Desir Hindu di Cakrawala Mesir Kuno (Bag. 2)

0
734
Mungkin bukti ini belum cukup. Dalam sistem kepercayaan Kuno, Amun senantiasa dikaitkan dengan Horus, dewa yang berwujud burung Falcon (sejenis elang). Ini cocok dengan uraian Veda bahwa Tuhan Sri Visnu (Krishna) senantiasa menunggangi Garuda. Lebih jauh lagi, dlam lembaran Papirus Boulaq dari tahun 1552-1295 sebelum Masehi tertulis bahwa Amun adalah: “penguasa alam semesta yang berada dalam setiap atom, yang dipuja oleh dewa-dewa disurga. Dia adalah pencipta tertinggi dan segala sesuatu terjadi atas kehendaknya. Dia adalah pelindung orang-orang yang berserah diri.”

Sebagai perbandingan, kita bisa lihat uraian Tuhan Sri Krishna sendiri dalam Kitab Suci Veda Bhagavad-gita 10.8:

“Aku adalah sumber dunia material dan rohani. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijaksana yang mengerti ini tekun dalam pengabdian bhakti kepada-Ku dan memuja-Ku dengan sepenuh hati.” (Veda Bhagavad-gita 10.8)

“Wahai Putra Kunti, ketahuilah bahwa seluruh jenis makhluk diciptakan melalui proses kelahiran di alam material ini, dan Aku-lah Ayah yang memberi benih.” (Veda Bhagavad-gita 14.4)

“Aku berada dalam hati setiap makhluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan bersal dari-Ku.” (Veda Bhagavad-gita 15.15)

Jika kita lihat sejarah Mahabharata, raja-raja di dunia setidaknya pernah mengunjungi India (Bharata-varsa) dua kali. Pertama, raja-raja tersebut berkunjung pada saat upacara Rajasuya yang digelar oleh Maharaja Yudhistira. Kemudian, berselang sekitar 20-an tahun, raja-raja tersebut kembali ke Bharata-versa untuk bertempur dalam medan perang Kuruksetra.

Menurut uraian Mahabharata dan kitab-kitab Purana, pada saat upacara Rajasuya, semua raja di muka bumi setuju bahwa Sri Krishna patut dihormati terlebih dahulu karena Beliau adalah Visnu yang asli, Tuhan Yang Maha Esa. Dari uraian tersebut dapat kita peroleh asumsi bahwa bangsa-bangsa di dunia telah menjadi pengikut Veda sejah jauh sebelum turunnya Tuhan Sri Krishna di muka bumi ini.

Bukti lain dari Veda menyatakan bahwa ketika Tuhan yang sama turun sebagai Parasurama-avatara dan membantai para ksatria yang kejam, beberapa ras ksatria dari Bharata-varsa melarikan diri ke Pegunungan Kaukasus dan menurunkan bangsa baru di sana.

Dalam sejarah Veda, Tuhan Sri Krishna juga dipuja dalam bentuk Sri Jagannatha dari zaman Manu Svarocisa, seitar satu setengah milyar tahun lalu. Pemujaan itu masih ada hingga kini di Orissa. Setiap tahun, tia arca besar: Tuhan Sri Jagannatha, Sri Baladeva dan Dewi Subhadra diarak menggunakan kereta besar melalui jalanan umum di kota Puri, Orissa, India. Perayan ini dinamai Ratha Yatra. Jadi, pada zamn Mahabharata, perayaan Ratha Yatra telah ada, dan bahkan dinyatakan bahwa para Pandava sekali waktu berkunjung ke kota Puri untuk bersujud kepada arca Tuhan Sri Jagannatha, Baladeva dan Subhadra.

