Makhluk Halus

Sering kali kita mengalami kejadian aneh dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang pula kejadian-kejadian aneh itu melibatkan hal-hal mistik atau yang sering kita sebut sebagai makhluk dari alam lain. Ketika Anda sedang seorang diri di rumah, seseorang mengetuk pintu rumah Anda. Anda membuka pintu, tidak ada orag. Dalam kesempatan lain, ketika Anda sedang mengemudi, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat di depan Anda. Banyak dari kita mengaitkan segala nasib sial yang menimpa kita dengan keberadaan makhluk halus seperti itu, dan tidak sedikit pula yang bekerja sama dengan mereka demi keuntungan duniawi yang bersifat sementara. Bahkan, di beberapa tempat, makhluk-makhluk itu bahkan dipuja. Agama apa pun tentunya sangat melarang penujaan kepada hal-hal selain Tuhan, termasuk dalam Kitab Suci Veda. Akan tetapi, tidak ada salahnya kita mencoba mengenali sedkit bagaimana posisi makhluk-makhluk tersebut dalam khazanah semesta agar kita tidak salah menganggap mereka sebagai dewa, leluhur, atau bahkan Tuhan.

 

Memedi atau Wong Samar

Memedi atau wong samar adalah salah satu jenis makhluk halus yang terkenal di Pulau Bali. ‘Wong samar’ berarti ‘manusia yang tidak terlihat’ mencirikan bahwa makhluk ini mirip seperti manusia namun tidakkasat mata. Memedi adalah sejenis makhluk halus yang mendiami tempat-tempat angker seperti tebing, jurang, sungai-sungai, anak sungai, pohon-pohon besar, batu-batu besar dan sejenisnya. Makhluk ini dikenal suka menculi atau menyembunyikan manusia terutama anak-anak. Diyakini ada dua hal alasan mengapa memedi itu menyembunyikan manusia, yang pertama karena memedi itu menyukai manusia tersebut, dan yang kedua adalah karena factor usil semata (ingin mencari gara-gara) untuk meresahkan keluarganya. Umumnya yang disembunyikan itu adalah anak-anak, tapi tidak jarang juga yang disembunyikan adalah orang dewasa atau bisa jadi seorang kakek/nenek. Dari cara menyembunyikan umumnya juga ada dua cara: pertama adalah dengan membawa orang tersebut ke tempatnya (ke istananya), dan cara yang kedua adalah membiarkan orang tersebut beraktivitas seperti biasa namun dibuat seemikian rupa agar orang-orang (keluarganya) tidak bisa melihatnya. Biasanya agar tidak terjadi hal seperti itu, janganlah pergi ke tempat=tempat terpencil, hutan, tepi sungai atau jurang pada saat tengah hari, tengah malam, atau ketika matahari terbenam.

Saksi mata penculikan oleh wong samar bertebaran di sekujur Pulau Bali. Bahkan, ada anggota keluarga mereka yang tidak Kembali hingga kini karena sudah menjadi penduduk bangsa wong samar. Menurut penuturan berbagai saksi yang pernah diculik dan Kembali, alam yang dihuni bangsa memedi tidak memiliki malam ataupun siang hari. Dengan kata lain, suasana di tempat itu seperti sore hari. Beberapa saksi juga menyatakan bahwa di tempat itu tidak terlihatada matahari. Masyarakat memedi atau wong samar (kadang dibedakan, kadang disamakan) memiliki kekuatan mistik sehingga masyarakat awam kadang memuja mereka dengan memberikan persembahan secara teratur.

Sesuai dengan keterangan yang kita dapatkan dari Kitab Suci Veda Padma Purana, ada 400.000 jenis manusia dan makhluk yang mirip manusia. Berdasarkan ciri-ciri alam tempat tinggal para wong samar, kita dapat menyimpulkan bahwa tempat tinggal mereka adalah sistem planet patala-loka yang berada di bawah orbit bumi. Dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam, Skanda Kelima mengenai susunan planet di alam semesta dinyatakan bahwa sistem planet di bahwa bumi tidak menerima sinar matahari. Penduduk planet patala secara alami memiliki kekuatan mistik yang memungkinkan mereka datang dan pergi ke bumi dengan leluasa serta menciptakan keajaiban-keajaiban yang memukai manusia modern yang awam. Penduduk di sistem planet patala sangat tampan dan cantik, sehingga tidak jarang korban penculikan merasa sangat betah tinggal di sana dan enggan Kembali. Kisah serupa terdapat dalam legenda negeri Cina, di mana seorang pemuda masuk ke dalam sebuah gua dan tiba-tiba menghilang. Pemuda itu menembus jalan menuju alam patala dan bertemu wanita-wanita cantik yang membuatnya betah. Setelah beberapa hari, pemuda ini berniat untuk pulang dengan menelusuri jalan tempat dia datang. Ketika di akeluar dari dalam gua, pemuda ini terkejut karena ternyata waktu telah berlalu di bumi selama bertahun-tahun. Dalam Veda juga dinyatakan bahwa penduduk sistem planet patala mendapatkan cahaya dari permata-permata yang berada di kepala ular Anantasesa yang berbaring di dasar alam semesta dan menerangi dari segala sisi. Karena itu, penduduk planet patala tidak pernah mengalami malam hari.

Melihat uraian dari Kitab Suci Veda, kita kini tentu dapat lebih memahami bahwa para ‘wong samar’ adalah penduduk planet lain yang dimensinya kadang bersentuhan dengan bumi sehingga mereka dapat leluasa berada di bumi. Mengenai kekuatan mistik mereka, kita pun kini dapat memahami bahwa mereka tidak tergolong dewa, leluhur, apalagi Tuhan, namun makhluk hidup yang sama seperti kita. Dalam Kitab Suci Veda, terdapat kisah tentang seorang brahmana rakus yang sedang berkeliling untuk mencari apa pun yang bisa dimakan. Suatu ketika, brahmana ini melihat sisa persembahan (lungsuran) yang berserakan di tepi jalan. Karena lapar, dia langsung memakan sisa persembahan itu tanpa mengetahui persembahan itu ditujukan kepada siapa. Ketika hari kematiannya, brahmana ini diadili di hadapan Dewa Yamaraja. Yamaraja berkata, “Kau akan dilahirkan menjadi hantu!” Brahmana ini terkejut dan bertanya, “Apa kesalahan saya, Tuan? Setiap hari saya mengucapkan mantra-mantra Veda, melakukan korban suci dan hal-hal baik lainnya. Apakah kesalahan saya?” Yamaraja menjawab, ‘Karena kau memakan makanan sisa para hantu dan makhluk halus, maka kau terkena reaksinya sehingga kau harus dilahirkan menjadi hantu.”

Kisah dalam Kitab Suci Veda tersebut mengingatkan kita betapa berpengaruhnya makanan terhadap kehidupan kita. Karena itulah, Kitab Suci Veda menyatakan bahwa kita hendaknya memakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada tuhan (lungsuran atau prasadam). Para tetua kita sangat melarang kita memakan makanan yang belum dipersembahkan kepada Tuhan. Jika ada makanan lungsuran pun, orang tua kita zaman dahulu senantiasa bertanya, “Ini lungsuran dari mana?” agar tidak sampai memakan sisa persembahan hantu, buta kala, wong samara tau makhluk sejenis mereka.