Zaman Dinosaurus Menurut Veda

0
1513

Adanya dinosaurus tidak bisa dipungkiri karena temuan fosil telah menunjukkan bahwa di masa lampau hewan raksasa tersebut memang pernah ada. Akan tetapi, yang menyebabkan spekulasi adalah ketika para ilmuwan mencoba merekayasa bentuk asli hewan tersebut dengan gabungan antara sains, seni dan tentu saja, spekulasi. Fosil-fosil yang ditemukan tidak seluruhnya lengkap sehingga ilmuwan harus berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan. Karena yang selama ini ditemukan hanya tulang-belulang, tiada yang tahu pasti bagaimana bentuk asli hewan tersebut. Sebenarnya, kapan hewan itu hidup dan apa penyebab kepunahannya? Semua itu dijawab dengan indah dan cerdas dalam Kitab Suci Veda Srimad Bhagavatam.

dinosaurus

Dinosaurus Menurut Para Ahli Geologi.

Menurut ilmu geologi modern, dinosaurus adalah kadal raksasa yang hidup pada Era Mesozoikum, sekitar 200 hingga 65 juta tahun sebelum masehi. Zaman Mesozoikum diagi menjadi tiga zaman yaitu Trassik, Jurasik, dan Kretaseus (Zaman Kapur). Lebih lanjut lagi, para ahli geologi yang meneliti unsur dan lapisan tanah serta mengkorelasikannya dengan fosil-fosil yang ditemukan menyimpulkan bahwa mansuia tidak pernah hidup berdampingan dengan dinosaurus. Menurut para ahli geologi, manusia baru muncul pada 2 juta tahun lalu pada Zaman Pleiosen, sedangkan dinosaurus telah punah pada akhir zaman kapur, sekitar 65 juta tahun silam. Akan tetapi, pada 1986 di Amerika Selatan ditemukan sebuah fosil jejak sepatu yang berumur sekitar 100 juta tahun. Penemuan ini mengagetkan ilmuwan dan membuat teori dinosaurus yang tak pernah hidup berdampingan dengan manusia mulai goyah. Kemudian ditemukan pula fosil jari manusia seukuran mansuia modern berusia lebih dari 100 juta tahun.

Doktor Brosshil, Ketua Fakultas Geologo, Institut Berry, Kentucky, Amerika Serikat pada tahun 1938 mengumumkan bahwa ia menemukan 10 jejak binatang yang menerupai manusia di karang pasir pada zaman karbon. Zaman Karbon adalah zaman yang mendahului era dinosaurus, sekitar 300 juta tahun dari sekarang. Di tempat lain di Amerika, ditemukan pula jejak kaki manusia berusia 270 tahun yang berasal dari Zaman Perm, setelah Zaman Karbon. Misteri ini berlanjut. Penelitian seterusnya kembali mengungkap beberapa jejak manusia yang memakai alas kaki, yang berusia sekitar 300 juta tahun. Di salah satu kepingan fosil sandal manusia tersebut, terdapat binatang trilobite yang berbentuk seperti sisir dua sisi. Binatang air ini diketahui hidup pada Zaman Devon, yang berdekatan dengan Zaman Karbon.

Para ilmuwan memperkirakan usia fosil dengan Teknik penanggalan karbon (carbon dating), yaitu dengan meneliti atom-atom karbon yang masih utuh pada sebongkan spesimen fosil. Cara ini terbukti lebih akurat dibandingkan dengan metode konvensiolan dengan mengkolaborasikannya dengan lapisan tanah. Penemuan terheboh akhirnya berada di Ica, sebuah desa di utara Nasca, Republik Peru. Di desa ini terdapat museum batu yang memiliki koleksi lebih dari 10.000 batu misterius yang berukiran gambar-gambar aneh. Ilmuwan yang meneliti bebatuan ini terkejut karena bebatuan yang berusia jutaan tahun ini memuat gambar pembedahan dan akupuntur. Ini sungguh mengejutkan para ilmuwan.

Jika kita sering berselancar di internet, kita akan menemukan banyak informasi baru tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bagaimana para ilmuwan telah menemukan temuan-temuan baru yang ternyata bertolak belakang dengan teori-teori yang selama ini dikenal manusia. Ketika ada temuan baru yang berbeda dengan teori, maka teori akan jatuh dan diganti dengan teori baru. Dalam Kitab Suci Veda, jalan pengetahuan seperti ini disebut avaroha-pantha, atau sistem bottom-up. Jadi, dalam jalan avaroha-pantha, manusia mencari kebenaran dengan cara mengumpulkan bukti-bukti dan observasi, mengambil kesimpulan, merumuskan teori, dan mencari pengetahuan baru berdasarkan teori. Jika temuan yang didapat berbeda, teori akan jatuh dan teori baru dirumuskan. Dengan jalan pengetahuan ini, kebenaran akan sebab-musabab jagad raya dan isinya akan memerlukan waktu lama untuk menjawab. Karena itu, Kitab Suci Veda menawarkan jalan pengetahuan yang kedua, yaitu aroha-pantha, yaitu dengan cara menerima pengetahuan yang utuh dari otoritas atau penguasa. Mungkin terdengar sedikit metafisik, namun teori-teori ilmuwan modern pun membutuhkan ‘khayalan intelek’ untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang alam dan isinya.