Teknologi Canggih di Zaman Veda (Bag. 1)

0

Jika kita meneliti lebih lanjut dalam Kitab Suci Veda, kita akan menemukan bahwa kelihatannya orang-orang hidup dengan sangat sederhana pada masa lalu. Akan tetapi, kemajuan peradaban manusia tidak dilihat dari seberapa banyak komputer yang diproduksi pabrik atau semaju apa teknologi layar sentuh, namun dilihat dari seberapa mudah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara-cara yang tidak melanggar prinsip-prinsip keagamaan. Sebagai contoh, kita manusia modern terlihat sangat lihai dalam menciptakan alat-alat yang canggih, namun ketika alat-alat itu rusak, kita mulai kebingungan karena banyak sampah elektronik yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Ketika seluruh dunia bangga dengan produksi mobil mewah yang meningkat semua orang mulai ketakutan ketika cadangan minyak bumi dikabarkan akan habis. Ketika kita semua bangga dengan rumah yang mewah dan barang-barang elektronik yang super canggih, kita mulai kebingungan ketika ada pemadaman listrik. Jadi, kemajuan teknologi modern bisa dikatakan mirip seperti membangun sebuah istana pasir yang akan hancur diterjang satu ombak saja.

Teknologi pada Zaman Veda sedikit berbeda. Teknologi pada masa itu bersumber dari Kitab Suci Veda yang diwahyukan oleh Tuhan sendiri. Jadi, teknologi semacam itu dari sabda Tuhan, dirancang oleh Tuhan dan digunakan untuk kepuasan dan keingian mulia Tuhan demi kesejahteraan segenap makhluk hidup, tentunya dengan memperhatikan keseimbangan alam. Ketika menusia diajarkan menciptakan sesuatu, manusia juga diajarkan cara mengembalikan pada alam (daur ulang atau recycling process). Sebagai contoh, ketika Arjuna dan Asvatthama sama-sama mengeluarkan senjata nulkir (yang disebut Brahmanastra) melalui kekuatan mantra, Arjuna yang menguasai cara memebatalkan reaksi nuklir berhasil menarik dan meredam senjatanya, namun Asvatthama yang memiliki pengetahuan yang kurang lengkap tidak bisa menarik senjata nuklirnya sehingga akhirnya mencederai bayi dalam kandungan Uttari. Coba kita bandingankan, hingga saat ini kita belum bisa meredakan reaksi nuklir Fukushima yang menelan korban jutaan manusia dan merusak ribuan hektar alam, walaupun kita memiliki teknologi yang canggih.

warp tech

Teknologi WARP (Lompatan Ruang Waktu)

Setiap orang yang pernah menonton film fiksi ilmiah Star Trek pasit tekagum-kagum dengan teknologi Alcubierre Warp Drive, atau disingkat AWD atau Warp saja. Teknologi ini, yang dipasang di pesawat membuat pesawat berserta awaknya bisa melaju hingga 8 kali kecepatan cahaya dan bisa mencapai sistem planet yang jauh hanya dalam waktu sepuluh menit. Teknologi Warp kini sayangnya hanya ada dalam film, namun Kitab Suci Veda berkali-kali mengemukakan tentang bukti penggunaan teknologi pada Zaman Veda

Dalam Kitab Veda Mahabharata, dikisahkan ketika Tuhan Sri Krishna mengendarai keretanya dari Mathura ke Dvaraka, Beliau menempuh jarak 5000 kilometer hanya dalam waktu satu malam saja. Sedangkan jika kita pada zaman modern ini menempuh jarak yang sama dengan kereta api (yang tentu saja jauh lebih cepat daripada lima ekor kuda diikat untuk menarik satu kereta), perlu waktu dua hari untuk sampai ke Dvaraka dari Mathura.

Dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam, dikisahkan suatu ketika Arjuna berniat memenuhi permintaan seorang brahmana yang kehilangan anaknya. Brahmana itu ingin anaknya kembali karena telah hilang ketika bermain. Arjuna mengendarai keretanya dan mencapai sistem planet surga hanya dalam beberapa saat saja. Kemudian, pada hari yang sama, Arjuna kembali ke bumi dan langsung berangkat menuju sistem planet Patala yang berada pada di bawah orbit tata surya kita.

Teleportasi

teleportation
Teleportasi

Kembali ke film Star Trek, satu lagi teknologi yang mengesakan adalah teleportasi. Bayangkan suatu hari Anda sedang berpergian jauh dan kelaparan. Anda membuka komputer tablet Anda dan menekan tombol teleportasi. Tiba-tiba, makanan yang ada di dapur Anda pindah dan berada dihadapan Anda. Atau, ketika Anda merindukan ibu Anda di negeri korea yang jauh, Anda hanya perlu menekan tombol teleportasi dan dalam waktu beberap detik, Anda sudah berada di sana.

Dikisahkan dalam Mahabharata, ketika kota Suci Dvaraka selesai dibangun oleh Visvakarma, semua penduduk Mathura dipindahkan ke kota itu hanya dalam waktu satu malam. Demi menghindari pertumpahan darah di kalangan rakyat yang tak bersalah baik dari pihak Mathura maupun dari raja Jarasandha yang jahat, Kerajaan Mathura memutuskan untuk pindah dan membuka lahan baru yang aman. Tuhan Sri Krishna memilih tempat di tengah Samudera di bagi barat Bharata-varsa. Sebuah pulau indah diciptakan di tengah lautan yang kini dikena dengan nama Laut Arab, dan Visvakarma, arsitek dan teknisi dari planet surga diutus untuk membangun kota. Balairung Sudharma, yang seluruhnya terbuat dari emas, ganding, permatam kristal dan marmer, diturunkan dari kerajaan surga ke tengah-tengah kota suci Dvaraka.

Ketika kota Dvaraka siap huni, Raja Ugrasena berserta para petinggi kerajaan dihadapkan dengan permasalahan bagaimana memindahkan jutaan penduduk Mathura ke sebuah pulau yang dikelilingi lautan. Pada suatu malam, ketika seluruh penduduk Mathura tengah tertidur, Tuhan Sri Krishan memindahkan seluruh penduduk dengan hanya satu jentikan jari. Semua penduduk, perabotan dan binatang peliharaan lanyap dari Mathura malam itu dan ketika pagi menyongsong, meraka telah bangun di ranjang dan rumah yang baru di Dvaraka. Mungkin kita berargumen karena hal itu dilakukan oleh Tuhan, dewa atau makhluk bukan manusia, namun ketika perang Mahabharata, Arjuna pun memanggil senjata-senjata utamanya dengan teknologi teleportasi, bisakah kita membayangkan sebuah kereta kuda kecil yang mengangkut begitu banyak busur, anak panah, tombak, tameng dan pedang yang dapat meledak jika satu selongsong panah biasa dapat memuat hingga dua puluh anak panah, maka perang antara Arjuna dengan Karna hanya akan memakan waktu sepuluh menit, dan perang tanding ini tidak akan tercatat dalam sejarah Veda sebagai salah satu duel paling menegangkan dengan senjata-senjata supercanggih. Jadi, baik Arjuna maupun Karna memanggil senjata-senjata mereka yang di taruh di suatu tempat lain dan menggunakannya hanya pada saat-saat kritis. Dalam Mahabharata dinyatakan, karena senjata-senjata tersebut bersifat halus dan suci, sebelum memanggil, para ksatria itu menyucikan diri dengan acamana (berkumur dan meminum air suci dari telapak tangan) dan mengucapkan mantra penyucian. Ketika mantra diucapakan, pup! Senjata yang bersemayam di tempat lain langsung berada di genggaman mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here