Yama. Gerbang ini disebut pitri-yana. Kebalikan dari pitri-yana adalah devayana, jalan menuju planet surga para dewa di susunan planet atas yang ditandai oleh bintah Dhruva-loka (bintang kutub).

Pemujaan kepada Surya dan Cakra Sudarsana

Dari Dinasti Pertama hingga keruntuhannya, bangsa Mesir Kuno memuja Dewa Mahatari, Ra. Matahari dinyatakan adalah salah sau mata dari Ra. Dalam Kitab Rigveda, matahari dinyaakan pula sebagai salah satu mata dari wujud semesta Tuhan Sri Visnu, dan dalam Kitab Purana dinyatakan bahwa salah satu ekspansi Tuhan Sri Visnu yang disebut surya Narayana adalah dewata penguasa matahari. Para leluhur Nusantara sendiri pun mewariskan kata ‘matahari’ unuk memingatkan kia bahwa matahari memang adalah mata milik Tuhan Sri Hari (nama lain Tuhan Sri Visnu).

Bukti pemujaan kepada matahari pada zaman Mesir Kuno adalah berabagai relief matahari yang ditemukan di Kota Heliopolis. Heliopolis sendiri berarti ‘kota matahari.’ Di kota ini ditemukan monument pemujaan kepada matahari yang disebut obelisk – sebuah menara persegi panjang dengan ujung berbentuk limas. Menurut sumber teks-teks Mesir Kuno, obelisk melambangkan pancaran sinar matahari.

Miripnya, dalam Kitab Suci Veda, bentu yang persis sama dengan obelisk juga disebutkan. Bentuk obelisk ini adalah bentuk arca Sudarsana-cakra, senjaa cakra rohani milik Tuhan Sri Krishna (Visnu). Di mandir-mandir Hindu, arca Sudarsana-cakra secara umum terdiri atas dua wujud. Pertama, ara ini berwujud lingkaran dengan delapan jeruji yang biasanya distanakan di atap mandir. Karena itu, di setiap mandir (pura) Hindu terdapat cakra di atap kubahnya.

Arca Sudarsana-cakra jenis kedua berwujud persis sama dengan Obelisk dan dipuja dalam pura (mandir) bersama arca-arca yang lain. Arca jenis kedua ini distanakan berdampingan dengan arca Tuhan Sri Krishna dalam wujud sri Jagannatha (Bhattara Jagannatha) karena Cakra Sudarsana adalah senjata Beliau. Dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam dinyatakan:

ambarīṣa uvāca
tvam
agnir bhagavān
sūryas tvaṁ somo jyotiṣāṁ patiḥ
tvam āpas tvaṁ kṣitir vyoma
vāyur mātrendriyāṇi ca

Maharaja Ambarisa memuji, “Wahai Sudarsana cakra, wahai senjata Tuhan Sri Hari! Dirimu adalah api dan juga matahari. Engkau adalah bulan, sumber daris egala cahaya. Engkau adalah air, bumi dan angkasa. Engkau adalah udara, engkau adalah lima obyek indria [suara, sentuhan, bentuk, Maharaja Ambarisa memuji, “Wahai Sudarsana cakra, wahai senjata Tuhan Sri Hari! Dirimu adalah api dan juga matahari. Engkau adalah bulan, sumber daris egala cahaya. Engkau adalah air, bumi dan angkasa. Engkau adalah udara, engkau adalah lima obyek indria [suara, sentuhan, benuk, rasa dan bau], dan dirimu juga adalah indria-indria itu.”asa dan bau], dan dirimu juga adalah indria-indria itu.”

Dari ayat di atas dapat kita lihat bahwa matahari adlah represenasi atau ekspansi dari Cakra Sudarsana. Dalam Kitab Veda Brahma Samhita, Bhagavad-gita dan Srimad Bhagavatam juga dinyatakan bahwa matahari adalah lambing waktu, dan waktu itu sendiri menjerat seluruh alam semesta dan berporos pada Sudarsana Cakra milik Tuhan yang senantiasa berpuar. Mirip dengan hal ini, bangsa Mesir Kuno memuja Obelisk sebagai bentuk matahari, yang adalah ekspansi dari Cakra Sudarsana dalam peradaban Veda.

Ini satu lagi bukti yang menghubungkan bahwa bangsa Mesir Kuno, nun jauh sebelum sejarahnya sebagai bangsa berdikari, adalah bangsa yang menganut ajaran Veda.

Pemujaan Tuhan Jagannatha-Baladeva-Subhadara

Bangsa Mesir Kuno memuja ‘dewa’ tertinggi yang disebut Amun-Ra. Sejak zaman Dinasi Pertama, Amun-Ra dipuja sebagai yang tertinggi di antara semua dewa dalam panteon Meseir Kuno. Amun dinyatakan sebagai pencipta seisi alam, dan dipuja bersama-sama dengan dewi Mut dan Dewa Khonsu.

Menurut literature Mesir Kuno dan gambaran tentang Dewa Amun dalam kuil-kuil di Kota Karnak, Amun dilukiskan sebagai dewa tampat berwarna biru, memakai perhiasan emas dan bermahkota bulu burung unta, sedangkan Dewi Mut digambarkan berwarna merah, dan Dewa Khonsu diuraikan sebagai dewa yang berwarna putih. Ketiga dewa ini adalah pujaan utama masyarkat Mesir Thebes hingga abad ke-17 Masehi saat Mesir ditaklukkan oleh Hyksos dari Romawi.

Jika kita bertanya kepada umat Hindu, siapakah yang memiliki kulit berwarna biru, tampat serta memakai mahkota yang terbuat dari bulu burung? Semua pasti menjawab Tuhan Sri Krishna. Dalam Kitab Suci Veda Brahma Samhita 5.30, badan Tuhan diuraikan sebagai berikut:

veṇuṁ kvaṇantam aravinda-dalāyatākṣam-
barhāvataṁsam asitāmbuda-sundarāṅgam
kandarpa-koṭi-kamanīya-viśeṣa-śobhaṁ
govindam ādi-puruṣaṁ tam ahaṁ bhajāmi

“Aku memuja Govinda, tuhan penguasa tertinggi, yang sangat ahil memainkan seruling-Nya. Mata-Nya merekah bagaikan kelopak bunga Lotus, dan kepala-Nya terhias dengan bulu ekor berak. Badan-Nya yang sangat tampan dan warna menyerupai awan yang kebiruan mengalahkan ketampanan berjuta-juta dewa asmara.”

Dalam Kitab Suci Veda dinyatakan bahwa Tuhan Sri Krishna turun ke muka bumi pada 3227 sebelum Masehi, dan pemujaan kepada Dewa Amun di mesir dikethui dimulai pada Dinasti Pertama pada 2950 sebelum Masehi. Jadi, tradisi pemujaan kepada Amun dimulai setelah disabdakannya Kitab Suci Veda Bhagavad-gita dan setelah berakhirnya perang Mahabharata. Kata “Amun” dalam huruf Hiroglif tertulis dengan ‘ymn’, yang mengingatkan kita pada kata ‘Yamuna,’ tempat Tuhan Sri Krishna menghabiskan masa kanak-kanaknya di Vrindavana. ‘Amun’ juga terkait dengan kata ‘Amusman,’ yang merupakan nama lain dari Visnu, atau Sri Krishna.