Para astronom menamainya SN 1006, sebuah nama eksotis bernuasna futuristik yang ilmiah. Dalam kenyataannya, benda ini bukan buatan manusia dan tidak jugaa ada di masa kini. Dia adalah sebuah supernova,—bintang sekarat yang bersiap musnah dalam sebuah ledakan mahabesar yang menghancurkan dirinya sendiri. Ledakan ini begitu terang sehingga kecerahannya menandingi cahaya bulan purnama. Siapa sangka, bintang terang yang pecah menjadi debu ribuan tahun cahaya dari Bumi ini menjadi biang keladi pertumpahan darah sadis di Tanah Jawa, seribu tahun lalu.

supernova
Supernova adalah bintang yag mengalami fase akhir kehidupannya. Sebuah bintang menjelang mati pertama-tama akan mengambang menjadi bola helium merah raksasa, yang ukurannya jauh lebih besar. Kemudian dalam waktu kurang dari satu detik, bola cahaya merah itu menyusut menjadi sangat padat. Karena tekanan yang tinggi, bintang itu pun meledak menjadi sebuah supernova. Cahaya supernova sangat terang di langit malam. Para ilmuwan dengan mudah melacak keberadaan supernova di angkasa dari intensitas cahayanya.

Dalam Kitab Suci Veda pun dinyatakan bahwa tatkala alam sesmesta ini dilebur, matahari (yang adalah salah satu bintang) akan membesar menjadi bola merah raksasa dan menghancurkan semua kehidupan. Dalam hal ini, apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci Veda sama dengan perkiraan para astronom. Untungnya, matahari masih memiliki waktu hidup 150 milyar tahun lagi.

Apa itu SN 1006?

SN (singkatan dari Supernova) palign terang yang tercatat dalam secarah adalah SN 1006, sebuah bintang yang meledak di rasi Lupus. Rasi ini terletak di antara Scorpio dan Centaurus. Pada 30 April 1006, salah satu bintang di Rasi Lupus meledak dan menjadi sebuah supernova yang terangnya nyaris seterang bulan purnama. Dengan kata lain, pada malam hari tanggal 30 April sampai 1 Mei 1006 Masehi, langit malam menjadi terang seperti bulan purnama.

Pertanyaannya adalah, mengapa ilmuwan sampai mengetahui bahwa Supernova itu meledak tanggal 30 April hingga 1 Mei 1006 Masehi? Bukankah di tahun jadul itu belum ada teleskop dan satelit? Jawabannya ada pada radiasi. Ilmuwan mengukur radiasi bintang yang jatuh keBumi dan menemukan bahwa beberapa jenis partikel memiliki kandungan radiasi tinggi. Setelah dianalisis, keteahuanlah bahwa radiasi ini berasal dari sebuah bekas ledakan supernova di Rasi Lupus. Dengan perhitungan akurat, ditemukan bahwa radiasi ini berasal dari tahun 1006.

Ilmuwan dari Universitas Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa Supernova 1006 terjadi karena dua bintang kembar bertabrakan dan massanya membentuk sebuah ledakan besar. Hasil penelitian mereka dipublikasikan pada jurnal Nature.

Kemudian, para ilmuwan mencocokkan data satelit dengan naskah-naskah kuno dari berbagai bangsa. Ternyata bangsa-bangsa seperti Tiongkok, Arab, Jepang, Irak, Mesir dan Eropa memiliki catatan seragam mengenai ‘sebuah cahaya terang di langit malam tanggal 30 April 1006’. Di Tiongkok, catatan mengenai penampakan Supernova ini ada dalam catatan sejarah Song Shi (ditulis ulang tahun 1343), yan adalah catatan sejarah Dinasti Song (960-1279). Catatan kronikel ini adalah sejenis catatan babad milik bangsa Tionghoa. Menurut naskah Song Shi, cahaya Supernova itu berada di langit malam bagian selatan dan menyala terang di malam 30 April hingga 1 Mei 1006.

Astrolog Tionghoa Zhou Keming, yang hidup pada zaman Dinasti Song, mencatat cahaya Supernova ini dan menyatakan kepada kaisar Song bahwa ini adalah pertanda baik bagi neegeri. Entang karena kebetulan atau bagaimana, setelah Supernova ini muncul, Dinasti ini menjadi salah satu dinasti penting di Tionghoa.

Di Mesir, Supernova ini dicatat oleh Ali Ibnu Ridwan pada malam 30 April 1006. Dia menyatakan, “benda itu bercahaya terang sekali, jauh lebih terang daripada cahaya Venus Cahaya itu lebih terang daripada seperempat bulan purnama.” Beberapa astrolong Mesir kala itu menyatakan bahwa cahaya itu adalah pertanda buruk. Benar saja, tak lama setelah Supernva itu muncul, Mesir yang kala itu beradda di bawah kekuasaan Dinastis Fatimid mengalami kekeringan dan kelaparan.

Catatan serupa juga ditemukan di tanah Persia, dibuat oleh Ibnu Sina yang terkenal. Dia mencatat penampakan cahaya terang di langit selatan pada malam 30 April 1006, persis seperti catatan-catatan di belahan lain dunia. Sementara itu, catatan tahunan Gereja Katolik Santa Gall di Swiss meuat peristiwa yang sama di tanggal yang sama. Ini menyimpulkan bahwa penampakan Supernova tahun 1006 ini menjadi peristiwa global yang disaksikan oleh jutaan pasang mata manusia di berbagai negeri di zaman itu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here