Wanita Hindu & Warisan

0
188

Hak waris bagi garis keturunan dari pihak laki-laki telah menjadi paradigma kultural yang populer. Dalam berbagai kebudayaan di dunia, anak laki-laki menjadi kebanggaan keluarga karena akan meneruskan tradisi dan warisan ke ambang generasi selanjutnya.

Stereotype ini belakangan telah berkembang menjadi sebuah vested intereset yang lebih mengedepankan peran gender dominasi versus resesif daripada moralitas dan keadilan yang sesungguhnya.

Apa yang akan terjadi apabila suatu keluarga tidak memiliki anak laki-laki? Siapakah yang berhak sebagai ahli waris? Bagaimana Veda melindungi hak-hak kaum wanita dalam hukum waris.

Keadilan menurut kodrat

Veda berarti ’ilmu pengetahuan sempurna’. Pengetahuan yang sempurna hanya bisa diturunkan dari sumber yang sempurna. Tuhan Sri Krishna bersabda, vedais ca sarvam aham eva vedyah – Aku adalah yang membuat Veda, dan Akulah tujuan yang harus diketahui apabila seseorang mempelajari Veda (Veda Bhagavad-gita 15.15).

Veda yang kekal diturunkan untuk menuntun umat manusia dalam jalan yang benar di hadapan Tuhan, – jalan tanpa perbuatan yang salah atau berdosa. Apabila ada yang berjalan dalam jalan pebuatan berdosa, itu berarti ia telah menghalangi tujuan kehidupannya sendiri untuk mencapai tujuan yang tertinggi, moksa, pulang kembali ke kerajaan Tuhan melalui jalan pelayanan cinta bhakti rohani.

Dalam hukum Veda, laki-laki dan perempuan mendapatkan hak dan kewajiban yang berbeda sesuai sesuai dengan kodrat alami mereka. Kalau dikatan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, ini tidak berarti sama persis. Apabila hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita sama persis, maka kodrat alami keduanya hilang dan menyalahi hukum semesta.

Pada zaman Kaliyuga ini, ide-ide yang menentang kodrat alam terus-menerus dibisikkan oleh kali-purusa (kepribadian Kali) agar setiap orang cenderung melakukan perbuatan yang salah. Di zaman ini, apa yang namanya kesetaraan gender telah menjelma menjadi kenyataan mengerikan di mana laki-laki dapat hamil dan melahirkan, dan wanita bisa berketurunan tanpa bantuan laki-laki dengan cara-cara buatan. Meskipun canggih secara teknologi, perbuatan semacam itu bertentangan dengan kodrat manusia.

Laki-Laki dan Perempuan dalam Hukum Veda

Hukum Veda bukanlah kumpulan dogma yang buta. Apabila dinyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kodrat yang berbeda, maka berdasarkan kodrat alam ini manusia diarahkan dalam aturan-aturan Veda untuk maju dalam jalan keinsafan diri. Ini adalah jalan yang ilmiah, alami dan rohani pada saat yang bersamaan.

Hukum-hukum ini melibatkan tidak hanya kenyataan yang dapat dirasakan indera manusia, namun mencakup kesunyataan yang lebih tinggi dan koneksi halus antara komponen-komponen alam, makhluk hidup dan Tuhan sebagai penguasa keduanya.

Kitab Suci Veda Bhagavata Purana, yang adalah galitam phalam – buah matang seluruh perbendaharaan pengetahuan Veda, menjelaskan bahwa wanita sesungguhnya berasal dari bagian badan terbaik dari laki-laki. Karena itulah wanita merupakan bagian tak terpisahkan dari laki-laki. Apabila hak dan kewajiban yang sama ditimpakan kepada wanita, itu berarti menolah kodrat mereka yang pada dasarnya berbeda.

Setiap orang diberi kepuasan masing-masing sesuai dengan kodratnya. Maka dari itu, kaum wanita melaksanakan tugas sebagai seorang ibu yang melahirkan dan menyusui anaknya, sementara itu laki-laki melakukan tugas sebagai ayah yang mengarahkan keluarganya menuju ke jalan yang rohani.