Satu setengah milyar tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah peradaban,– apalagi peradaban rohani Veda yang sejatinya kekal – untuk menyebar ke seluuh dunia. Ditambah denan pengaruh raja-raja Hindu yang suci dan sakti, kebudayaan rohani Veda tentunya cepat menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Mesir. Ketiga ‘dewa’ utama yaitu Amun, Mut dan Khonsu mirip dengan Sri Jagannatha, Baladeva dan Subhadara. Menurut Kitab Suci Veda, Sri Baladeva adalah Balarama, yang tiada berbeda dengan Ananta-sesa, naga yang menyangga alam semesta. Ananta-sesa ini adalah ekspansi dari Tuhan Sri Jagannatha (Sri Krishna).

Dalam kepercayaan Mesir, Dewa Khonsu dicirikan sebagai ‘ular besar yang mengaktifkan jagat raya pada saat penciptaan.’ Jadi, tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud Khonsu oleh bangsa Mesir adalah Sri Baladeva. Sementara itu, Dewi Mut dinyatakan sebagai manifestasi ibu alam semesta, dan dalam Veda, Subhadra-devi dinyatakan sebagai Yogamaya, tenaga rohani (sakti) Tuhan yang termanifestasi menjadi dunia rohani. Yogamaya ini juga disebut Mahalaksmi. Bayangan dari Mahalaksmi atau tenaga rohani ini adalah tenaga material yang menjadi cikal-bakal alam semesta materia ini. Tenaga material ini disebut Durga-devi. Jadi, Durga-devi adalah bayangan dari Laksmi-devi atau Subhadara-devi, ibu alam semesta.

Jika dalam tradisi Veda ketiga arca Jagannatha, Baladeva dan Subhadra diarak dengan kereta setiap tahun dalam upacara Ratha Yatra, maka ketgia ‘dewa’ Mesir ini diarak setiap tahun dalam Festival Opet. Prosesinya mirip dengan festival Ratha Yatra yang telah dilangsungkan selama milyaran tahun di Bharata-varsa.

Di zaman modern ini pun, festival Ratha Yatra, yang diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1967, kini telah menyebar ke seluruh negara besar di unia hanya dalam waktu 40-an tahun. Kita bisa lihat pula trend pada zaman dahulu, Ketika semua raja dunia setuju mengagungkan Tuhan Sri Krishna pada upacara Rajasuya, bagaimana bisa mereka tidak menerima dan merayakan festival kereta Ratha Yatra setiap tahun untuk menghormati dan mengingatnya? Dalam Kitab Suci Veda Bhavisya Purana dinyatakan:

“Walau dia lahir di keluarga rendah, jika dia mengikuti Arca Tuhan Sri Krishna (Jagannatha) Ketika diarak dalam kereta Ratha Yatra, dia akan mencapai kemewahan setara dengan Tuhan di dunia Rohani.”

“Orang yang menari di hadapan Arca-Ku sambal menyanyikan nama suci-Ku dengan riang, dosa-dosanya akan terbakar menjadi abu.” (Veda Dvaraka Mahatmya)

“Dengan menari dan bertepuk tangan di hadapan arca, segala dosa pada badan seseorang terbang menjauh seperti burung yang takut pada suara tepuk tangan seorang petani.” (Dvaraka Mahatmya)

Dari uraian ini jelaslah bahwa bangsa Mesir Kuno pernah sekali mengatur waktu menghirup napas kehidupan di cakrawala Hindu pada zaman Veda. Ketika orang-orang Mesir Kuno menatap matahari terbit, mereka setidaknya pernah berpikir bahwa di timur (India) itulah asal-mula Tuhan, dewa-dewa, leluhur dan agama mereka. Di sisi lain, umat Hindu yang kini mewarisi dan mempertahankan peradaban Veda ini sedikit-tidaknya kini mulai semakin menyadari bahwa peradaban Hindu begitu besar dan telah merasuki jiwa dan raga bangsa-bangsa di dunia dengan berbagai Pernik dan ragam yang indah dan harmonis. Berbanggalah menjadi Hindu dan berbanggalah memiliki Kitab Suci Veda.