Teknologi Canggih di Zaman Veda (Bag. 2)

0

relativitas-waktu
Relativitas Waktu

Perjalanan Luar Angkasa dan Relativitas Waktu

Teori relativitas Einstein menyatakan bahwa jika seseorang berada semakin jauh dari bumi, makan waktu di bumi akan berjalan semakin cepat. Ini dibuktikan oleh para astronot yang berada diluar angkasa. Manusia yang ada di bumi tidak merasakan pergerakan bumi, namun para astronot di luar angkasa dapat melihat bagaimana bumi bergerak pasa porosnya dan merasakan sehari hanya 45 menit.

Kitab Suci Veda mengisahkan hal serupa yang membuktikan bahwa perjalanan luar angkasa dan relativitas waktu juga dialami oleh manusia zaman dahulu. Dikisahkan pada Zaman Manu Svarocisa, ada seorang raja yang saleh bernama Indardyumna. Kejadian ini berlangsung satu setengah milyar tahun yang lalu, saat Raja Indradyumna pergi ke sistem planet teratas di alam semesta, Satyaloka, di lapisan sistem planet ketujuh untuk bertemu Dewa Brahma dengan menggunakan pesawat luar angkasa. Raja bermaksud mengundang Dewa Brahma untuk menjadi pendeta dalam upacara penstanaan arca Tuhan Sri Jagannatha di sebuah pura di wilayah kerajaannya di Utkala (kini Orissa, India bagian tengah). Di Satyaloka, raja hanya berbincang selams beberapa muhurta (satuan menit dalam Veda) bersama Dewa Brahma. Ketika ia kembali ke bumi, raja sangat terkejut karena ternyata ratusan mahayuga telah berlalu. Satu mahayuga setar dengan 4.320.000 tahun manusia, dan ratusan mahayuga setara dengan hanya beberapa menit di planet Satyaloka. Pura yang di bangun oleh Raja Indradyuma ajaibnya masih ada hingga kini dan di pelihara oleh keturunannya yang juga menjadi raja turun-temurun. Ini membuktikan bahwa manusia telah ada sejak milyaran tahun lalu menurut otoritas Veda. Bukti nyatanya, setiap tahun arca Tuhan Sri Jagannatha yang bersemayam di dalam pura tersebut diarak ke jalan raya dengan menggunakan kereta ini disebut Upacara Ratha Yatra, yang merupakan upacara yang dimulai sejak zaman raja Indradyumna. Bayangkan betapa agungnya peradaban Hindu yang telah maju sejak satu setengah milyar tahun lalu!

Pesawat Udara

Pesawat udara yang bisa terbang mundur, bisa mendarat di mana saja dan tanpa suara rasanya sulit dibayangkan, namum Ravana sang raja iblis punya satu unit. Pesawat dalam Veda dinamai Vimana, dan miliki Ravana disebut Puspaka Vimana. Ketika Ravana menculik Ibu Sita, Ravana menggunakan pesawat rampasan ini. Sesungguhnya, pesawat ini adalah miliki saudaranya, yaitu Kuvera, yang memihak para dewa. Ravana merampas kerajaan saudaranya dan tak ketinggalan pesawat pribadinya. Kini, tempat di mana pesawat Ravana ditempatkan disebut Waragantota, di wilayah Sri Lanka. Umat Hindu bisa berkunjung ke sana kapan saja dan melihat bagaimana miniatur pesawat itu. Tak ketinggalan juga, pusat servis dan maintenance pesawat itu pun masih tersisa hingga kini di Sri Lanka.

Weather Control (Pengendali Cuaca)

Baru-baru ini pemerintah kembali mengeluatkan dan besar untuk membuat hujan buatan, bubuk garam super halus ditebarkan di angkasa sehingga molekul-moleku air akan terikat oleh garam dan menjadi cukup berat untuk jatuh menjadi hujan. Di Amrika Serikat lebih canggih lagi. Teknologi HAARP (High-Frequency Active Auroral Reseach Program) yang berpusat di Alaska adalah proyek pengendali cuaca dan iklim milik Amerika Serikat. Alat ini dapat memancarakn gelombang berfrekuensi ultra tinggi untuk memenaskan ionosfer dan membuat cuaca apa saja
yang dinginkan di musim apa saja, termasuk membaut hujan dan badai.

Pada Zaman Mahabharata, cuaca dikendalikan hanya dengan mantra. Ketika para Pandava diasingkan ke hutan dan harus hidup dalam penyamaran, Arjuna beberapa kali menggunakan anak panah yang berisi dengan kekuatan mentra Veda untuk mengatur cuaca. Suatu hari, agar mereka lebih mudah menyelinap, Arjuna menebakan panah kelangit untuk membuat cuaca berkabut tebal. Di waktu lain, ketika kelima Pendava membangun kerajaan di tanah tandus Kandavaprastha ( yang kemudia menjadi Indraprastha), Arjuna membuat hujan dengan menembakan panahnya ke langit.

Dalam Kitab Veda Srimad Bhagavatam, Skanda kelima dikisahkan tantang Maharaja Priyavrata, putra Manu Svayambhuva, yang memerintah 2 miliyar tahun lampau. Maharaja Priyavrata membuat musim semi di belahan bumi selatan dengan cara menaiki kereta emasnya yang bersinar secemerlang matahari. Ketika matahari bergerak ke arah utara (terjadi pada bulan Januari hingga Juli), belahan bumi selatan menjadi dingin dan suram. Maharaja Priyavrata prihatin akan nasib belahan selatan bumi sehingga beliau menaiki keretanya hingga orbit meatahari dan membariakn kehangatan dibelahan bumi selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here